Erick Thohir Ingin Dikenang Sebagai Pengusaha Dibanding Politisi, Ini Alasannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir meluncurkan buku biografi berjudul "(Bukan) Kisah Sukses Erick Thohir" di Indonesia International Book Fair, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (10/11).

Dalam acara sesi tanya jawab bersama awak media, Erick mengaku lebih ingin dikenang sebagai seorang pengusaha ketimbang politisi. Dia beralasan seorang pengusaha berkontribusi besar dalam mendorong kemajuan ekonomi suatu bangsa.

"Saya selalu bangga sebagai seorang entrepreneur. Karena membangun (ekonomi) sebuah bangsa," ujarnya kepada awak media.

Erick mengatakan, di banyak negara maju rasio kewirausahaannya lebih tinggi dibandingkan negara berkembang. Erick mencatat, rasio kewirausahaan di Singapura berkisar 9 persen dibandingkan Indonesia yang masih ada dikisaran 3 persen.

"Jadi, kalau kita ingin jadi negara maju ya kita harus jadi pengusaha," katanya.

Selain itu, lanjut Erick, pengusaha juga berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Sebab, pemerintah pusat mempunyai keterbatasan untuk menyerap jumlah pekerja yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

"Jadi, membuka lapangan kerja itu tidak bisa hanya disandarkan pada pemerintahan pusat," ucapnya.

Peluncuran Buku

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meluncurkan biografi berjudul (Bukan) Kisah Sukses Erick Thohir. Buku ini menyajikan lika-liku perjalanan hidup Erick Thohir hingga menjabat orang nomor satu di Kementerian BUMN.

"Jika buku pertama banyak membahas soal perjalanan saya di bisnis media, maka buku ini mengulas berbagai hal baik hidup hingga karier," kata Erick di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Kamis (10/11).

Dari sisi usaha, Erick menceritakan dengan gamblang lika-liku dan pasang surut dirinya dalam membangun usaha. Bahkan, dia sempat mengalami usaha yang harus tutup.

"Ada kalanya berjalan sukses atau sebaliknya. Sesuai tajuknya, buku ini mengulas dinamika tersebut. Ada saat sukses maupun yang bukan sukses. Tapi Alhamdulillah, dinamika itu banyak memberi pelajaran dan pendewasaan diri," ujarnya.

Erick mengatakan "(Bukan) Kisah Sukses Erick Thohir" merupakan buku kedua, setelah pada 2011, ia meluncurkan buku pertama berjudul "Pers Indonesia di Mata Saya". Erick melihat ada sisi-sisi baru yang diungkap dari buku ini.

"Jika buku pertama banyak membahas soal perjalanan saya di bisnis media, maka buku ini mengulas berbagai hal baik hidup hingga karier," kata Erick.

Erick menyebut banyak informasi yang ditulis dalam buku ini berisi peristiwa yang tidak tersorot atau diketahui media. Sebagai bagian dari transparansi, Erick sengaja menuangkan informasi tersebut dalam buku ini secara apa adanya. Termasuk menceritakan tentang kehilangan kawan sekaligus mentor hidup, yakni sang ayah, Haji Muchamad Teddy Thohir.

"Oleh karena itu, mungkin buku ini bisa jadi jendela buat publik untuk mengetahui life journey dari seorang Erick Thohir," ungkap dia. [idr]