Enggan Bertopang Dagu, Warga Tenayan Raya Bangkit Ditopang Akar Kayu

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Pekanbaru - Keterpurukan ekonomi karena pandemi Covid-19 membuat naluri berkreasi warga di Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, bangkit. Mereka memiliki ide mengubah kegunaan akar pohon.

Pohon berakar pun kini menjadi buruan, bukan hanya menjadi kayu panggang yang habis di dapur, melainkan menjadi buah tangan yang dihargai hingga ratusan ribu.

Pada Kamis, 29 Oktober 2020 di Jalan Sepakat ujung, Kelurahan Bebatuan, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Sejumlah orang di bangunan semi permanen bertuliskan Rumah Produksi Sahabat Akar (RPSA) mulai sibuk begitu mentari perlahan naik di ufuk timur.

Hantaman palu, pekikan mesin ketam, dan gesekan gergaji saling sahut menyahut memecah keheningan pagi dengan objek pohon kayu berakar. Beberapa di antaranya sedang dikuliti, dihaluskan permukaannya dan ada pula dipasang pasak besi besar sebagai dudukan supaya berdiri tegak.

Pohon berakar ini nantinya disulap menjadi rak nan elok dipandang mata. Dari awalnya hanya sebatang pohon yang tengah menunggu terurai dimakan rayap atau berujung di perapian, menjadi harmoni pelengkap tanaman hias yang booming saat pendemi Covid-19.

"Menguliti satu pohon sehari saja, yang lama itu menjemur, sampai seminggu," cerita Antoni, seorang pekerja di bangunan seluas 12x5 meter yang berada di pinggir jalan tanah.

Beberapa bulan lalu, ayah dua anak ini sempat menjadi pengangguran. Keputusan tempat kerja lamanya mengurangi karyawan membuat pria berkulit sawo matang ini merasakan getirnya kehidupan.

"Dua bulan di sini, Alhamdulillah kebutuhan dapur tercukupi dan biaya anak sekolah tidak pusing lagi," ucap pria berkumis ini.

Di RPSA, Antoni bertugas menguliti kayu, termasuk membuat alas rak. Kecermatan menjadi syarat mutlak agar rak buatannya tidak timpang ketika diletakkan jajaran pot tanaman hias.

Antoni menjelaskan, fase pengeringan sangat penting untuk ketahanan dan pemolesan pernis ataupun cat warna. Lembab sedikit saja, rak bisa lapuk dan cat bisa mengelupas sehingga rentan menjadi sarang serangga.

"Kalau kurang kering, pernis dan cat kurang bercahaya nantinya," kata Antoni.

Antoni memang tak menyebut berapa nominal rupiah yang dibawanya pulang setiap bulan. Kepercayaan pada sistem bagi hasil menjadi dasar bagi sejumlah pekerja di RPSA.

"Berapa terjual itu yang dibagi," cerita Antoni berbincang dengan wartawan sambil sejenak melepas kepenatannya.

Menyandarkan Nasib

Sofian, pekerja di Rumah Produksi Sahabat Akar mengangkut rak tanaman hias setengah jadi untuk dipernis dan cat warna. (Liputan6.com/M Syukur)
Sofian, pekerja di Rumah Produksi Sahabat Akar mengangkut rak tanaman hias setengah jadi untuk dipernis dan cat warna. (Liputan6.com/M Syukur)

Di luar bangunan, ragam jenis pohon berakar lainnya berjejer menyandar pada rangka baja. Semuanya seolah mengantre menunggu giliran untuk dikuliti lalu dikeringkan.

Dari satu-satunya pintu RPSA, pekerja lainnya bernama Sofian begitu erat mengepalkan tangan pada gerobak tua bawaannya. Di alat angkut berbekas semen kering tersebut ada rak setengah jadi.

Butiran keringat begitu cepat mengalir dari pori-pori kulitnya karena bobot bawaannya yang mencapai 20 kilogram. Namun, demi asap dapur tetap mengepul, beban itu tak menjadi masalah baginya.

Sembari membongkok berjalan pelan mendorong gerobak, Sofian menuju bangunan lain yang luasnya sekitar 6x4 meter. Menjadi galeri dadakan, bagunan berdinding beton ini adalah perhentian terakhir rak untuk selanjutnya dipoles seindah mungkin.

"Pohon dan akarnya sudah kering, waktunya dikasih pernis biar mengilat," Sofian bercerita sembari menghela napas usai mendaratkan rak kayu setengah jadi di tanah depan galeri.

Sebelum pandemi Covid-19, Sofian dulunya bekerja sebagai perias kaca panggilan dari rumah ke rumah. Kebijakan PSBB di Riau pada Mei lalu perlahan membuat usahanya mati suri.

Pekerjaannya sebagai buruh bangunan juga bernasib serupa. Lesunya ekonomi tak banyak warga membangun karena belum tahu kapan pandemi berakhir.

"Makanya saya beruntung ada tempat ini karena membantu, begitu juga dengan warga sekitar," tutur Sofian.

Di Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini, Sofian juga bertugas mengantarkan pesanan memakai becak sepeda motor. Sejauh apa pun tempat pelanggan, asal itu masih di Pekanbaru, RPSA tidak memungut ongkos kirim.

Melihat Peluang

Koordinator Rumah Produksi Sahabat Akar, Ali Imran, dengan rak tanaman hias yang siap jual. (Liputan6.com/M Syukur)
Koordinator Rumah Produksi Sahabat Akar, Ali Imran, dengan rak tanaman hias yang siap jual. (Liputan6.com/M Syukur)

Dari dalam galeri itu, tampak pula pria lain yang langsung melempar senyum begitu melihat tamu datang. Namanya Ali Imran selaku koordinator RPSA yang juga menjabat Ketua RW 12 di kelurahan tersebut.

Bagi Ali, Sofian dan Antoni ataupun warga lain di RPSA bukanlah pekerja, melainkan sahabat. Mereka berjodoh dalam kreativitas untuk membangkitkan ekonomi warga.

"Makanya tidak ada gaji, dibagi rata hasil penjualannya, tentunya setelah mengeluarkan biaya pembuatan," Ali menceritakan.

Menurut Ali, ide rak tanaman hias tercetus saat Riau pertama kali memberlakukan PSBB. Kala itu, bapak tiga ini juga terdampak karena hari-harinya sebagai pekerja proyek di Pekanbaru tak indah lagi.

Nasib serupa juga dialami sebagian besar warganya yang selama ini menjadi buruh harian, buruh pabrik, pegawai swasta, ataupun petani kecil.

Tak ingin lama merenungi nasib, Ali terus memutar kincir otaknya agar dapur warga terdampak tetap mengepul tanpa bergantung uluran tangan.

Kala itulah Ali melihat kesempatan di tengah kesempitan. Yaitu 'wabah' baru masyarakat mengoleksi tanaman hias di tengah pandemi, baik itu diletakkan di halaman hingga dalam rumah, menggunakan rak kayu ataupun besi.

"Nah saat itu rak dari pohon berakar belum ada produksi di Pekanbaru," jelas Ali.

Bukannya tak bisa membuat rak dari papan ataupun besi. Keterbatasan modal jadi pertimbangan karena rak besi harus pula membeli bahan baku besi, mesin las, kayu cantik, dan sebagainya.

"Harganya tak terjangkau kantong, kalau pohon tinggal manfaatkan lingkungan sekitar. Asal ada kayu mati dirasa cocok, ya cabut, tapi izin dulu sama yang punya tanah," Ali tertawa.

Niat Baik Bantu Sesama

Koordinator Rumah Produksi Sahabat Akar, Ali Imran, dengan rak tanaman hias yang siap jual. (Liputan6.com/M Syukur)
Koordinator Rumah Produksi Sahabat Akar, Ali Imran, dengan rak tanaman hias yang siap jual. (Liputan6.com/M Syukur)

Berbekal kelihaian sebagai pekerja proyek, Ali mengajak warga lainnya bergabung ke RPSA, termasuk Sofian dan Antoni. Karya pertamanya bersama kawan-kawan mendapat tanggapan positif alias langsung laku.

"Makanya buat lagi karena mulai banyak pesanan, saya ajak warga lainnya bergabung," cerita Ali.

Selain mencari sendiri, terkadang ada warga lain datang membawa pohon berakar. Tidaklah gratis tapi Ali memberikan uang Rp50 ribu per pohon sebagai uang lelah agar membangkitkan semangat warga membantu mereka mencari bahan baku rak ini.

"Kadang ada yang ngantar sampai tiga, sudah berapa pemasukannya per hari, syaratnya harus bisa diolah," terang Ali.

Ali juga membuka kesempatan berkreasi bagi pelajar yang kesulitan belajar daring karena tidak ada paket internet. Ali tak ingin generasi muda meminta ke orangtua, apalagi di tengah kesulitan akibat pandemi.

"Yok lah bergabung bantu-bantu, hasilnya bisa buat beli paket dan bantu orangtua juga," ucap Ali.

Ali menjelaskan, membuat rak dari pohon berakar bukan perkara mudah. Awalnya, dalam tiga hari hanya jadi satu rak, tetapi perlahan terbantu karena banyak warga bergabung ketika pesanan banyak.

"Terkadang lebih 10 warga membantu, sehingga terkadang terbuat 10 unit per minggu," terang Ali.

Sejak booming tanaman hias, Ali dan RPSA mampu menjual hingga 20 unit per bulan. Harganya bervariasi, tergantung ukuran dan jumlah dudukan bunga ataupun tingkat keindahannya.

Ali memastikan harga ini jauh lebih murah daripada galeri komersial. Pembeli cukup merogoh kocek mulai dari Rp250 ribu dan paling mahal Rp800 ribu.

"Tak sampai hingga berjuta-juta, kalau di galeri komersial mungkin sampai Rp2 juta lebih," terang Ali.

Masih Belajar Pemasaran

Koordinator Rumah Produksi Sahabat Akar, Ali Imran, dengan sejumlah rak tanaman hias siap jual. (Liputan6.com/M Syukur)
Koordinator Rumah Produksi Sahabat Akar, Ali Imran, dengan sejumlah rak tanaman hias siap jual. (Liputan6.com/M Syukur)

Beberapa waktu lalu, pengusaha rak bunga pernah datang ke tempat Ali. Hanya saja, Ali tak sepakat soal harga karena modalnya terlalu ditekan.

"Mereka minta Rp200 ribu per unit untuk semua tipe, modal buatnya sudah segitu. Gak masuk bagi kami, nanti jualnya di galeri sampai Rp2 juta," jelas Ali.

Untuk pamasaran sendiri, Ali menyebut masih sebatas mulut ke mulut ataupun aplikasi jejaring sosial. Keterbatasan menggunakan media sosial menjadi kendala sendiri untuk pemasaran hingga ke luar Pekanbaru ataupun provinsi tetangga.

"Nanti saya juga belajar Facebook untuk pemasaran karena kami juga buat meja dan kursi dari pohon," ucap Ali.

Terbilang sukses mengakomodasi warganya, kreativitas Ali mendapatkan respon positif dari Pemerintah Kota Pekanbaru. Pihak lurah hingga kecamatan berjanji bakal memberikan bantuan kepada UMKM RPSA.

"Tapi kapan cairnya ya enggak tahu juga, lurah dan camat sudah mengapresiasi ini," kata Ali.

Ali berharap pandemi Covid-19 berakhir walau kreasi ini muncul saat wabah. Dia yakin kesukaan memelihara tanaman hias tak hilang sehingga tak perlu takut usaha rak akar pohon ini tandas.

Simak video pilihan berikut ini: