Erick Thohir: Setoran Deviden BUMN ke Negara Tak Boleh Turun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir terus berkomitmen mendorong perusahaan-perusahaan BUMN agar melakukan transformasi. Setidaknya dia ingin ada empat perubahan dilakukan BUMN di Tanah Air.

"Inisiasi transformasi yang terjadi di BUMN ini kan kita tidak hanya semata-mata menjadi bagian restrukturisasi atau pengurangan jumlah BUMN dari 108 ke 41. Tidak cukup itu. Transformasi kita harapkan di BUMN-BUMN ini sebenarnya ada empat," kata dia dalam Penandatanganan Perjanjian Pengalihan Saham dalam Rangka Pembentukan Holding Ultra Mikro, Senin (13/9/2021).

Pertama, Erick ingin memastikan BUMN ini secara korporasi dapat bisa memberikan kontribusi yang konsisten dan besar kepada negara. Sejauh ini BUMN punya track record baik memberikan Rp3.295 triliun selama 10 tahun terakhir berupa pajak dan deviden.

"Dan ini saya yakini sangat bermanfaat untuk negara. Pertanyaannya, tentu dengan Covid-19 seperti ini kita nggak boleh turun. Kita harus paling tidak sama atau pun meningkat. Karena negara pemasukannya berkurang. Salah satunya dengan apa? memastkian supplai chain dan ekosistem untuk menjadikan efisiensi sehingga BUMN tetap sehat," jelasnya.

Kedua, Mantan Bos Inter Milan itu juga ingin BUMN dapat berubah ke arah digitalisasi di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Sehingga mau tidak BUMN harus memastikan bisa bekompetisi di pasar yang sangat terbuka.

"Karean digital ini udah nggak tertutup. Dan ini kita meminta di pasca Covid BUMN punya bisnis model yang sangat kuat. Ultra mikro UMKM kita sinergikan, supaya kita mempunyai kekuatan bagiamana keseimbangan ekonomi ini benar terjadi. Bukan hanya lip service," jelasnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Selanjutnya

Menteri BUMN, Erick Thohir (dok: KBUMN)
Menteri BUMN, Erick Thohir (dok: KBUMN)

Ketiga, Erick ingin BUMN bisa memberikan dampak penuh kepada masyarakat dan ini bisa benar-benar terjadi di lapangan. Khususnya kepada para pelaku usaha ultra mikro yang membutuhkan akses permodalan.

"Cita-cita yang ingin kita pastikan tadi, akses daripada pendanaan dimudahkan kepada orang-orang yang terpercaya. Bukan berarti kita memberikan akses modal kepada individu yang track record tidak bagus. Dan kita bisa menekan bunga dari mereka bisa lebih kompetitif lagi," sebutnya.

Terakhir, tentunya perubahan terhadap internal BUMN itu sendiri. Erick ingin perubahan-perubahan dilakukan setiap BUMN konsisten secara berlanjut. "Tapi ini kan legacy yang dibangun problemnya kadang-kadang nggak sustain. Ide hari ini, SOP-nya nggak dijalanin, ke depannya nggak akan transform," tandasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel