Erick Thohir Soal Isu Komisaris Titipan: Saya Juga Titipan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri BUMN Erick Thohir angkat bicara tentang kritik yang dilayangkan banyak pihak terkait penunjukkan komisaris BUMN. Dikatakan, komisaris di banyak BUMN merupakan titipan dan bagian politisasi BUMN.

Menurutnya, pengangkatan komisaris di seluruh BUMN merupakan upaya untuk menegakkan Good Corporate Governance (GCG) serta memastikan program perusahaan bisa berjalan.

"Saya juga titipan. Contoh kenapa kita angkat Pak Amien (Sunaryadi), kita angkat sebagai Komut PLN, backgroundnya KPK, BPKP, itu untuk memberikan kepercayaan. Pak Agus Marto, mantan Gubernur BI mau membantu BNI," ujar Erick dalam video yang diunggah akun Karni Ilyas Club, ditulis Minggu (1/11/2020).

Kata Erick, BUMN dibentuk oleh negara, sehingga yang bisa mengubah ketentuan BUMN ialah undang-undang. Dengan demikian, keputusan membolehkan komisaris memiliki jabatan rangkap juga menjadi hak pemerintah, apalagi jika melibatkan tokoh perwakilan pemerintah.

"Misalnya Kementerian Perindustrian ada perwakilan di Pupuk (Pupuk Indonesia), Kementerian ESDM ada perwakilan di Pertamina dan PLN," jelas Erick Thohir.

Selain itu, terdapat pula perwakilan komisaris dari kalangan masyarakat. Dirinya tidak menampik bahwa pengangkatan komisaris perwakilan masyarakat sering kontroversial karena bisa berasal dari kalangan akademisi dan relawan.

"(Makanya) komposisinya kita jaga seperti profesional, seperti Pak Chatib, Pak Agus Marto, komposisinya harus pas, dipastikan juga kompetensi atau background terjaga. Jangan sampai malah merusak good governance tadi," jelasnya.

Erick menegaskan, saat menjabat suatu posisi, maka seseorang harus selalu siap, baik diangkat maupun dicopot. Seperti dirinya, Menteri BUMN, yang menjadi pembantu Presiden, harus siap akan hal itu.

"Kadang-kadang, komisaris kan ada masa jabatannya. Kalau dicopot, pada marah. Nah ini, tahun depan nanti, kami BUMN ada 2 program, salah satunya pembangunan karakter dan job desk direksi," kata Erick.

Cerita Erick Thohir jadi Pebisnis di Masa Sulit: Saya Melepas Hobi, Motor Tua dan Lukisan

Menteri BUMN Erick Thohir (dok: KBUMN)
Menteri BUMN Erick Thohir (dok: KBUMN)

Krisis yang disebabkan wabah Covid-19 sudah berjalan 8 bulan lamanya. Tak hanya membuat orang yang sehat menjadi sakit, pandemi juga membuat bisnis yang baik-baik saja menjadi semrawut.

Kendati meresahkan, pandemi bisa menjadi kesempatan bagi pebisnis untuk melakukan perubahan. Setidaknya, itulah prinsip yang diteguhkan pengusaha sukses yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN Erick Thohir dalam melewati krisis kesehatan dan ekonomi ini.

Menurutnya, dalam krisis, mau tidak mau pengusaha harus mengambil risiko untuk keberlangsungan bisnisnya. Risiko yang diambil akan berdampak pada kondisi perusahaan nantinya.

"Di masa krisis, kita harus berani ambil keputusan. Kalau kerja dengan hati, produk yakin ada, market tetap jalan, itu challenge sebagai pengusaha. Kalau secara profesional, kita pikirkan risikonya. Kita sebaiknya ambil risiko," ujar Erick Thohir dalam tayangan virtual, Rabu (28/10/2020).

Erick menceritakan pengalamannya memimpin perusahaan, tepatnya di rentang waktu 2004 hingga 2006. Bisnisnya sedang kesulitan saat itu.

Dulu, pilihannya ialah mengurangi pegawai, menutup usaha, meminjam dana dari perbankan atau memaksimalkan potensi yang dimiliki. Pilihan ini adalah bagian dari risiko yang harus diambil.

"Waktu itu saya melepas hobi saya, motor tua, lukisan. Kita harus pikirkan risiko terhadap karyawan dan perusahaan," katanya.

Erick Thohir juga bilang, krisis memaksa seluruh pihak termasuk pelaku usaha untuk menciptakan kesempatan baru dan bertransformasi ke arah yang lebih canggih.

"Saat krisis, ini ada kesempatan. Juga ketika krisis mau tidak mau harus go digital. Ada jenis pekerjaan yang hilang, dan justru ada yang baru juga," ujar Erick.

Saksikan video di bawah ini: