Erick Thohir Akui Tingkat Kewirausahaan RI di Asia Masih Rendah

Mohammad Arief Hidayat, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengakui bahwa rata-rata tingkat entrepreneurship atau kewirausahaan Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lain seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura yang dinilai sudah sangat maju.

Erick mengatakan, sebagaimana yang pernah diutarakan Presiden Joko Widodo bahwa jika rata-rata tingkat kewirausahaan di negara-negara maju adalah sebesar 14 persen, maka Indonesia yang hanya 3,47 persen jelas masih jauh tertinggal dibandingkan Singapura (8,76 persen), Malaysia (4,74 persen), atau Thailand (4,26 persen).

"Kalau kita bandingkan (Indonesia) dengan negara-negara besar di dunia, lebih jauh lagi," kata Erick dalam telekonferensi di Rakernas XVII Hipmi, Jumat, 5 Maret 2021.

Karenanya, Erick menekankan bahwa para pengusaha di Tanah Air setidaknya jangan hanya mengharapkan keberpihakan dari pemerintahMereka juga harus membantu mewujudkan hal itu melalui pembangunan fondasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan nilai-nilai kewirausahaan di masyarakat.

"Keberpihakan tidak akan nyata tanpa ada fondasi dari kapabilitas, track record, dan keahlian. Karena ketika diadu, pasti persaingan di era keterbukaan ini sudah sangat transparan dan itu akan terlihat," ujarnya.

Karenanya, Erick pun berharap kepada pihak Hipmi untuk mau membentuk road map atau peta jalan, guna menentukan dan membuat arah pengembangan organisasi dalam rentang waktu 50 tahun ke depan.

Dia menegaskan, sejak awal menjadi Menteri BUMN pun dirinya telah berupaya untuk memberikan 'challenge' kepada Hipmi dan para pelaku usaha lainnya di Tanah Air, untuk mulai giat membangun aspek keahlian atau expertise di dunia usaha dalam negeri sesuai bidangnya masing-masing.

"Selama ini kita hanya asyik sibuk berpolitik, dan kadang-kadang selalu meminta keberpihakan. Tapi banyak pengusaha yang tumbuh sekarang itu, justru bukan karena hal (keberpihakan) itu. Tapi dari bagaimana mereka bisa melihat peluang dan punya kapabilitas supaya mereka bisa mendapat kesempatan itu," ujarnya.