Eropa Gelombang Kedua Pandemi, Jokowi: Jangan Hilang Kewaspadaan

Daurina Lestari, Eduward Ambarita
·Bacaan 1 menit

VIVA – Presiden Jokowi mewanti-wanti jajaran di bawahnya terkait gelombang kedua pandemi COVID-19. Dari data yang diperoleh, sejumlah negara di Eropa mencatatkan angka kenaikan kasus positif cukup signifikan dalam kurun waktu belakangan ini.

"Sekali lagi hati-hati karena di Eropa sudah muncul gelombang kedua yang naiknya sangat drastis sekali. Jadi jangan sampai kita teledor, jangan kita kehilangan kewaspadaan sehingga kejadian itu terjadi di negara kita," kata Jokowi saat sidang kabinet paripurna, Senin, 2 November 2020.

Jokowi menyebut Inggris, Italia, Spanyol dan Jerman mengalami gelombang kedua pandemi COVID-19. Selain urus ekonomi, kata dia, urusan kesehatan juga masalah utama di masa krisis saat ini.

"Ini agar menjadi perhatian kita semuanya dan kehati-hatian kita semuanya," kata Kepala Negara.

Baca juga: Viral Pria Gelantungan di Tiang Jembatan Rel Kereta, Ini Respons KAI

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Spanyol telah mengumumkan keadaan darurat nasional, dan menetapkan peraturan jam malam nasional, dalam upaya untuk menekan penyebaran virus corona yang semakin melonjak. Spanyol menjadi negara Eropa pertama yang telah melampaui satu juta kasus COVID-19 yang tercatat secara resmi.

Semakin banyak daerah di Spanyol telah meminta penetapan keadaan darurat, yang memungkinkan pemerintah daerah untuk memberlakukan lockdown, dan larangan bepergian dalam kasus-kasus tertentu. Pemimpin daerah juga akan memiliki kewenangan untuk membatasi pertemuan hingga enam orang yang tidak tinggal bersama.

Tidak hanya Spanyol, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Angela Merkel, baru-baru ini, memerintahkan karantina wilayah kembali diberlakukan di negara mereka.

"Saya telah memutuskan bahwa kita perlu kembali ke penguncian untuk menghentikan virus. Virus itu beredar dengan kecepatan yang bahkan tidak diantisipasi oleh perkiraan yang paling pesimistis," ujar Macron dalam pidato yang disiarkan televisi.

Hal serupa juga disampaikan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, dalam pengumumannya, Minggu kemarin. Lockdown di negara kerajaan Britania Raya itu bakal berlaku selama satu bulan ke depan.