EURO 2020: Jual Beli Serangan Italia Vs Belgia

·Bacaan 2 menit

VIVA – Tim kuda hitam Belgia akhirnya harus angkat kaki dari gelaran babak 8 besar EURO 2020. Hal ini diperoleh dari pertemuan mereka dengan pasukan negeri pizza, Italia.

Ayunan bak dayung perahu Venezia yang berlayar di sepanjang sungai Italia, namun tetap memperhatikan aliran serta arus air untuk sampai di tempat tujuan. Sama halnya malam ini, hempasan syahdu ala dayung Venezia ternyata tidak mampu diterjang oleh serangan seporadis Belgia.

Padanan Lukaku, Bruyne, dan Doku yang cukup berhasil memainkan peran E. Hazard sebagai penopang Lukaku dengan kolaborasi Bruyne belum dapat maksimal.

Ironisnya, duet Immobile, Chiesa, dan Insigne nyatanya lebih ampuh dengan melahirkan 2 gol.

Barella sebagai gelandang serang mampu membuat perbedaan di menit 31. Seakan trio ICI (Immobile, Chiesa, dan Insigne) tidak mau kalah sebagai pemain depan, pada menit ke 44 melalui serangan one-two yang berhasil membuat celah di lini belakang Belgia dengan mudah di-shoot oleh insigne, golll.

Seakan itu semua bukanlah akhir dari hayat Belgia, di babak pertama akhir pertandingan, rezeki didapat oleh Belgia dengan hadiah pinalti melalui dilanggarnya Doku.

Lukaku sebagai pemain klub Italia tidak menyia-nyiakan peluang itu, apalagi penjaga gawang Italia juga merumput disana. Totalitas tendangan kaki kiri agak menyamping ke arah kiri gawang berhasil mengecoh Italia.

Selanjutnya, melalui serangan khas tim pizza dengan long pass serta terobosan ala coach Mancini ternyata menjadi senjata ampuh untuk meredam meriam Belgia.

Begitupun juga Belgium yang memainkan skema kolektivitas tim dengan motor penggerak Bruyne yang selalu disiplin membantu area belakang dan depan turut andil menjadi efek jual beli serangan pada laga ini.

Tentu saja, status bintang E. Hazard masih belum bisa tergantikan sekaligus peran sentralnya dalam menakhkodai irama permainan tim. Seharusnya Belgia harus bisa membaca hal ini dengan baik.

Pola yang lebih menjaga tradisi senioritas ditopang dengan permainan sentral hanya dari sosok pemain saja akan menjadikan titik mangsa dalam skenario absenya sosok tersebut.

Roberto Martines juga harus kerap memainkan bidak pion dari sisi bangku cadangan, ia harus ingat bahwa kompetisi tidak hanya EURO dalam waktu dekat ini. Pola menguras tenaga pemain senior tanpa kurang memberikan efek bermain pada junior itu akan berdampak pada timnas mereka.

Timnas ini bisa belajar dari kiprah Italia tentunya. Mereka bermain dengan kolektivitas tim melalui ciri khas permainan Italia mulai sejak zaman baheula. Belgia juga harus dapat menetukan ciri khas permainan mereka sedari dini.

Mungkin skema seporadis dengan memainkan penyerang full dengan back up 2 pemain tengah dan satu bek seperti De Panzer bisa menjadi referensi mereka. Tentu saja pekerjaan rumah mereka ada pada gelandang.

Kolaborasi main tim mereka di posisi gelandang hanya menyisakan Meunier saja sebagai gelandang dengan ciri khas bertahan sedangkan T. Hazard, Witsel, dan Tielemans lebih agresif menyerang.

Oleh karenanya harus ditambah satu lagi untuk dapat mematangkan ciri khas seporadis ala De Panzer. Selain itu, dominasi satu klub juga menjadi bomerang di kala skuadnya bermain dengan lawan yang pernah bersua dengan mereka atau paling tidak satu liga. (Ahmad Afif, Pecinta Sepakbola)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel