Empat Kejadian Tidak Terduga Selama KTT G20 di Bali

Merdeka.com - Merdeka.com - Puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Nusa Dua Bali telah berakhir, Rabu (16/11) kemarin. Sejumlah kepala negara dan para delegasi mulai kembali ke negaranya masing-masing.

Demi melancarkan proses kepulangan para tamu KTT G20 tersebut, Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Firman Shantyabudi mengatakan, akan ada penutupan dan pengalihan arus lalu lintas.

"Kepulangan para kepala negara dan delegasi akan padat mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WITA," kata Firman dalam keterangan tertulisnya.

Sementara itu, terdapat sejumlah momen tidak terduga yang terjadi selama pelaksanaan KTT G20 yang dilaksanakan 15 hingga 16 November kemarin. Berikut rangkumannya:

Menteri Luar Negeri Rusia Dilarikan ke Rumah Sakit

Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergei Lavrov, dikabarkan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof dr I GNG Ngoerah atau RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, setelah tiba di Bali, Minggu (13/11), untuk menghadiri KTT G20. Namun, belum ada penjelasan resmi mengenai kabar ini.

Menurut keterangan dari Kasubag Humas RSUP Prof Ngoerah Dewa Ketut Kresna, pihaknya tidak memiliki akses kendati ada delegasi KTT yang datang ke RSUP Prof Ngoerah.

"Kami tidak punya akses untuk itu, kami tahu ada delegasi datang tapi kami tidak tau dari mana delegasi. Kami tidak tahu," singkatnya saat dihubungi, Senin (14/11) sore.

Diketahui Lavrov tiba di Bali untuk mewakili Presiden Vladimir Putin pada KTT G20.

Presiden Prancis Jalan Kaki usai Gala Dinner

Aksi di luar dugaan dilakukan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang tiba-tiba turun dari mobilnya, dan memilih untuk berjalan kaki sejauh dua kilometer seusai makan malam kehormatan di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Selasa (15/11) malam.

Dikutip dari keterangan tertulis Divisi Humas Polri di Jakarta, orang nomor satu di Prancis itu berjalan kaki dari Simpang Uluwatu sampai dengan Politeknik Bali, Jimbaran, sekitar pukul 22.20 WITA.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tindakan spontanitas tersebut dilakukan Macron lantaran dirinya memiliki kedekatan emosional dengan Bali. Sewaktu kecil, dia suka diajak oleh orang tuanya jalan-jalan ke Pulau Dewata.

Asisten Operasi Kapolri Irjen Agung Effendi menerangkan, upaya polisi mengamankan KTT G20 di Bali membuahkan hasil.

"Kami bersyukur bahwa para pimpinan dunia yang menjadi anggota KTT G20 merasa aman dan terkesan dengan keramahan masyarakat Bali," kata dia.

Menteri Basuki Jadi Fotografer

Hal unik selama perhelatan KTT G20 di Bali juga terlihat saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak para jurnalis asing berkeliling melihat kawasan hutan mangrove di Balai Pengelolaan Hutan Mangrove di Bali. Di dalam rombongan tersebut nampak Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Basuki terlihat membawa kamera profesional yang menggunakan lensa tele (panjang). Sosoknya cukup mencuri perhatian lantaran gayanya yang santai dengan mengenakan topi terbalik. Selama kegiatan tersebut, dia ikut serta mengabadikan momen presiden dengan kamera yang dikalungkan di lehernya. Layaknya wartawan foto profesional, Basuki menjepret setiap momen berharga pagi itu.

Basuki nampak lincah dan ikut bergabung dengan rombongan. Tingkah polanya sontak membuat awak media yang menyaksikan siaran langsung kegiatan tersebut langsung tertawa.

"Ya ampun lucu banget Pak Bas," kata salah satu awak media di Ruang Mangapura, Media Center, Bali Convention Center, (BICC), Kawasan ITDC, Nusa Dua, Bali, Rabu (16/11).

"Udah kaya wartawan senior aja yah," seru wartawan lainnya.

Momen lucu dan langka Basuki itu juga diabadikan oleh wartawan lainnya sembari memuji kesederhanaan Basuki yang bisa melebur dengan para jurnalis media asing.

Delapan Orang Diamankan

KTT G20 kemarin memang menyita perhatian publik dari berbagai kalangan. Sedikitnya terdapat dua aksi dengan total delapan orang diamankan selama jalannya KTT G20 dalam kurun waktu dua hari ini.

Dimulai dari aksi seorang perempuan dari Cimahi, Jawa Barat, berinisial KR yang ditangkap kepolisian lantaran disinyalir hendak membentangkan pamflet poster bertuliskan "Stop War Human Rights Peace", saat iring-iringan Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan melintasi Simpang Peminge, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (15/11).

Kabid Humas Polda Bali Kombes Satake Bayu menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan kepada KR, tidak ada unsur pidana karena hanya menyampaikan aspirasi.

"Setelah dibawa oleh Satgas Gakkum Polda Bali, kemudian dilakukan pemeriksaan yang bersangkutan memang penyampaian dari tim itu, tidak ada unsur pidananya. Jadi yang bersangkutan dipulangkan," jelasnya.

Dia juga menyebutkan, untuk motifnya KR hanya menyampaikan aspirasi dan ingin membentangkan pamflet bertuliskan "Stop War Human Rights Peace". Usai diperiksa, KR kemudian dilepaskan.

Sementara aksi lainnya dilakukan oleh tujuh mahasiswa Universitas Udayana (Unud). Mereka melakukan aksi demonstrasi di jalan Sudirman, Denpasar, Bali untuk menolak pelaksanaan KTT G20 di Bali. Alhasil para mahasiswa diamankan Satpol PP.

Menurut keterangan dari Kepala Satpol PP Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, ketujuh mahasiswa tersebut melakukan aksi dengan membentangkan spanduk bertuliskan 'G20 Ngae Ribet Nak Bali, G20 Bukan Solusi' yang artinya G20 bikin ribet orang Bali dan juga ada bertuliskan 'Indonesia People's Assembly.'

"Aksi damai menyampaikan aspirasi di depan umum membentangkan spanduk. Ada tujuh mahasiswa (dari) Universitas Udayana," kata Dharmadi saat dihubungi, Selasa (15/11).

Dharmadi juga menyampaikan jika terdapat satu mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit karena mengalami demam usai beraksi di tengah hujan. Ketujuh mahasiswa tersebut kini telah dipulangkan.

Namun Dharmadi mengatakan pihaknya meminta data pribadi mereka berupa KTP guna melakukan pelaporan. Mereka juga diberikan arahan agar tidak melakukan aksinya di depan umum.

"Sudah dipulangkan datanya kita sudah simpan dan kita berikan arahan. Sementara aksinya disampaikan melalui digital saja, jangan menyampaikan demo di depan umum sehingga tidak mengganggu ketertiban. Karena yang dilakukan kan di pinggir jalan," ujar dia.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]