Erick Thohir Apresiasi BUMN yang Kian Moncer di Pasar Modal

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri BUMN, Erick Thohir mengapresiasi kinerja emiten pelat selama berada di bawah kepemimpinannya. Erick mengaku salut atas kepercayaan pasar modal yang luar biasa pada BUMN.

Ini ditunjukkan dari harga saham BUMN bisa menyaingi bahkan mengalahkan perusahaan-perusahaan asing dan swasta.

"Kita sekarang pertama kalinya saham-saham BUMN dinilai tidak kalah atraktifnya dengan perusahaan-perusahaan internasional dan swasta yang ada di Indonesia. Bahkan return-nya dianggap lebih bagus," ujar Erick dalam acara puncak BUMN Corporate Communications and Sustainability Summit 20/21 (BCOMSS), Jumat (29/1/2021).

Salah satunya, kapitalisasi pasar saham BRI mencapai Rp 603,06 triliun pada 20 Januari 2021. Capaian ini membuat BRI menjadi emiten BUMN pertama dengan kapitalisasi pasar tembus Rp 600 triliun.

Sebelumnya, kinerja indeks saham BUMN20 atau IDX BUMN20 mampu naik hingga 8,49 persen secara year to date (ytd) pada 22 Januari 2021.Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi dibanding indeks lainnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebagai pembanding, kinerja IDX BUMN20 mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 5,49 persen ytd dan indeks LQ45 yang menguat 6,06 persen secara year to date (ytd).

Kinerja Indeks Saham BUMN Melambung, Ini Kata Analis

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melejit sejak awal 2021. Tercermin dari indeks IDX BUMN20 yang menguat hingga 8,49 persen secara year to date (ytd) pada 22 Januari 2021.

Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi dibanding indeks lainnya di bursa. Sebagai pembanding, kinerja IDX BUMN20 mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 5,49 persen ytd. Indeks IDX BUMN20 juga mengalahkan kinerja indeks LQ45 yang menguat 6,06 persen.

Peningkatan ini ditopang oleh sejumlah harga saham emiten yang mencatatkan kenaikan signifikan. Antara lain ada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) hingga 48,84 persen hingga 22 Januari 2021 menjadi Rp 2.880 per saham. Kemudian ada PT Timah Tbk (TINS) yang harga sahamnya menguat 48,15 persen menjadi Rp 2.200 per saham.

Selanjutnya PT Waskita Karya Tbk (WSKT) naik 18,06 persen persen hingga 22 Januari 2021 menjadi Rp 1.700 per saham. PT Elnusa Tbk (ELSA) menyusul dengan kenaikan 21,02 persen menjadi Rp 426 per saham. Lalu emiten farmasi PT Kimia Farma Tbk (KAEF) meningkat hingga 5,18 persen menjadi Rp 4.470 per saham.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta menuturkan, secara teknikal IDX BUMN20 masih dalam kategori uptrend. Ini ditopang emiten kapitalisasi besar dari BUMN perbankan, infrastruktur dan pertambangan.

"Dari masing-masing saham, kinerjanya dari awal Januari hingga saat ini cenderung positif. Karena Januari ini sentimennya berupa January Effect dan pemberitaan positif mengenai recovery perekonomian, baik dari global maupun indonesia,” ujar Nafan kepada Liputan6.com, Minggu, 24 Januari 2021.

Selain itu, juga ada sentimen vaksinasi COVID-19. Terkait sentimen yang satu ini, Nafan lebih menekankan pada infrastruktur vaksinasi. Termasuk pemerintah berencana menggandeng perusahaan swasta untuk turut ambil bagian dalam distribusi vaksin.

Nafan menyebutkan sektor saham BUMN yang bisa dicermati antara lain BUMN sektor keuangan, infrastruktur, BUMN karya, pertambangan, dan telekomunikasi.

Sentimen Lainnya

Pengunjung mengambil foto layar indeks harga saham gabungan yang menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Sebelumnya, Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin.(Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pengunjung mengambil foto layar indeks harga saham gabungan yang menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Sebelumnya, Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin.(Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dihubungi secara terpisah, Head Of Research Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi membeberkan beberapa faktor yang mempengaruhi saham BUMN pada 2021.

Salah satu, komitmen pemerintah yang melakukan rancangan pemulihan ekonomi dari dampak pandemi melalui BUMN. Termasuk pembuatan vaksin yang lebih banyak melibatkan BUMN farmasi di Indonesia.

Dari perbankan BUMN, pemerintah telah menyuntik sejumlah dana sebagai tambahan likuiditas perbankan untuk restrukturisasi kredit, terutama untuk UMKM.

"Selain itu, pemerintah juga melakukan penggabungan (merger) tiga Bank Syariah BUMN yang digadang-gadang akan masuk top ten bank tersebsar di dunia,” jelas Lanjar.

Selanjutnya, ada pembentukan holding Indonesia battery yang menjadikan ANTM sebagai hulunya. Proyek ini disebut akan membawa Indonesia sebagai produsen baterai terbesar di dunia.

Pembentukan holding lain yang juga berkontribusi pada prospek saham BUMN pada 2021 adalah holding pariwisata. Hal ini akan menguatkan sektor pariwisata di tengah pandemi COVID-19.

Tak kalah penting, yakni pembentukan sovereign wealth fund (SWF) Indonesia. Melalui SWF Indonesia, maka sumber dana terbesar perusahaan BUMN karya yang tadinya dari hutang menjadi dana investasi langsung.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini