Epidemiolog: Cakupan vaksinasi penentu amannya mobilitas dari COVID-19

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) Bayu Satria Wiratama menekankan cakupan vaksinasi dan tingginya jumlah testing merupakan penentu aman tidaknya masyarakat banyak melakukan mobilitas dari penularan COVID-19.

“Di Indonesia tingkat kematiannya sudah rendah, ini patut kita apresiasi bahwa program vaksinasinya sudah berhasil, walaupun memang masih perlu ditingkatkan lagi terutama di bagian yang lansia dan kelompok rentan,” kata Bayu dalam Talkshow Bebas Bepergian Asal Sudah Booster yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Bila melihat situasi secara global, negara seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jerman dan Federasi Rusia mengalami peningkatan kasus konfirmasi positif yang sangat signifikan walaupun cakupan vaksinasinya telah melampaui Indonesia.

Bayu menuturkan meski cakupan vaksinasi di beberapa negara maju tersebut sudah sangat tinggi, jumlah kasus yang tinggi diakibatkan karena adanya dugaan bahwa distribusi vaksin ke tiap kelompok usia belum merata.

Baca juga: FDA setujui vaksin booster Pfizer dan Moderna terbaru untuk Omicron
Baca juga: Tes kesehatan optimalkan perlindungan lansia dari infeksi COVID-19

Pemberian vaksin COVID-19 pada lansia di negara Hongkong misalnya, masih lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Padahal, negara itu memiliki jumlah lansia yang sangat banyak.

Mengingat vaksinasi dapat meringankan gejala COVID-19, Indonesia seharusnya dapat berkaca bahwa cakupan vaksinasi utamanya pemberian dosis kedua pada lansia harus benar-benar ditingkatkan.

Kemudian Bayu menjelaskan apabila testing sangat mempengaruhi jumlah keterisian tempat tidur di rumah sakit (BOR) atau pemberian perawatan di rumah sakit. Meski Amerika Serikat melaporkan ratusan ribu kasus per harinya akibat pelonggaran protokol kesehatan dalam skala luas, angka kematian di negara itu justru tidak meningkat tajam.

Bayu mengatakan kemampuan testing Amerika sudah jauh lebih bagus dan tinggi, sehingga pemerintah dapat segera menangkap kasus positif walaupun orang yang terinfeksi tidak bergejala sampai dengan gejala ringan.

Oleh karenanya, penanganan dapat segera diberikan sesuai dengan tata laksana yang berlaku dan tingginya BOR sampai kematian dapat dihindarkan. Dalam hal ini Bayu menyarankan, agar pelonggaran tidak dijadikan sebagai alasan untuk tidak melakukan tes yang dapat berdampak pada orang lain.

Apalagi dengan hadirnya kelompok rentan, ia mengajak semua pihak yang sehat harus bekerja sama terus memperhatikan kesehatannya masing-masing agar tidak menjadi perantara penularan virus, saat sedang berkegiatan.

Baca juga: AP II wajibkan vaksin booster sebagai syarat naik pesawat
Baca juga: 25.135 tenaga kesehatan di Jakarta Barat terima "booster" tahap dua

​​​​Bayu turut menekankan bahwa paparan COVID-19 akan tetap ada meski semua pihak telah divaksinasi. Ia meminta pemeriksaan melalui antigen atau PCR dapat terus dilakukan, agar tidak ada satu kelompok pun yang ditempatkan dalam kondisi rawan dari penularan.


Sebagai informasi berdasarkan data dari Satgas COVID-19 pada Jumat (2/9) hingga pukul 12.00 WIB, kasus positif di Indonesia mengalami penambahan sebanyak 3.616 kasus, sehingga total kasus terkonfirmasi berjumlah 6.366.518 orang.

Adapun kasus aktif mengalami penurunan 852 kasus, menyebabkan total keseluruhan kasus aktif menjadi 43.582. Hal itu diikuti dengan angka kematian yang kini berjumlah 157.608, setelah naik 17 kasus dari hari sebelumnya.

Kemudian secara nasional angka kesembuhan harian bertambah 4.451 orang, sehingga total mencapai 6.165.328 orang.

Baca juga: Pengamat: Aturan wajib booster untuk PPDN langkah tepat dan adaptif
Baca juga: Penumpang KA wajib booster, KAI sediakan vaksinasi gratis