Epidemiolog: Perkuat prokes untuk antisipasi subvarian baru

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mengingatkan perlunya memperkuat protokol kesehatan untuk mengantisipasi subvarian baru Omicron.

"Masyarakat harus tetap waspada dan meningkatkan protokol kesehatan," katanya ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menjelaskan bahwa pada saat ini terdapat tiga subvarian baru.

"Tiga subvarian yang saat ini sedang bersirkulasi adalah BA.4, BA.5 dan BA.2.75," katanya.

Baca juga: Epidemiolog: Sosialisasi tentang vaksinasi booster harus digencarkan

Baca juga: Epidemiolog: Penguatan prokes jadi kunci saat kasus COVID-19 meningkat

Kendati demikian, kata dia, masyarakat tidak perlu panik yang berlebihan karena yang terpenting adalah memperkuat protokol kesehatan guna menurunkan risiko terpapar COVID-19.

"Jangan panik berlebihan, namun tetap waspada. Masyarakat juga dapat tetap beraktivitas karena yang terpenting adalah tetap melakukan protokol kesehatan dengan ketat dan disiplin," katanya.

Terlebih lagi, kata dia, bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak dan mereka yang memiliki komorbid, perlu terus disiplin memperkuat protokol kesehatan.

"Selain itu jangan lupa untuk selalu menjaga kelompok rentan di sekitar kita, seperti bayi dan anak-anak, mereka yang memiliki komorbid. Menjaga mereka berarti menjaga ketahanan kesehatan bangsa kita," katanya.

Baca juga: Mendagri minta Gerakan PKK ajak masyarakat vaksin booster

Baca juga: Penerima dosis penguat capai 52,21 juta jiwa penduduk Indonesia

Masdalina Pane menambahkan, selain protokol kesehatan, vaksinasi mulai dosis pertama hingga dosis penguat atau booster juga menjadi hal utama yang dibutuhkan oleh semua penduduk.

"Selain itu tetap penuhi standar dasar pengendalian wabah terutama 3T. Praktik 3T ditambah disiplin penerapan protokol kesehatan dan juga vaksinasi merupakan sejumlah upaya yang diperlukan untuk mempercepat penanganan pandemi COVID-19," katanya.

Dia menjelaskan, praktik 3T yang dimaksud adalah pemeriksaan (testing), pelacakan (tracing) dan pengobatan (treatment). Menurutnya, peningkatan kapasitas 3T terutama di level mikro harus terus diintensifkan guna menekan risiko penularan dan penyebaran COVID-19.

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat berbicara di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (11/7), memperkirakan puncak kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 mencapai kisaran 20.000 kasus per hari pada pekan kedua atau ketiga Juli 2022.

Baca juga: Pemkot Mataram siap buka layanan vaksin booster di tempat publik

Baca juga: Dinkes: 3 juta lebih penduduk Sumut sudah vaksinasi booster

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel