Energi baru terbarukan solusi atasi krisis dampak perang Rusia-Ukraina

Energi baru dan terbarukan dalam bauran energi dinilai dapat menjadi solusi guna mengatasi krisis energi yang terjadi saat ini dampak konflik geopolitik Rusia dengan Ukraina yang telah membuat harga minyak mentah dunia terkerek naik.


Ketua Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan Institut Teknologi Bandung (ITB) Yuli Setyo Indartono dalam keterangan di Jakarta, Minggu, mengatakan tidak ada jaminan harga BBM tidak naik lagi di masa depan. Oleh karena itu, Indonesia perlu meningkatkan penggunaan biodiesel, gasifikasi batu bara, dan biomassa.

"Kendaraan elektrik juga opsi yang tepat. Norwegia misalnya sudah mencapai 94 persen dan subsidinya pun menyasar segmen masyarakat yang tepat," ujarnya.

Yuli mengingatkan pemerintah bahwa insentif bagi rakyat di tengah kenaikan harga BBM tidak hanya berupa bantuan langsung tunai dan bantuan sosial, tetapi memperlebar subsidi agar bisa mencakup kompor listrik dan kendaraan listrik.

Menurutnya, dukungan terhadap kompor listrik dan kendaraan listrik melalui subsidi cukup bermanfaat bagi rakyat. Hal ini sejalan dengan program Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Baca juga: BI: Investasi swasta diperlukan untuk capai target transisi energi

Sementara itu, pemerhati politik internasional dan isu-isu strategis Imron Cotan memandang Indonesia sudah waktunya memprioritaskan dan meningkatkan penggunaan energi bersih dalam bauran energi supaya bisa menggantikan energi fosil yang tidak berkelanjutan karena tinggi emisi karbon.

"Energi fosil ini tidak berkesinambungan dan juga tak ramah lingkungan karena emisi karbon yang dihasilkannya," terang Imron.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa fluktuasi harga minyak dunia juga membuat energi fosil semakin tak menguntungkan bagi Indonesia dalam jangka panjang.

"Kenaikan harga minyak dunia membuat APBN kita tertekan, sehingga semakin membuka mata kita bahwa energi terbarukan harus memegang peranan penting ke depannya," jelas Imron.
Baca juga: Menjaring pendanaan EBT lewat skema "blended finance" di G20

Pada 2021, kapasitas terpasang setrum bersih di Indonesia hanya sebesar 11,15 gigawatt dengan angka pertumbuhan rata-rata sebesar 4,3 persen per tahun.

Disebutkan, harga perangkat energi hijau yang semakin kompetitif, terutama harga panel surya yang terus menurun dari waktu ke waktu membuat pemanfaatan setrum bersih kian menarik, apalagi didukung teknologi baru mulai dari pumped storage yang diterapkan pada pembangkit listrik tenaga air, hidrogen, dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS).

Kementerian ESDM mengungkapkan harga pembangkit intermittent telah turun hampir 80 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dari 5.000 dolar AS per kWh menjadi 1.000 dolar AS per kWh.
Baca juga: PLN siap investasi bantu petani beralih dari diesel ke energi bersih

Direktur Eksekutif Moya Institute Hery Sucipto meminta Pemerintah Indonesia untuk memikirkan ulang harga BBM bersubsidi yang berlaku saat ini mengingatkan harga minyak dunia yang tinggi.

Ia memandang wajar bila harga BBM bersubsidi ini ditinjau kembali, sebab kenaikan harga minyak dunia berpotensi menguras keuangan negara apabila penyesuaian harga BBM bersubsidi tak dilakukan oleh pemerintah.

"Banyak pihak yang menilai subsidi BBM ini bocor atau tidak tepat sasaran, sehingga diperlukan rumusan kebijakan subsidi yang tepat agar tepat sasaran," kata Hery.

"Jangan sampai subsidi dinikmati justru oleh orang-orang kelas menengah ke atas yang sejatinya bukan kalangan yang berhak mendapatkan subsidi," imbuhnya.

Baca juga: Delegasi G20 takjub dengan temuan sumber energi baru terbarukan
Baca juga: Pengamat: Presidensi G20 momentum tagih komitmen transisi energi