Epilog adalah Penutup dalam Cerita, Ketahui Perbedaannya dengan Prolog dan Monolog

·Bacaan 4 menit

Epilog adalah sebuah istilah yang tidak bisa dipisahkan dalam suatu karya sastra dan selalu melekat erat dengan prolog. Cerita, drama, dan kisah merupakan bagian dari karya sastra yang tidak lepas dari epilog. Epilog adalah memuat kesimpulan dan pelajaran yang bisa diambil pembaca, penonton, serta pendengar dalam sebuah pementasan.

Sederhananya, epilog adalah bentuk amanat dalam cerita. Epilog biasanya memuat kata-kata bijak, bentuk refleksi, pelajaran moral, dan nilai-nilai tertentu. Ada pula yang mengatakan bahwa epilog adalah penyelesaian konflik dalam sebuah pengisahan.

Tidak hanya epilog yang perlu dipahami ketika dihadapkan dengan berbagai macam karya sastra. Prolog dan monolog juga bagian dari paket lengkapnya epilog. Prolog disebut ada pada bagian awal, sementara monolog adalah dialognya.

Untuk lebih jelasnya, Fimela.com kali ini akan mengulas epilog sebagai penutup dalam cerita, beserta perbedaannya dengan monolog dan prolog. Dilansir dari Liputan6.com, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Seputar Epilog

Ilustrasi Membaca Buku Credit: unsplash.com/Lily
Ilustrasi Membaca Buku Credit: unsplash.com/Lily

Memahami pengertian epilog, erat kaitannya dengan karya sastra seperti cerita, kisah, dan drama. Epilog adalah penutup dalam sebuah pengisahan, tanpa atau dengan dialog.

Jika dilihat dari bagian isinya, epilog adalah segala kata, ungkapan, dan dialog yang berisi amanat dalam sebuah cerita atau kisah. Selain amanat, epilog adalah bisa disebut sebagai kesimpulan dan memuat pelajaran yang bisa diambil oleh pembaca dan penonton.

Dalam sebuah drama, biasanya epilog adalah diletakkan di bagian akhir dan digunakan sebagai penegas persoalan dalam pementasan. Tanpa adalah epilog, biasanya pembaca atau penonton akan kesulitan memahami kisah yang sudah diceritakan atau dipertontonkan.

Penerapan Epilog dalam Cerita

Ilustrasi Membaca Buku Credit: pexels.com/Melanie
Ilustrasi Membaca Buku Credit: pexels.com/Melanie

Berada di bagian akhir, epilog adalah wujud amanat atau pesan yang hendak disampaikan penulis kepada pembaca, penonton, atau pendengar. Kata-kata bijak, bentuk refleksi, pelajaran moral, dan nilai-nilai tertentu akan dimunculkan dalam epilog.

Jika dikaitan dengan masalah konflik dalam setiap karya sastra, epilog adalah bentuk penyelesaian masalahnya. Epilog digunakan untuk menafsirkan isi cerita dan maksudnya. Bisa dikatakan bahwa epilog adalah bagian dari amanat dan penegasan kisah.

Seperti yang sudah disebutkan, untuk bisa menemukan epilog sangat mudah. Pada bagian akhir dalam sebuah pementasan atau pengisahan cerita pasti akan ada epilog. Meski sebenarnya tidak semua drama dan cerita mengadopsi epilog untuk memahamkan pembaca, penonton, dan pendengarnya.

Seputar Prolog

Ilustrasi Prolog Credit: unsplash.com/Julianna
Ilustrasi Prolog Credit: unsplash.com/Julianna

Prolog adalah bagian pembuka atau pendahulu dari karya sastra seperti cerita, drama, dan lain sebagainya. Kata prolog diambil dari bahasa Yunani, yaitu Prologos yang memiliki arti kata pengantar. Prolog juga memiliki arti sebagai perkenalan dari isi suatu karya sastra.

Prolog adalah bagian awal cerita, yang dijadikan sebagai gambaran secara umum tentang cerita tersebut. Di dalam pembuatan prolog juga biasanya terdapat konflik untuk menarik pembaca agar penasaran. Jenisnya ada tragedi, komedi, melodrama, dan opera.

Selain tercantum di dalam novel, prolog juga sering digunakan sebagai pembukaan dalam pentas seni drama, film atau karya sastra lainnya. Prolog selalu dicari seseorang sebelum membeli sebuah novel atau melihat karya sastra lainnya.

Prolog memiliki fungsi membuat pembaca atau penonton tertarik, serta membuat seseorang penasaran tentang isi cerita karya sastra. Prolog memiliki fungsi sebagai kata pembuka, cerita awal atau pendahuluan di dalam karya sastra.

Penerapan Prolog dalam Cerita

Ilustrasi Prolog dalam Cerita Credit: unsplash.com/Melanie
Ilustrasi Prolog dalam Cerita Credit: unsplash.com/Melanie

Dalam sebuah karya sastra terdapat prolog di awal cerita, yang diterapkan untuk menarik pembacanya. Adanya prolog diawal cerita, bisa membuat pembaca atau penonton menjadi penasaran. Sehingga ada beberapa cara yang harus diperhatikan dalam pembuatan prolog.

Saat membat prolog, carilah bagian inti cerita dan konflik yang paling menarik, untuk membuat pembaca atau penontonnya penasaran. Setelah itu buatlah prolog secara sederhana, dengan bahasamu sendiri dan kalimat yang tidak berulang-ulang.

Sesuaikan prolog dengan isi naskah, isi novel atau drama, tetapi tidak boleh diceritakan secara detail. Usahakan dalam membuat prolog tidak menyimpang jauh dari isi cerita atau terikat dengan bab pertama.

Seputar Monolog

Ilustrasi Monolog Credit: unsplash.com/Yoab
Ilustrasi Monolog Credit: unsplash.com/Yoab

Asal istilah monolog adalah dari kata “mono” yang artinya satu, dan “logi” yang artinya ilmu. Apabila dirunut berdasar asal katanya, monolog bisa dimaknai sebagai suatu ilmu terapan yang mengajarkan mengenai seni peran, di mana hanya dibutuhkan satu orang atau dialog bisu dalam melakukan adegan atau sketsa yang ditampilkan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) monolog adalah pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri. Monolog terdiri atas kata-kata yang diucapkan seorang tokoh tunggal pada saat kritis yang mengungkapkan keadaan dirinya dari situasi yang dihadapinya.

Monolog sendiri dikenalkan sekitar tahun 1960-an dengan memanfaatkan media televisi sebagai panggung. Ketika itu dunia pertelevisian tidak kenal dubbing atau pengisian suara, Maka tidak heran jika monolog banyak digunakan dalam pembuatan film-film bergenre komedi maupun horor.

Penerapan Monolog dalam Cerita

Ilustrasi Monolog Credit: unsplash.com/Priscilla
Ilustrasi Monolog Credit: unsplash.com/Priscilla

Monolog adalah salah satu barometer dari kemampuan totalitas seorang seniman pada dunia seni peran yang digeluti. Contohnya seperti Bing Slamet, Butet Kertaredjasa, serta Putu Wijaya yang merupakan beberapa seniman dengan kepiawaian monolog.

Salah satu tujuan pementasan monolog adalah kritik sosial tentang situasi yang ada di tengah masyarakat, baik di masa lalu maupun masa sekarang. Maka tidak heran, jika banyak pentas monolog yang mengambil setting cerita dengan latar berlatar tradisi, tokoh, kisah nyata, atau bahkan politik.

Menurut Butet Kertaradjasa, kendati dilakukan sendirian, monolog menjadi sebuah seni peran yang tidak mudah untuk dilakukan. Sangat dibutuhkan penjiwaan yang sangat mendalam, serta stamina lebih ketika memainkan naskah drama yang biasanya menghambiskan durasi sekitar 1-2 jam.