Erick Thohir Soal Harga Vaksin Gotong Royong: Jangan Dilihat Pemerintah Cari Untung

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menanggapi kritik terhadap harga vaksin gotong royong yang dinilai terlalu mahal. Menurutnya, penentuan harga vaksin tersebut sudah sesuai dengan survei dan mempertimbangkan kemampuan badan usaha.

Erick bilang, pemerintah tidak pernah berpikir untuk mengkomersialisasi vaksin. Namun realitanya, pengadaan vaksin tetap membutuhkan dana.

"Memang ada dua pengadaan yang dilakukan saat ini, vaksin gratis dari WHO, Gavi dan Covax 54 juta, lalu pemerintah melakukan pengadaan vaksin hampir Rp 77 triliun, itu dibeli dan dibagikan secara gratis," ujar Erick dalam konferensi pers, Rabu (19/5/2021).

Lanjutnya, harga vaksin ditetapkan bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) secara transparan dan diaudit oleh Badan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), mulai dari harga pembelian, harga pendistribusian hingga harga jual.

Berdasarkan survei Kadin, 78 persen pengusaha mengaku siap membeli vaksin untuk vaksinasi gotong royong dengan harga di bawah Rp 500 ribu. Sisanya, sanggup di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

Erick bilang, sejak Covid-19 melanda Indonesia, Kementerian BUMN sudah melakukan public service secara konsisten baik melalui CSR seperti persiapan wisma atlet untuk karantina pengidap Covid-19 hingga sentra vaksinasi BUMN yang sudah melayani lebih dari 1 juta orang.

"Jadi jangan dilihat seakan-akan pemerintah mencari margin. Pemerintah sudah mengeluarkan Rp 77 triliun untuk vaksin gratis. Jangan sampai ada pemikiran BUMN mengkomersialisasi vaksin," tandasnya.

22.736 Perusahaan Ikut Program Vaksin Gotong Royong

Petugas medis menyuntikkan vaksin COVID-19  kepada pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksinasi Gotong Royong memfasilitasi badan usaha yang mau membeli vaksin untuk karyawannya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas medis menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksinasi Gotong Royong memfasilitasi badan usaha yang mau membeli vaksin untuk karyawannya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, antusiasme para pengusaha untuk mengikut sertakan karyawannya dalam program Vaksin Gotong Royong sangat besar. Program ini dijalankan guna memutar kembali roda sektor industri.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mencatat, sebanyak 22.736 perusahaan telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program Vaksin Gotong Royong. Angka itu mencakup 10 juta pekerja maupun karyawan.

"Saya sampaikan di sini, yang melakukan registrasi atau pendaftaran di Kadin melalai link Kadin itu sudah 22.736 perusahaan. Dan ini sudah menyentuh 10 juta orang (pekerja)," ujarnya dalam acara Sosialisasi Kadin Indonesia terkait Sentra Vaksinasi Gotong Royong, Rabu (19/5/2021).

Rosan mengungkapkan, penyelenggaraan program Vaksin Gotong Royong sendiri buah dari pemikiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) di awal tahun 2021. Kala itu, Jokowi mengajak Kadin untuk duduk bersama guna mencari solusi untuk mempercepat kekebalan kelompok untuk membangkitkan sektor industri di tengah pandemi Covid-19 melalui program vaksinasi secara mandiri.

"Dan, Alhamdulillah ini disambut baik oleh teman-teman dunia usaha," terangnya.

Oleh karena itu, dia optimis, animo pelaku usaha di Indonesia akan terus meningkat untuk mengikuti pelaksanaan program Vaksin Gotong Royong. Mengingat, adanya maksud baik dari pelaksanaan program tersebut.

"Dan yang membuat kami surprise dari awal, ternyata dari UKM usaha kecil dan menengah pun sudah melakukan registrasi juga di kita," tekannya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: