Event Pengurangan Risiko Bencana Dunia 2022 Hasilkan 7 Rekomendasi, Ini Isinya

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengapresiasi penyelenggaraan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 ke-7 di Nusa Dua Bali. Menurutnya, event itu diakui para jurnalis nasional dan internasional bahwa Indonesia berupaya memberikan kontribusi signifikan dalam mitigasi bencana untuk seluruh dunia.

"Indonesia telah berhasil menyelenggarakan GPDRR 2022 terlepas dari adanya tantangan pandemi Covid-19," kata Suharyanto, Selasa (31/5).

Adapun, GPDRR 2022 di Bali melahirkan 7 rekomendasi. Pertama, adalah pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan pada kebijakan-kebijakan utama pembangunan, pembiayaan, legislasi, dan rencana pencapaian pascaagenda 2030.

Kedua, perubahan sistemik yang dapat memperhitungkan kerugian yang sesungguhnya dari bencana dan kerugian dari ketiadaan aksi, serta membandingkannya dengan investasi. Dalam pengurangan risiko bencana.

Ketiga, platform global yang diselenggarakan antara COP 26 dan 27 beberapa waktu lalu, mencermati tingkat emisi saat ini jauh melebihi upaya mitigasi. Platform global meminta pemerintah untuk menghormati komitmen yang dibuat pada kesepakatan di Glasgow untuk meningkatkan pembiayaan dan dukungan untuk adaptasi dan resiliensi.

Lalu, meningkatkan pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi keadaan darurat seraya meningkatkan dan mencapai ambisi iklim tujuan global tentang adaptasi.

Keempat, menerapkan pendekatan partisipatif dan berbasis HAM, untuk memasukkan semua sesuai prinsip 'Tidak ada apa-apa tentang kita, tanpa kita' dalam perencanaan risiko bencana dan implementasinya pada masyarakat yang berisiko.

Kelima, platform global memberikan rekomendasi yang dapat mendukung pelaksanaan seruan Sekretaris Jenderal PBB untuk memastikan setiap orang di muka bumi dilindungi oleh sistem peringatan dini dalam jangka waktu 5 tahun kedepan.

Keenam, potensi pembelajaran dan pandemi Covid-19 harus diterapkan sebelum jendela peluang tersebut tertutup. Untuk mendorong sistem manajemen risiko bencana yang adaptif dan responsif dengan kolaborasi multi-pemangku kepentingan disertai dengan empati, solidaritas, kerja sama, dan semangat kesukarelaan khususnya untuk mengatasi ketidakadilan.

Ketujuh, pelaporan yang komprehensif dan sistematis terhadap semua target kerangka kerja Sendai untuk memahami dengan jelas tantangan dan hambatan.

Menurut Suharyanto, keberhasilan acara tersebut tidak dapat diraih tanpa kerja keras dan kontribusi dari seluruh kementerian dan lembaga, masyarakat sipil, lembaga usaha, akademisi, serta media.

Sementara, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo Usman Kansog menilai tak mudah mengelola kegiatan multinasional yang melibatkan lebih dari 3.200 orang. Ditambah, lebih dari 150 pembicara dan moderator, maupun 3.000 orang lebih yang bergabung lewat streaming.

Menurutnya, hal itu memerlukan media center yang kuat baik secara infrastruktur dan kemampuan melakukan komunikasi publik. Kata dia, begitu banyaknya informasi penting yang dihasilkan dalam GPDRR ke-7 kali ini membutuhkan amplifikasi informasi yang cepat. Sehingga warga dunia mampu menerima manfaat dari kegiatan ini.

“Sejak awal kami sudah melihat masalah infrastruktur dan komunikasi publik menjadi salah satu suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini. Maka sedari awal kami telah mempersiapkannya dengan baik dan rinci," ujar Usman.

“Sedari awal kami merancang sebuah media center yang mampu menjembatani kebutuhan informasi para jurnalis. Tentu saja ini didukung oleh infrastruktur penunjang lainnya. Seluruh kebutuhan jurnalis saat melakukan peliputan akan kami bantu dengan senyum dan keramahan," jelasnya.

Dia menyatakan, tugas Kominfo bukan hanya menyelengarakan Media Center saja. Tetapi memastikan hasil-hasil yang dicapai dalam kegiatan ini dapat tersebar kepada masyarakat dan media khususnya untuk diamplifikasi kepada masyarakat dunia.

“Jadi kami bukan hanya menjadi operator media center saja. Saya telah menginstruksikan kepada teman-teman untuk membangun media relation yang baik kepada para media untuk memastikan hasil-hasil yang dicapai dapat segera dapat tersebar dengan cepat dan akurat bukan hanya ke media-media dalam negeri juga media luar negeri," tutur Usman.

Lebih lanjut, Head of SG Department Asia-Pacific Broadcasting Union Natalia Ilieva sebagai jurnalis asing mengakui manfaat dan kemudahan yang diberikan oleh media center dalam perhelatan GPDRR di Bali ini. Tingkat keakuratan dan kecepatan informasi menjadi hal yang sangat membantu jurnalis dalam melaksanakan tugasnya.

"Saya bicara atas nama 22 jurnalis yang diorganisir dari serikat kelompok tempat saya bekerja, Kami semua senang berada di sini. Semuanya telah bekerja dengan baik. Dan yang terpenting, semua orang sangat membantu. Begitu akomodatif, apa pun itu," puji Natalia.

Sementara, Koordinator Media Center GPDRR ke-7 di Bali Marroli J Indarto menceritakan kerumitan didalam pengelolaan Media Center GPDRR kali ini. Menurutnya hal itu menjadi tantangan tersendiri karena dilakukan tak hanya secara offline , tetapi juga online streaming dengan berbagai pihak di belahan dunia.

“Tantangannya memang tidak mudah, namun infrastruktur teknologi kita memang sudah maumpuni sehingga kita dapat memfasilitasi para delegasi dan media untuk melakukan komunikasi baik secara offline mau pun online," terang Marroli.

“Kuncinya kami bukan hanya menjadi operator media center saja. kita juga membangun media relations yang baik kepada para media untuk memastikan hasil-hasil yang dicapai dapat segera dapat tersebar dengan cepat dan akurat bukan hanya ke media-media dalam negeri juga media luar negeri," tutup Marroli. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel