Endang Tirtana Kenang Momen Gawang Timnas Indonesia Dibombardir Diego Maradona di Piala Dunia U-20

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia bakal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023 mendatang. Bagi skuad Garuda Muda, ini adalah keikutsertaan kali kedua setelah sebelumnya berkiprah pada ajang sama di Jepang pada 1979. Kala itu, tim asuhan Sutjipto Soentoro tergabung di Grup B bersama Polandia, Yugoslavia dan Argentina.

Seperti diketahui, Argentina saat itu diperkuat superstar dunia, Diego Maradona. Tim Tango juga ditangani Luis Cesar Menotti, pelatih yang membawa mereka juara Piala Dunia 1978 di Argentina.

Timnas U-20 diperkuat Endang Tirtana, David Sulaksmono, Pepen Rubianto, Bambang Sunarto, Arief Hidayat, Didik Darmadi, Nus Lengkoan, Tommy Latuperisa, Mundati Karya, Subangkit, Fachrizal, Eddy Sudarnoto, Bambang Irianto, Imam Murtanto, Memed Permadi, Budhi Tanoto, Bambang Nurdiansyah dan Sjamsul Suryono.

Dalam tiga laga, Timnas Indonesia selalu kalah dengan kebobolan 16 gol tanpa memasukkan satu gol pun. Meski begitu, tampil di level Piala Dunia jadi kenangan dan kebanggaan tersendiri buat skuad Garuda.

Seperti diungkap Endang Tirtana, kiper utama Timnas Indonesia U-20 saat itu dalam channel youtube JEBREEETmedia TV. "Banyak pengalaman lucu dan indah yang kami alami. Yang utama, kami bisa berada dalam satu lapangan dengan Maradona di level Piala Dunia," kata Endang Tirtana.

Diajang itu, Indonesia langsung bersua dengan Argentina di laga perdana di Stadion Omiya, Kobe, 26 Agustus 1979. Berita seputar kehebatan Maradona yang sudah mendunia membuat skuad Garuda jadi 'kehilangan fokus'. Kebetulan Endang Tirtana dan kolega satu hotel dengan Argentina.

Alhasil, setiap mau makan, para pemain Indonesia selalu menunggu Maradona di Lobi Hotel untuk meminta foto. "Tapi, selalu gagal, karena Maradona dijaga ketat oleh pengawalnya," kenang Endang Tirtana.

Yang menarik, sehari sebelum pertandingan, utusan FIFA mendatangi kubu Indonesia dan meminta pemain skuad Garuda tak melakukan pelanggaran kasar kepada Maradona saat laga berjalan. "Sebenarnya tanpa diberitahu pun, sangat sulit menghentikan pergerakan Maradona yang licin, cepat dan teknik tinggi."

Endang pun mengungkap momen lucu saat kedua tim melakukan pemanasan jelang laga. Pemanasan tim Indonesia langsung terhenti ketika Argentina dan Maradona menyusul melakukan pemanasan.

"Kami kompak menyaksikannya beraksi memainkan bola. Setelah memberikan hormat kepada penonton, Maradona menendang bola ke atas dan saat bola ke bawah dia sambut dengan kakinya dan bola itu memutar saja di kakinya," papar Endang Tirtana.

Pada laga itu, gawang Indonesia langsung kebobolan lima gol di babak pertama. Dua gol diantaranya berasal dari Maradona. Menurut Endang Tirtana, Maradona seharusnya bisa mencetak gol lebih banyak. "Ia tak beruntung saja. Termasuk saat wajah saya harus kena bola hasil tendangan memutar Maradona yang hanya berbuah tendangan penjuru."

Kiper Idola

<p>Endang Tirtana. (Channel Youtube JEBREEETmedia TV)</p>

Endang Tirtana. (Channel Youtube JEBREEETmedia TV)

Layaknya seorang kiper, Endang Tirtana juga memiliki sosok idola dan anutan. Di level dunia, ia menunjuk kiper timnas Jerman, Sepp Maier yang membawa der Panzer meraih trofi juara Piala Dunia 1974.

Sedang di level Timnas Indonesia, Endang Tirtana menunjuk Ronny Paslah. "Tapi, kalau cuma satu yang harus dipilih, saya lebih memilih Ronny Paslah," tegas Endang Tirtana.

Dimata Endang Tirtana, Ronny Paslah memiliki seluruh kriteria yang wajib dipunyai seorang kiper. Tak hanya dari sisi teknis, Ronny juga memiliki sikap yang baik.

"Bagi saya, Ronny Paslah bukan sekadar teman di lapangan. Ia juga ibarat kakak yang selalu memberikan motivasi dan kesempatan kepada saya."

Pensiun Dini di Timnas

<p>Logo PSSI dan Timnas Indonesia</p>

Logo PSSI dan Timnas Indonesia

Sebagai kiper, pencapaian Endang Tirtana terbilang lumayan. Selain berkiprah di Timnas Indonesia, ia juga pernah jadi bagian Persija Jakarta era Perserikatan dan Warna Agung di Kompetisi Galatama. Pencapaian terbaiknya adalah membawa membawa Persija Jakarta meraih trofi juara Perserikatan 1978/1979 dan Warna Agung juara kompetisi Galatama 1979/1980.

Dua tim ini juga 'menjaga' pamornya sebagai kiper papan Indonesia usai mengalami cedera pinggang yang parah pada awal 1980. Cedera yang membuatnya harus menepi selama setahun lebih plus memaksanya mundur dari timnas Indonesia jelang Sea Games 1983.

Selepas dari cedera, ia kembali berkostum Warna Agung dan akhirnya gantung sepatu di Persija. Kini, Endang Tirtana menghabiskan masa tuanya dengan melatih di sekolah sepak bola (SSB) Buperta yang berlokasi di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Sumber: Channel Youtube JEBREEETmedia TV

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel