Evaluasi PBSI Lihat Pebulutangkis Indonesia Hancur Lebur di Thailand

Pratama Yudha
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Rionny Mainaky, menyatakan bakal melakukan evaluasi besar-besaran terkait hasil negatif pebulutangkis Indonesia selama di Thailand. Dia menyebut Indonesia gagal memenuhi target yang diberikan.

Indonesia mengikuti tiga turnamen yang dihelat di Negeri Gajah Putih. Mulai dari BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 1, BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 2, dan BWF World Tour Finals 2020.

Sayangnya, tim Merah Putih cuma berhasil membawa satu medali emas yang dipersembahkan ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Mereka menjuarai BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 1.

Sementara, di BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 2, tak ada satu pun wakil di final. Greysia/Apriyani dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan terhenti di semifinal.

Dan di BWF World Tour Finals, dari lima wakil yang lolos di empat sektor, hanya Ahsan/Hendra yang mampu melaju hingga ke final namun kalah dari pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi Lin. Sisanya, tak lolos dari fase grup.

Diakui Rionny, Indonesia gagal dalam memenuhi target yang dibebankan di awal. Salah satu penyebabnya lantaran daya juang atlet menurun selama turnamen berlangsung.

"Kalau melihat dari permainan pertama di Yonex Thailand Open, ketika mereka harus masuk karantina dulu, kemudian baru latihan, sebetulnya memang tidak terlalu mengganggu. Tapi seperti tidak bebas dari sisi latihan, dan memang waktu untuk latihannya pun sedikit," kata Rionny dikutip situs resmi PBSI.

"Tapi secara menyeluruh memang ada penurunan di daya juang, kecuali Greysia/Apriyani, dari sisi konsentrasinya mereka juga bisa konsisten, sampai akhirnya juara. Kalau yang lain masih terlihat goyah. Daya juang ada, tapi terlihat masih naik turun. Mau naik dan bangkit itu susah. Untuk Toyota Thailand Open, dengan target dua medali, justru malah kalah di semifinal dua-duanya (ganda putra dan ganda putri)," lanjut dia.

Untuk hasil di BWF World Tour Finals, Rionny menegaskan belum bisa memberikan evaluasi menyeluruh. Sebab, dia sudah kembali lebih dulu ke Indonesia bersama kloter pertama pada 25 Januari silam.

"Nanti setelah semua kembali ke Jakarta, saya akan kumpulkan semuanya. Ini memang harus benar-benar dievaluasi, bukan dari pemainnya saja tapi dari pelatihnya juga. Harus dicek semua, ditonton ulang lagi pertandingannya. Pelatih masing-masing sektor harus benar-benar evaluasi dan membuat catatan-catatan apa saja yang harus kita benahi," ujar Rionny.

Selain dari segi teknis, kekalahan skuad Indonesia juga dinilai dari sisi non-teknis. Utamanya karena stamina dan motivasi atlet kala bertanding.

"Saya akui juga pemain-pemain lawan terlihat lebih siap bertanding, terutama Chinese Taipei (Lee Yang/Wang Chi Lin) ini. Bukan hanya soal teknis, tapi non-teknis seperti postur, tenaga, mungkin dari makanan, minuman, dan nutrisinya juga lebih oke. Saya akui mereka lebih stabil di tiga kali turnamen ini bisa juara. Jadi yang harus dievaluasi bukan hanya dari sisi teknis saja," tutur Rionny.

"Tapi selain itu, saya rasa intinya adalah bagaimana motivasi para atletnya. Terutama motivasi untuk daya juangnya. Jadi harus kita gali lagi, apa yang bisa membuat mereka lebih semangat lagi," jelas dia.