Empat Hari Melintasi Laut: Perjalanan Menjadi Pendidik di Kabupaten Maluku Barat Daya

·Bacaan 14 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Rezha Rizqy Novitasary

Perjalanan terbaik yang pernah saya lewati berlangsung pada pertengahan tahun 2014. Sudah lama sekali memang, hampir tujuh tahun yang lalu. Namun, pengalaman itu tetap menjadi kenangan terbaik saya hingga saat ini, bahkan juga selamanya.

Waktu itu, saya baru saja menyelesaikan studi saya. Saya menempuh kuliah di jurusan Pendidikan Biologi Unesa. Tentunya, masa depan sebagai seorang gurulah yang paling memungkinkan untuk saya kejar. Namun, saat itu saya belum memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang guru. Saya memang mengirim lamaran kerja ke beberapa sekolah swasta, sekadar karena saya sadar ijazah sebagai seorang pendidiklah yang saya miliki.

Entah memang sudah Kuasa Tuhan atau bagaimana. Dari belasan surat lamaran yang saya kirimkan, tak satu pun yang lolos hingga tahap akhir. Saya sempat putus asa karena saat itu saya sangat butuh pekerjaan.

Menjadi Pendidik

Ilustrasi | pexels.com/@louis-bauer-79024
Ilustrasi | pexels.com/@louis-bauer-79024

Menjelang tahun ajaran baru, saya belum mendapat pekerjaan tetap di Kota Surabaya. Keseharian saya hanyalah sebagai guru les yang mulai bekerja di sore hari. Hingga akhirnya, saya mendengar info pembukaan pendaftaran Guru SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah 3T: Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kelak, para Guru SM-3T tersebut bakal ditempatkan di daerah-daerah tertinggal yang tersebar di beberapa provinsi seperti Daerah Istimewa Aceh, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Kalimantan, dan Papua. Mereka bakal mengajar di daerah tersebut selama satu tahun lamanya.

Saya yang pada dasarnya suka berpetualang, akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan diri pada program tersebut. Pada saat itu, saya berpikir kapan lagi ada kesempatan untuk berangkat ke daerah-daerah lain di Indonesia secara gratis, dibayar pula. Sama sekali belum terbersit niat di dalam hati saya untuk tulus mengabdi dengan mengajar para murid yang berada di pelosok negeri.

Saya mulai mengikuti tes dan meminta izin kepada kedua orang tua saya. Meski sempat ragu dan khawatir, akhirnya ibu mengizinkan saya. Ayah lebih dulu mengizinkan, mengingat saya selama ini telah bisa menjaga diri dengan baik saat melakukan berbagai kegiatan di alam seperti mendaki gunung, susur gua, dan panjat tebing.

Meski sempat muncul kekhawatiran, akhirnya saya bisa lolos hingga tahap akhir. Saya melangkahkan diri memasuki ruang pengarahan dengan percaya diri. Saya merasa saat itu akan memulai cerita sebagai seorang petualang di pelosok Indonesia.

Namun, saya melongo saat mengikuti pengarahan tahap demi tahap. Ada sesuatu yang meletup di hati saya saat panitia menayangkan video singkat tentang kondisi di sana. Saya melihat murid-murid berseragam merah putih dengan telanjang kaki dan sebiji buku di tangan kanan berlari menyongsong gurunya yang datang. Guru yang disorot dalam kamera tersebut adalah peserta SM-3T di angkatan sebelumnya. Tampak sekali keterbatasan dari fasilitas pendidikan yang ada di sana. Namun, senyum cerah para bocah berseragam merah putih itu sama sekali tak menggambarkan keadaan tersebut.

Memulai Perjalanan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Natdanai+Pankong
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Natdanai+Pankong

Setelah mengikuti pengarahan dari panitia, hati saya mulai bergejolak. Saya sempat berdiri di balkon gedung yang menghadap telaga kampus. Dalam hati saya kembali menata niat. Perjalanan ini sama sekali bukan bertujuan untuk berpetualang semata. Perjalanan ini akan membawa tujuan pentingnya: mendidik bocah-bocah pelosok dengan senyum lebarnya itu.

Semua peserta yang lolos mengikuti prakondisi selama dua minggu di Kodikmar. Di bawah pendidikan para TNI Angkatan Laut itulah, fisik dan mental kami ditempa. Berkali-kali mereka menguatkan hati kami untuk menjalankan tugas penting tersebut. Melalui didikan Bapak-Bapak TNI itulah, jiwa nasionalisme dan cinta tanah air kami kembali dipupuk.

