Estimasi Biaya Vaksin Gotong Royong: Rp1 Juta untuk Dua Dosis

·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Bio Farma menyatakan, telah memiliki alokasi Vaksin COVID-19 Sinopharm sebanyak 500 ribu dosis untuk tahap pertama penyuntikan vaksin gotong royong. Vaksin yang didanai oleh para pengusaha ini akan mulai disuntikkan kepada para buruh mulai 17 Mei 2021.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Bio Farma, Bambang Heriyanto mengatakan, jumlah dosis yang akan diperuntukkan untuk vaksin ini bukan sebanyak 982.400 dari vaksin Sinopharm, melainkan hanya sebanyak 500 ribu dosis.

"Sebetulnya perlu dikoreksi juga ya tadi jumlah total itu sebetulnya total yang sudah kita terima dari Sinopharm, 1 juta dosis. 500 ribu dalam bentuk donasi dari Uni Emirat Arab dan 500 ribunya nanti yang akan dialokasikan untuk vaksin gotong royong," katanya, Kamis, 6 Mei 2021.

Oleh sebab itu, dia mengatakan, akan sebanyak dua kali kedatangan untuk jenis vaksin ini. Pertama telah tiba di Indonesia pada 30 April sebanyak 482.400 kemudian 1 Mei ada tambahan 17.600 sehingga totalnya adalah 500 ribu.

"Dari total kita harapkan 7,5 juta untuk tahap pertama ini masuk sampai dengan September, jadi ini memang datangnya bertahap karena kita tahu kebutuhan vaksin dunia tinggi jadi kita berkompetisi juga untuk mendapatkan suplai secara kontinu," paparnya.

Adapun dari sisi harga, dia mengatakan, pada dasarnya masih dalam tahap perhitungan bersama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Namun, seperti yang sudah diinformasikan, satu dosisnya diperkirakan Rp500 ribu.

"Sehingga betul-betul harga ini dibuka, struktur harga dibuka, berapa keuntungannya, estimasi sudah pernah disampaikan kisaran Rp500 ribu per dosis termasuk pelayanan. Jadi dua dosis Rp1 juta tapi kita masih tunggu," ungkap Bambang.

Bambang belum bisa memastikan kapan harga tetapnya akan bisa diumumkan. Namun, dipastikannya finalisasi harga ini akan bisa diinformasikan dan ditetapkan menteri kesehatan sebelum proses vaksinasi gotong-royong pada 17 Mei 2021.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sebagai pendata peserta vaksin gotong royong menyatakan masih belum bisa berkomentar mengenai estimasi harga. Dia mengatakan masih perlu ketetapan menteri kesehatan untuk menyikapi besaran estimasi harga ini.

"Tadi belum diputuskan ya oleh Kemenkes (Kementerian Kesehatan) jadi tetap kita harus menunggu Kemenkes walau itu estimasi harga yang sudah disampaikan," ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani.