Epidemiolog: Strategi PPKM Perlu Digeser Karena Antibodi sudah Tinggi

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan perlu ada pergeseran strategi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menyusul hasil survei antibodi masyarakat terhadap COVID-19 yang saat ini relatif tinggi.

"Apakah PPKM skala prioritas?, saya kira sudah bergeser sekarang. PPKM banyak indikator penilaian yang dilihat seperti peningkatan kasus, hospitalisasi, kematian dan sebagainya. Dengan penurunan kasus yang konsisten, PPKM jadi tidak optimal, lagi," kata Pandu Riono dalam konferensi pers virtual yang diikuti dari Zoom di Jakarta, Rabu.

Pandu mengatakan hasil serosurvei antibodi masyarakat di 21 kota/kabupaten Pulau Jawa-Bali dilaporkan mempunyai antibodi SARS CoV-2 sebesar 99,2 persen.

"Ada peningkatan proporsi penduduk di wilayah asal dan tujuan mudik Jawa-Bali yang mempunyai antibodi SARS CoV-2 sebesar 6.2 persen dan ada peningkatan kadar antibodi SARS CoV-2 dari median 434.2 U/ml menjadi 5.698 U/ml," katanya.

Menurut Pandu perbandingan hasil serosurvei pada periode Desember 2021 dengan Maret 2022 itu menunjukkan imunitas penduduk di wilayah setempat yang tinggi dapat mengurangi risiko hospitalisasi dan kematian.

"Kita harus geser strategi, fokus pada kekebalan penduduk dengan ikhtiar vaksinasi lengkap dan booster. Juni ini harus sudah capai target dosis kedua dan akhir tahun lebih tinggi lagi mendekati 90 persen populasi. Booster harus terus meningkat dan kita perlu tetap pertahankan protokol kesehatan," katanya.

Pandu mengatakan antibodi yang tinggi dalam level komunitas maupun populasi, bukan berarti meninggalkan kepatuhan pada protokol kesehatan yang berlaku.

"Bukan berarti lepas masker, yang ada malah peningkatan kasus lagi. Lonjakan kasus di China karena vaksinasi lansia tidak sebaik di Indonesia. Kita konsisten terus pada lansia," katanya.

Pandu mengatakan imunitas penduduk adalah modal dasar menghadapi virus, meskipun berbagai mutasi virus yang terjadi di dunia belum seluruhnya bisa pastikan.

"Kalau semua penduduk dunia memiliki kekebalan, maka evolusi virus jadi lebih lama frekuensinya dan aktivitas masyarakat berjalan lebih lama," katanya.

Dalam acara yang sama Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan Kemenkes bersama pakar terus mengintensifkan komunikasi dalam menggagas masukan bagi kebijakan pemerintah dalam pengendalian pandemi.

"PPKM memuat indikator-indikator sebagai masukan kepada Pemda untuk merespons pengendalian pandemi. Kita lihat, cakupan vaksinasi masih menjadi indikator yang kita sasar dalam PPKM ini," katanya. [ded]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel