Erick Thohir Rilis Buku (Bukan) Kisah Sukses, Ungkap Lika-Liku Perjalanan Bisnis

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir meluncurkan biografi berjudul (Bukan) Kisah Sukses Erick Thohir. Buku ini menyajikan lika-liku perjalanan hidup Erick Thohir hingga menjabat orang nomor satu di Kementerian BUMN.

"Jika buku pertama banyak membahas soal perjalanan saya di bisnis media, maka buku ini mengulas berbagai hal, baik hidup hingga karier," kata Erick di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Kamis (10/11).

Dari sisi usaha, Erick menceritakan dengan gamblang lika-liku dan pasang surut dirinya dalam membangun usaha. Bahkan, dia sempat mengalami usaha yang harus tutup.

"Ada kalanya berjalan sukses atau sebaliknya. Sesuai tajuknya, buku ini mengulas dinamika tersebut. Ada saat sukses maupun yang bukan sukses. Tapi Alhamdulillah, dinamika itu banyak memberi pelajaran dan pendewasaan diri," ujarnya.

Erick mengatakan "(Bukan) Kisah Sukses Erick Thohir" merupakan buku kedua, setelah pada 2011, dia meluncurkan buku pertama berjudul "Pers Indonesia di Mata Saya". Erick melihat ada sisi-sisi baru yang diungkap dari buku ini.

"Jika buku pertama banyak membahas soal perjalanan saya di bisnis media, maka buku ini mengulas berbagai hal baik hidup hingga karier," kata Erick.

Erick menyebut banyak informasi yang ditulis dalam buku ini berisi peristiwa yang tidak tersorot atau diketahui media. Sebagai bagian dari transparansi, Erick sengaja menuangkan informasi tersebut dalam buku ini secara apa adanya. Termasuk menceritakan tentang kehilangan kawan sekaligus mentor hidup, yakni sang ayah, Haji Muchamad Teddy Thohir.

"Oleh karena itu, mungkin buku ini bisa jadi jendela buat publik untuk mengetahui life journey dari seorang Erick Thohir," ungkap dia.

Perkaya Literasi Masyarakat Indonesia

Seperti halnya biografi, lanjut Erick, tentu saja tak mungkin merekam secara utuh seluruh sisi kehidupan seorang manusia, namun dia menyebut buku ini mewakili sebagian besar apa yang ia jalani dalam hidup selama ini. Bagi Erick, buku ini berguna juga sebagai cermin untuk melihat apa yang kurang, atau harus dikoreksi, karena sebagai manusia tentu tak lepas dari kekurangan dan kelemahan.

"Semoga apa yang baik bisa diambil oleh pembaca, dan yang buruk ditinggalkan bagi saya untuk diperbaiki," ucap Erick.

Erick berharap buku ini dapat memperkaya literasi di Indonesia. Harapan kepada para pembaca, khususnya generasi muda, jangan pernah menyerah pada keadaan sesulit apapun tantangan dan cobaan yang menerpa. Seperti salah satu quote dalam buku ini, "Kesuksesan memerlukan waktu. Sebaliknya kegagalan adalah saat menyerah karena merasa tak lagi memiliki waktu."

"Mari kita terus berusaha dan berjuang selagi masih diberikan waktu oleh Tuhan. Seperti prinsip yang telah dicontohkan para pahlawan kita, sesuai dengan semangat hari ini yang merupakan Hari Pahlawan; "berjuang hingga titik darah penghabisan!" kata Erick menambahkan.

Untuk diketahui, buku ini ditulis oleh seorang jurnalis Republika yang meraih anugerah Adinegoro, Abdullah Sammy.
Erick mengatakan Sammy sangat dekat dan begitu memahami perjalanan hidup dan karir dirinya.

"Saya mengapresiasi karya saudara Sammy, meskipun tentu saja apa yang dituliskan oleh Sammy adalah fakta-fakta tentang saya yang dipahami dan ditafsirkan oleh penulis. Oleh karena itu, mungkin buku ini bisa jadi jendela buat publik untuk mengetahui life journey dari seorang Erick Thohir," ungkap dia. [idr]