Energi Surya Jadi Kunci Transisi Energi dan Dekarbonisasi Sistem Energi Indonesia

·Bacaan 3 menit

VIVA - Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Fabby Tumiwa, mengatakan bahwa energi surya menjadi kunci dan prime mover transisi energi serta akan berkontribusi signifikan dalam dekarbonisasi sistem energi Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan dalam acara pelantikan pengurus AESI 2021 – 2024 dan seminar yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (21/5)

“Indonesia berlimpah energi surya, dengan potensi energi surya skala besar mencapai 20.000 GWp berdasarkan analisis Institute for Essential Services Reform (IESR), jauh di atas angka resmi pemerintah 207 GW. Potensi PLTS atap juga sangat besar, untuk residensial mencapai 655 GWp,” jelas Fabby menambahkan.

Potensi ini sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal. Melihat tren dan minat dari berbagai segmen, potensi ini sebenarnya bisa direalisasikan sampai 5 GW hingga 2025.

Dalam sambutannya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Ir. Arifin Tasrif menekankan kembali komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam negeri, terutama berkaitan dengan target bauran energi terbarukan di tahun 2025 sebesar 23%.

“Pemerintah berusaha sefleksibel mungkin dalam menerapkan regulasi Energi Baru Terbarukan (EBT) apalagi dengan terus berkembangnya gerakan global tentang upaya penurunan pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius," jelas Arifin Tasrif.

Ia menambahkan untuk merealisasikan upaya bauran energi, Kementerian ESDM terus berkoordinasi bersama dengan Kementerian Perindustrian dalam menumbuhkan industri energi surya yang dapat terbangun baik mulai dari hulu sampai ke hilir, sehingga pasar dapat tumbuh secara signifikan, lapangan pekerjaan akan terbuka semakin lebar.

AESI sejak awal berdiri telah konsisten mendorong pemerintah untuk menjadikan energi surya, dalam bentuk PLTS, sebagai pendorong transisi menuju sistem energi bersih dan berkelanjutan serta berkontribusi pada dekarbonisasi sistem energi Indonesia pada 2050.

Dengan pengurus dan anggota yang berasal dari pelaku usaha dan ahli dalam bidang energi surya, AESI siap menjadi mitra pemerintah mendorong pemanfaatan energi surya dan mencapai target RUEN melalui pencapaian target sejuta surya atap sebelum 2025.

“Dewan Pakar AESI yang terdiri dari ahli-ahli di beragam bidang akan terus mendukung AESI dalam melakukan kajian dan advokasi yang relevan dan konstruktif untuk percepatan pemanfaatan energi surya di Indonesia," ujar Dr. Arya Rezavidi, Ketua Dewan Pakar AESI.

Arya juga menambahkan bahwa masukan dan rekomendasi dari AESI akan menyasar beberapa isu strategis, yaitu isu teknologi, termasuk di dalamnya grid code dan penetrasi energi surya pada jaringan, isu kebijakan yang komprehensif dan suportif, isu pembiayaan atau financing, hingga peran energi surya untuk mendukung rencana aksi net-zero emission Indonesia.

Seiring dengan upaya global untuk mencapai net-zero emission pada 2050, PLTS akan mendominasi sistem energi. International Energy Agency (IEA) menyatakan kapasitas PLTS dan PLTB akan mencapai ~78?ri pembangkitan listrik di 2050, di mana kapasitas PLTS harus bertambah dari 160 GW sekarang menjadi 650 GW di 2030. Di masa depan, PLTS akan menjadi teknologi dan komoditas strategis yang akan diperebutkan oleh banyak pihak.

Dengan kondisi ini, pengembangan industri PLTS yang terintegrasi (end to end) di dalam negeri merupakan keharusan untuk menjamin energy security di masa depan dan juga meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi Indonesia, yang akan mengalami transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan.

Fabby meminta pemerintah secara serius membuat peta jalan dan rencana mendukung investasi industri PLTS terintegrasi dalam 2 tahun mendatang.

“Industri ini terdiri dari pemurnian kuarsa, pembuatan ingot, produksi wafer dan sel surya serta fabrikasi modul surya, serta industri pendukung antara lain kaca, EVA dan back-end, serta industri balance of system (BOS), khususnya inverter dan controller; sehingga Indonesia bisa menjadi pemain industri surya yang berpengaruh, tidak hanya menjadi pasar,” imbuhnya.

Dalam acara pelantikan pengurus AESI ini juga digelar seminar terkait pengembangan industri surya dalam negeri yang menghadirkan Basilio Dias Araujo (Deputi Bidang Kedaulatan Maritim dan Energi, Kemenkomarves).

Juga hadir Chrisnawan (Perwakilan Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM), Budiman Setiawan (Sekretaris Bidang SDM, Standarisasi dan Kompetensi Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia), dan Luis Xu (SEA Regional Director, Sungrow Power Supply Co).

Seminar ini menggali pandangan berbagai pihak untuk pengembangan industri surya dalam negeri yang mampu mendorong penetrasi PLTS secara lebih agresif di Indonesia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel