Enam Pemimpin Dunia Serukan Solidaritas Global Corona

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Dalam seruan bersama yang dirilis di pers Jerman dan internasional, enam pemimpin dunia menyerukan kerja sama dan solidaritas yang lebih besar sebagai resep utama mengatasi tantangan global dan mengarahkan dunia menuju pemulihan dari pandemi corona.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Senegal Macky Sall merilis pernyataan bersama itu Rabu pagi Waktu Eropa Tengah (3/2).

Dalam pernyataan yang diterbitkan dalam beberapa bahasa itu mereka mengatakan, masa-masa sulit ini adalah "kesempatan untuk membangun kembali konsensus untuk tatanan internasional berdasarkan multilateralisme dan supremasi hukum melalui kerja sama yang efisien, solidaritas dan koordinasi."

Para pemimpin mengatakan bahwa dua krisis besar—pandemi corona yang sekarang melanda dan perubahan iklim selama beberapa dekade terakhir—telah menghambat masyarakat dan kerangka kebijakan umum, "menimbulkan keraguan pada kapasitas dunia untuk mengatasi guncangan, mengatasi akar penyebabnya, dan mengamankan masa depan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang."

Solidaritas corona: Ekonomi hanya kuat kalau sistem kesehatan kuat

Menyebut krisis COVID-19 sebagai "ujian terbesar solidaritas global dari generasi ke generasi," para pemimpin mendesak jawaban internasional yang kuat dan selaras terhadap pandemi dengan meningkatkan ruang lingkup untuk akses kepada tes, perawatan, dan vaksin.

"Dalam jangka panjang, kami juga membutuhkan evaluasi yang independen dan komprehensif dari tanggapan kami untuk menarik semua pelajaran dari pandemi ini dan lebih mempersiapkan diri untuk yang berikutnya. WHO memiliki peran sentral dalam proses ini," demikian kata pernyataan itu tersebut.

Pernyataan itu juga menyebutkan, pandemi telah menyebabkan pergolakan ekonomi terburuk di dunia sejak Perang Dunia II dan harus menjadi prioritas utama untuk memulihkan ekonomi global yang kuat dan stabil.

"Saat membantu perekonomian, kami mengatasi resesi terburuk sejak 1945, tetap menjadi prioritas utama kami untuk memastikan bahwa perdagangan terbuka berdasarkan aturan internasional adalah mesin terpenting bagi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan," kata mereka dalam pernyataan.

Pemulihan global harus menjangkau semua orang

Para pemimpin mengatakan bahwa meskipun globalisasi dan kerja sama internasional telah membantu miliaran orang keluar dari kemiskinan, hampir setengah dari populasi global masih harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pandemi secara langsung menimbulkan risiko yang besar dalam upaya memerangi kemiskinan serta mengancam kemajuan sosial yang telah dicapai, seperti peningkatan akses ke sekolah bagi anak-anak dan perempuan pada khususnya.

Pernyataan bersama tersebut menyerukan peningkatan dukungan bagi negara miskin dan berkembang, terutama Afrika, dengan dengan kemitraan global sekaligus memastikan bahwa pemulihan global menjangkau semua orang.

"Untuk menghadapi tantangan ini, multilateralisme bukan hanya sekedar teknik diplomatik. Melainkan upaya membentuk tatanan dunia dan cara yang sangat spesifik dalam mengatur hubungan internasional berdasarkan kerja sama, aturan hukum, tindakan kolektif, dan prinsip kebersamaan," kata pernyataan itu. "Daripada mengadu domba peradaban dan nilai-nilai satu sama lain, kita harus membangun multilateralisme yang lebih inklusif, menghormati perbedaan kita sebanyak nilai-nilai bersama kita yang diabadikan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia."

Berbicara tentang perubahan iklim, para pemimpin mengatakan, perlu untuk meningkatkan upaya membuat perekonomian di seluruh dunia menjadi lebih berkelanjutan. "Semua pemerintah nasional, bisnis, kota, dan lembaga keuangan sekarang harus bergabung dengan koalisi global untuk mengurangi emisi CO2 menjadi nol bersih sesuai dengan perjanjian iklim Paris - dan mulai menerapkan rencana dan kebijakan konkret," demikian disebutkan pernyataan bersama itu menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) di Glasgow pada November mendatang.

hp/as (dpa, afp, kna)