Empat Korban Kakek Predator Seks di Tangsel Diberi Konsultasi Psikologis

Merdeka.com - Merdeka.com - Empat korban kakek predator seks di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mendapat konsultasi psikologis. Keempat korban sebelumnya telah melapor ke polisi. Dalam kasus ini, pelaku berinisial N alias AH (63) sudah ditahan.

"Kita prihatin dengan adanya kasus pencabulan ini, pelaku sudah ditahan. Korban empat anak diberikan konsultasi psikologis, dan kalau ada anak lagi akan kita berikan untuk konseling," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Tangsel, Khaerati, Kamis (3/11).

Dia menegaskan, terjadinya kasus kekerasan seksual di tengah lingkungan masyarakat juga menjadi tanggung jawab bersama masyarakat dan pengurus lingkungan (RT RW). Dengan peristiwa kakek Naji, pihak DP3AP2KB meminta peran aktif warga di lingkungan mengawasi dan memonitor keadaan di sekitar tempat tinggalnya.

"Kami imbau kepada masyarakat untuk harus memperhatikan lingkungan, karena kasus sudah cukup lama dan di lokasi sering kumpul anak-anak. Maka warga, RT, RW harus peduli. Kenapa anak-anak berkumpul sehingga kejadian ini tidak telalu lama terungkap," jelas dia.

Saat ini DP3AP2KB sedang memberikan pendampingan psikolog terhadap anak-anak korban kekerasan kakek Naji. Dari informasi tiga anak yang dicabuli satu anak bahkan diantar untuk melapor ke Polres Tangsel.

DP3AP2KB juga meminta para orang tua juga memerhatikan aktivitas anak-anak dan selalu mengajak anak berkomunikasi setiap hari, agar setiap perubahan yang terjadi pada anak bisa segera mendapat tanggapan orang dewasa atau orang tua.

"Orang tua agar lebih memerhatikan anak-anaknya. Memonitor tumbuh kembang mereka dan ajak mereka berkomunikasi selalu, terutama jika terjadi perubahan drastis pada anak dari yang tadinya periang menjadi pemurung, tadinya penurut jadi pembangkang. Ini ada apa, orang tua harus segera mengetahui perubahan anak-anaknya itu," terangnya.

Jika perubahan drastis anak-anak itu karena adanya tindak kekerasan, perundungan atau sebagainya, kata Khaerati, dia meminta para orang tua segera melapor ke DP3AP2KB atau melalui UPT P2TP2A.

"Kalau seandainya takut dan terkendala lokasi bisa hubungi 112 saja agar dapat solusi segera," ungkap dia. [cob]