Tak terasa, dua minggu telah berlalu. Hari pemberangkatan telah tiba. Jadwal pemberangkatan telah disusun sesuai kelompok penempatan peserta. Dengan menggunakan truk TNI, para peserta diantarkan menuju Bandara Juanda. Hari itu saya ayah dan ibu menemui saya di Bandara. Saya sempat duduk sejenak bersama mereka dan menghadiahkan sebatang coklat untuk adik saya. Melihat senyum girang di hati saya, ayah dan ibu semakin mantap melepas saya. Saya berjanji akan segera mengabari mereka apabila telah sampai di Bandara Eltari, Kupang.

Penerbangan tersebut membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Kami masih memerlukan waktu sekitar satu jam untuk Boarding Pass. Saya bersama sembilan belas kawan lain mendapatkan lokasi di Kabupaten Maluku Barat Daya, Kecamatan Mdona Hyera. Dari Bandara Eltari, kami berdua puluh menuju hotel untuk menginap di sana selama sekitar enam hari. Ya, kami terpaksa menunggu cukup lama. Bukan karena kami ingin bermain-main di Kota Kupang, melainkan karena Kapal Laut yang melintasi daerah tujuan kami baru akan berangkat di hari ketujuh.

Akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Kami menaiki Kapal Sabuk Nusantara 43. Kapal ini memiliki rute Ambon-Kupang, dan begitu juga sebaliknya. Kami membawa tas-tas carier, koper, serta barang sembako yang amat banyak. Untuk mengangkutnya, kami membuat barisan berjajar dari dermaga di Pelabuhan Tenau, tangga besi kapal, hingga lorong kamar kelas tiga yang ada di dalam kapal. Secara berantai, kami menerima dan meneruskan barang-barang tersebut.

Pengalaman yang Tak Terlupakan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/GiantPixsPhotogarph
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/GiantPixsPhotogarph

Sekitar satu jam berikutnya, akhirnya kami dapat bersantai di buritan kapal. Kapal telah membunyikan stom satunya. Stom satu merupakan peringatan awal. Sekitar setengah jam kemudian, kapal akan membunyikan stom dua. Berikutnya, kapal akan membunyikan stom tiga kali. Jika kapal sudah membunyikan stom tiga, maka para ABK akan segera mengangkat jangkar dan menaikkan tangga. Jika semua proses telah beres, kapal akan mulai berangkat.

Kami berbincang di buritan kapal, hingga tak terasa stom tiga berbunyi. Kami melambaikan tangan ke arah Pelabuhan Tenau, entah kepada siapa. Perjalanan kami menuju Kabupaten Maluku Barat Daya telah dimulai. Seorang dosen dan peserta SM-3T angkatan sebelumnya turut membersamai kami. Kebetulan juga, kami satu kapal dengan rombongan peserta SM-3T dari Universitas Negeri Padang. Jumlah mereka juga dua puluh, tujuan mereka juga Kabupaten Maluku Barat Daya. Hanya saja Kecamatannya saja yang berbeda.

Perjalanan menuju Kabupaten Maluku Barat Daya membutuhkan waktu selama empat hari tiga malam. Itu adalah perjalanan laut pertama bagi saya. Sebelumnya saya memang pernah menempuh perjalanan lintas pulau melalui Selat Madura dan Selat Bali dengan menaiki Kapal Feri. Dibandingkan hal itu, tentu perjalanan kali ini amat berbeda. Saat menumpang Feri, saya hanya terapung selama dua jam saja.

Kapal ini amat besar. Terdapat tiga tipe kamar. Kamar kelas satu berisi empat tempat tidur, sebuah kamar mandi, televisi, dan video player. Harga sewanya sekitar Rp 300.000 per malam. Kamar dua berisi enam kamar tidur, sementara fasilitas lain sama. Harga sewanya sekitar Rp 150.000 per malam. Kamar kelas tiga berupa ruangan besar yang berisi puluhan kasur dan kamar mandi umum. Harga sewanya Rp 80.000,00 sekali jalan.

Untuk makan, tersedia nasi dengan lauk ayam goreng atau telur ceplok di dapur dan mie instan di café. Ya, hanya ada tiga menu itu saja. Jika kapal bersandar di dermaga salah satu pulau yang dilintasinya, penumpang dapat memanfaatkan waktu untuk membeli makanan di daratan. Biasanya, saat kapal sandar di dermaga terdapat banyak penjual aneka makanan. Mulai dari menu ikan laut, sayur daun singkong, makanan ringan, hingga buah-buahan. Saat kapal telah membunyikan stom dua, penumpang harus segera kembali ke kapal.

Perjalanan itu amatlah istimewa. Setiap pagi seusai sholat shubuh saya selalu berdiri di anjungan. Menanti momen matahari muncul dari balik air laut. Bersama kawan-kawan yang tahan dengan goncangan laut, kami selalu memotret momen istimewa itu. Kami tetap berada di sana hingga matahari naik atau hingga bosan. Hal itu pula yang saya lakukan di kala senja. Mengantar matahari pulang ke peraduannya.

Terkadang saya berjalan-jalan dengan kawan saya di bagian buritan dan bertemu penumpang lain. Kami berbincang banyak dengan mereka. Hampir seisi kapal mengenali kami sebagai orang Jawa. Pasalnya, hanya anggota kelompok kami lah yang perempuannya mengenakan jilbab. Jika berbincang dengan kawan lain, kami menggunakan bahasa Jawa, bahasa yang asing buat mereka. Kami berbincang dengan dengan bahasa Indonesia dengan para penumpang lain. Mereka juga berbicara dengan bahasa Indonesia, namun logat mereka berbeda dengan kami. Oleh karena itulah, penumpang lain mudah sekali mengenali kami.

Saat perjalanan itulah saya akhirnya menyaksikan sendiri alasan nyata kenapa Indonesia disebut sebagai Negara Maritim. Laut yang kita lintasi amat luas dan seolah tak habis-habisnya. Tinggal selama dua puluh tiga tahun di Pulau Jawa hanya membuat saya bersentuhan dengan daratan saja.

Pernah suatu waktu kapal yang saya tumpangi ini melewati lautan yang amat luas. Tak tampak sebuah pulau pun. Tak ada kapal lain yang melintas juga. Kapal ini bagaikan berjuang sendiri memecah keheningan lautan. Saat itulah tiba-tiba saja hati saya merasa kecil. Ya, dengan kondisi demikian saya merasa menjadi hamba yang amat kecil dan tak berdaya. Di saat yang bersamaan, saya juga merasakan Kebesaran Tuhan.

Hari ketiga sejak kapal bertolak dari Pelabuhan Tenau, kawan-kawan dari UNP telah turun sejak dua hari sebelumnya. Salah seorang kawan kami turun di Pulau Moa, ia bertugas di sana kapal berhenti cukup lama ketika kami sampai di Ibukota Kabupaten. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghubungi keluarga di rumah. Melalui handphone jadul itu, saya berpamitan kepada ibu dan ayah di rumah karena di Pulau Moa adalah sinyal terakhir sebelum mencapai Kecamatan Mdona Hyera.

Sisa perjalanan membuat dada saya berdegup lebih kuat. Banyak sekali pertanyaan yang menghampiri kepala saya. Seperti apakah pulau tempat tugas saya? Akankah pantainya indah? Bagaimana karakter penduduk di sana? Bagaimana kondisi sekolah tempat saya bertugas nanti?

Di hari keempat, peserta SM-3T angkatan sebelumnya yang mendampingi kami menunjuk sebuah pulau.

“Itu namanya Pulau Luang. Nanti, empat orang dari kalian bertugas di Desa Luang Timur. Dua orang bertugas di Desa Luang Barat,” ujarnya. Saya menelan ludah berkali-kali. Pulau itu nampak kecil, gersang, dan tak berpenghuni.

Saat mendekati Pulau Luang itulah, kapal berlabuh di tengah laut. Perahu-perahu kecil yang sedari tadi menunggu segera mendekat. ABK menurunkan tangga besi di sisi kanan dan kiri kapal. Perahu-perahu berjajar mendekati tangga besi. Tidak ada dermaga di pulau ini. Laut di Pulau ini tidak terlalu dalam sehingga kapal tak bisa mendekat ke pulau. Para penumpang yang hendak turun maupun naik harus berhati-hati saat melewati tangga besi. Perahu-perahu kecil terapung-apung naik turun di sekitarnya. Penumpang akan berhitung dengan ombak saat akan berpindah dari perahu menuju tangga besi, begitu juga sebaliknya.

Bibir saya terkatup rapat menyaksikan hal itu. Tiba-tiba saya kembali merasa malu kepada diri saya sendiri. Selama ini, saya kerap sekali mengeluh ketika hendak naik bus dari Terminal Ponorogo untuk menuju ke Surabaya. Padahal untuk mencapai terminal dan menaiki bis sangat mudah. Sementara pemandangan yang tersaji di hadapan saya adalah perjuangan berat para penumpang yang akan naik maupun turun. Belum lagi keberadaan kapal yang hanya melintas sekitar dua minggu sekali. Tidak seperti Bus AKDP yang selalu tersedia setiap hari di Terminal Ponorogo.

Pelajaran dan Pengalaman Berharga

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/mangpor2004
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/mangpor2004

Sekitar satu jam kemudian, proses menaikkan dan menurunkan penumpang telah usai. Kapal kembali melaju menuju Pulau Sermata. Di sinilah sebagian dari kami bertugas. Bersembilan belas kami turun di Sermata. Sama seperti di Luang, di Pulau ini juga tidak tersedia dermaga. Jadi untuk pertama kalinya lah saya merasakan kengerian turun di tangga besi dan langsung menginjak perahu. Di Sermata, jarak berlabuhnya kapal dengan pantai hanya sekitar sepuluh menit saja. Sementara di Luang tadi jaraknya cukup jauh. Perlu waktu sekitar setengah jam untuk mencapai pantai.

Pulau Sermata tampak lebih subur. Terdapat pegunungan yang menghijau di sana. Pasir pantainya berwarna putih. Di beberapa sudut pantai terdapat batu karang yang berdiri kokoh. Saat menaiki perahu kecil, saya melihat terumbu karang terlihat di dasar lautnya. Mata saya terbelalak melihat itu semua. Dalam hati saya membandingkan dengan penampakan Pulau Luang tadi. Amat jauh berbeda. Diam-diam terselip rasa iri di dalam hati saya.

Kami bermalam di Desa Mahaleta, di rumah Mama Piara dari kakak yang mendampingi kami. Beliau amat senang menerima kehadiran kami. Pun juga berlinang air mata saat bertemu kembali dengan kakak yang mendampingi kami. Sayangnya, dosen kami dan kakak tersebut harus segera kembali ke kapal dan lanjut ke Ambon dengan menggunakan kapal yang sama.

Keesokan harinya, kami baru berpisah. Masing-masing dari kami dijemput kepala sekolah di tempat tugas kami. Saya dan ketiga teman lain yang bertugas di Desa Luang Timur dijemput oleh Ibu Kepala Sekolah dan keluarganya. Kami menaiki perahu jolor dan melintasi laut dalam yang berwarna biru tua. Di tengah perjalanan, kami melihat lumba-lumba berkejaran. Saya hanya bisa berkali-kali menepuk-nepuk pipi saya dengan mulut terbuka. Kami tak sempat mengeluarkan kamera dan memotretnya. Lagi pula jaraknya cukup jauh dan gerakan kelompok lumba-lumba itu begitu cepat.

Selang setengah jam kemudian, kami telah melewati penghabisan dari Pulau Sermata. Bapak Josias Kay, suami dari Kepala Sekolah menunjuk ke depan.

“Itu pulau gerbang menuju Luang, Ibu!”

Saya melihat ke depan. Terdapat tiga pulau kecil yang berjajar. Perahu jolor bergerak semakin mendekat. Gelombang laut tiba-tiba terasa lebih kuat. Saya berpegangan ke sisi perahu. Kata Bapak Josias gelombang ini akibat pertemuan antara laut dalam dan laut dangkal. Tak berapa lama, akhirnya kami melewati pulau gerbang. Pulau Luang yang tadi saya lihat dari atas kapal mulai terlihat dekat. Jemari saya menutup mulut saya. Mata saya terbelalak. Bukan lagi atas gersangnya Pulau Luang. Tapi karena cantiknya warna tosca dari air laut yang berada di balik pulau gerbang.

Perahu jolor berhenti dan melempar jaring. Bapak-bapak tadi segera menyelam untuk menangkap ikan dengan menggunakan tombak. Ketiga kawan saya jga tak bisa menahan diri. Dengan pelampung bekal dari kampus, mereka ikut menceburkan diri. Saya berusaha bertahan untuk tidak ikut menceburkan diri. Pasalnya hari itu saya sedang menstruasi. Dalam hati, rasa iri saat melihat keindahan Pulau Sermata yang tadi sempat muncul kini telah lenyap.

Setelah berlabuh selama sekitar setengah jam, perahu kembali berjalan mendekat ke arah pantai. Saat itu, air laut sedang surut. Sehingga kami perlu berjalan cukup jauh dari perahu hingga ke daratannya. Barang-barang kami yang ada di atas perahu dibawakan oleh beberapa murid SMK yang ada di sana. Mereka sigap sekali mendekat ke arah perahu dan tanpa menunggu perintah segera memangul barang-barang kami.

Kami duduk melingkar di atas kursi plastik di halaman depan Ibu Kepala Sekolah. Di atas meja kecil telah terhidang beberapa gelas teh dan sepiring kue donat. Hidung saya mencium bau amis. Penduduk menjemur rumput laut di depan rumah masing-masing. Mata pencaharian utama di sana adalah bertani rumput laut.

Kepala saya masih terasa terhuyung. Tanah tempat saya berpijak terasa bergoyang. Sensasi berada di atas kapal masih saya rasakan hingga beberapa hari ke depan. Saya segera mengulurkan tangan untuk meneguk teh hangat begitu tuan rumah mempersilakan. Kelak saya baru mengetahui nama-nama orang yang ikut menemani kami minum teh di sana. Mereka terus saja mengajak kami berbincang. Kadang mereka juga berbincang satu sama lain. Kepala saya semakin terhuyung mendengar logat dan bahasa yang mereka gunakan. Saat itu, di kepala saya muncul satu pertanyaan besar: akankah saya bisa bertahan di sini selama setahun lamanya?

Pada akhirnya, saya menemukan jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan tersebut. Saya melewati waktu yang paling berharga dalam hidup saya dengan menjadi pengajar di daerah 3T di Kabupaten Maluku Barat Daya. Saya bertemu dengan banyak orang, mengajar murid-murid, dan memiliki sahabat seperjuangan berkat pengalaman itu. Saya dekat dengan beberapa penduduk di sana. Mereka mengajari saya membuat roti tanpa mixer dan oven.

Ah, ya saya lupa bercerita, pulau ini tak tersentuh sinyal telepon seluler dan listrik PLN. Penduduk memanfaatkan panel surya untuk menerangi rumahnya di malam hari. Beberapa orang yang berkecukupan memiliki diesel yang akan berputar mulai pukul 19.00 hingga 22.00 malam. Mereka bisa menggunakannya untuk menyalakan televisi yang akan ditonton ramai-ramai. Murid-murid mengajari saya berenang dan mengikat rumput laut. Terkadang di sore hari, kami memancing ikan atau berjalan ke gunung.

Kondisi pendidikan di sana amat jauh berbeda dengan yang saya kenal selama hidup di Jawa. Keterbatasan kebutuhan guru membuat para murid juga tak dapat belajar dengan maksimal. Tak ada internet di sana, tak ada LCD, buku-buku yang tersedia di perpustakaan adalah kurikulum lama. Tak ada laboratorium dan lapangan olahraga. Tak sedikit dari murid-murid yang tak sadar pentingnya pendidikan karena mereka telah mampu memperoleh uang dengan bekerja sebagai pengikat rumput laut. Namun, lebih banyak lagi yang memiliki keinginan kuat untuk belajar. Pada wajah-wajah mereka lah saya menemukan muara semangat untuk terus mendidik. Ada kepuasan sendiri ketika melihat mereka menikmati proses pembelajaran dan memahami suatu materi. Ada yang sejuk di hati kala mereka mulai bisa mengikuti gaya mengajar saya dan mulai dekat dengan kami.

Setiap perjalanan besar selalu berawal dari satu langkah kecil. Pengalaman saya selama menjadi pengajar di Pulau Luang, Kabupaten Maluku Barat Daya selama setahun lamanya itu juga berawal dari perjalanan ‘kecil’ yang saya tuliskan di sini. Ketika masa tugas habis, manisnya pengalaman sebagai pendidik di sana membuat saya berbisik di dalam hati: saya ingin menjadi guru.

#ElevateWomen