ESDM: RI targetkan netralitas karbon selaras tren kebijakan global

Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Yudo Dwinanda Priaadi mengatakan Indonesia telah meletakkan target untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2060, mengingat tren kebijakan energi global kini bergerak dari energi fosil menuju energi bersih.

"Bagian terpenting dari rencana tersebut adalah meningkatkan Energi Baru Terbarukan (EBT). Indonesia memiliki potensi EBT yang besar, beragam, dan tersebar di sejumlah wilayah Indonesia," kata Yudo dalam webinar bertajuk Transisi Energi Menuju NZE 2060 yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Kementerian ESDM memproyeksikan Indonesia memiliki potensi EBT 3.686 GigaWatt (GW), namun angka dimanfaatkan tergolong kecil hanya 0,3 persen atau 11,5 GW. Kondisi itu, lanjutnya, menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dengan meningkatkan porsi bauran EBT.

Hingga tahun 2021 total ada 11,5 GW pembangkit energi bersih yang terpasang dengan tambahan 650 MW bersumber dari pembangkit tenaga air, panas bumi, bioenergi, mikro hidro, dan radiasi matahari.

Baca juga: Kementerian ESDM giatkan pengembangan EBT berbasis masyarakat

"Upaya lain adalah menetapkan green RUPTL PLN yang menargetkan 20,9 GW penambahan kapasitas EBT hingga tahun 2030. Pengembangan EBT itu dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan neraca daya listrik di Indonesia," kata Yudo.

Beberapa terobosan kebijakan untuk EBT, antara lain mendorong produk hijau pada sektor jasa dan industri hijau untuk menghindari penerapan pajak karbon di tingkat global, misalnya mengolah limbah biomassa untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Selain itu, Indonesia juga mengupayakan program konversi pembangkit listrik tenaga diesel atau dedieselisasi dengan mengonversi 5.200 unit pembangkit listrik diesel ke potensi EBT yang tersebar di 2.130 lokasi di Indonesia. Total kapasitas pembangkit listrik dalam program tersebut mencapai 2,37 GW.

Bahan bakar biodiesel B40 juga mulai uji jalan terhadap 12 jenis kendaraan berbeda dengan rincian enam kendaraan ringan mesin diesel di bawah 3,5 ton dan enam kendaraan berat di atas 3,5 ton.

Baca juga: Kementerian ESDM uji jalan kendaraan diesel berbahan bakar B40

Pemerintah juga menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menerapkan teknologi co-firing agar dapat menggunakan bahan bakar substitusi biomassa sebanyak 10,2 juta ton.

Eksplorasi panas bumi pada 20 wilayah kerja dari total sumber daya 1.869 MWdan pemutakhiran perencanaan eksplorasi di 13 wilayah kerja dengan total sumber daya 776 MW juga dilakukan demi mewujudkan target netralitas karbon pada tahun 2060.

Saat ini, katanya, pemerintah sedang meningkatkan pembangunan infrastruktur EBT off grid guna meningkatkan elektrifikasi melalui pengembangan off grid Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE), alat penyalur daya listrik , dan penerangan jalan umum berbasis tenaga surya.

"PLTS atap juga merupakan fokus utama pemerintah bahkan kementerian ESDM telah menyiapkan hibah sustainable energy fund untuk menarik lebih banyak konsumen listrik yang ingin listrik lebih hijau," ujar Yudo.

Baca juga: Kementerian ESDM: Jaringan listrik cerdas jadi kunci capai target NZE