Erick Thohir: Jangan Bandingkan Laba Pertamina dengan Petronas, Kondisinya Berbeda

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan bahwa kinerja PT Pertamina (Persero) tidak bisa dibandingkan perusahaan minyak milik Malaysia yakni Petronas. Khususnya terkait perolehan laba lebih besar yang dibukukan Petronas ketimbang Pertamina.

Erick menerangkan, Petronas merupakan perusahaan yang memproduksi minyak mentah. Sementara, Pertamina masih mengandalkan impor minyak mentah dan produk olahannya seperti BBM.

"Artinya tidak bisa dibandingkan misalnya (laba) Pertamina dengan Petronas ya beda, karena petronas masih produksi, kalau kita negara mengimpor, kondisinya beda," kata Erick dalam seminar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bertajuk "Menuju Masyarakat Cashless" di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (3/8).

Meski begitu, Erick memastikan pemerintah tetap berkomitmen untuk melindungi daya beli masyarakat di tengah mahalnya harga minyak mentah dunia. Antara lain dengan tetap mempertahankan subsidi BBM dan listrik bagi masyarakat yang tidak mampu.

"Itu membuktikan kembali bahwa pemerintah hadir dari hal bagaimana bahwa kita tahu daya beli masyarakat lagi tertekan," ucapnya.

Erick meminta Pertamina untuk memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi di tengah mahalnya harga minyak mentah dunia. Hal ini demi memastikan program Subsidi BBM bisa tepat sasaran.

"Itu yang tentu Pertamina harus jaga, bagaimana mendukung program pemerintah yang namanya sekarang BBM subsidi, tetapi bukan berarti pertamina tak melakukan efisiensi di mana-mana," pungkasnya.

Laba Pertamina Sempat Kalahkan Petronas

Laba PT Pertamina sempat mengalahkan laba Petronas, yaitu pada 2016 silam. Direktur Utama PT Pertamina kala itu, Dwi Soetjipto menyebut bahwa laba yang dimiliki perusahaannya sudah mencapai USD 3 miliar atau Rp40 triliun di 2016. Menurutnya, laba tersebut sudah mengalahkan pencapaian oleh Petronas.

"Tahun ini (2016) pertama kalinya Pertamina bisa kalahkan Petronas. Ini adalah sementara sebab aset Pertamina hanya sepertiga aset Petronas," kata Dwi di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (4/1/2016).

Untuk mempertahankan posisi tersebut, lanjutnya, perusahaan energi ini perlu meningkatkan investasi jangka panjang. Dengan demikian, dia menargetkan hingga 10 tahun ke depan laba Pertamina bisa menembus angka Rp1.000 triliun.

Dwi menambahkan, salah satu langkah yang akan dilakukan perusahaannya adalah dengan meningkatkan sinergi dengan Perusahaan Gas Negara (PGN), juga meningkatkan koordinasi dengan Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

"Ke depan paling tidak Rp 1.000 triliun itu bisa membuat aset Pertamina dua kali lipat dari sekarang. Maka harus ada bentuk terobosan lain untuk kita bisa kalahkan Petronas," imbuhnya. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel