Evergrande Bayar Bunga Obligasi Setara Rp 1,18 Triliun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - China Evergrande Group membayar bunga utama obligasi yang jatuh tempo pada Kamis, 23 September 2021. Pembayaran bunga surat utang atau obligasi itu dilakukan saat akhir masa tenggang 30 hari pada Sabtu, 23 Oktober 2021.

Pembayaran bunga obligasi senilai USD 83,5 juta atau Rp 1,18 triliun (asumsi kurs Rp 14.152 per dolar AS). Obligasi offshore Evergrande pada Maret 2022 ini mendapat pengawasan ketat dari investor. Ditambah pada September, pengembang properti memberi isyarat dua kali terkait kemungkinan gagal bayar.

Media pemerintah, China Securities Times menuliskan Evergrande mengirimkan pembayaran bunga obligasi melalui Citibank. Pihak bank menolak memberikan komentar. Demikian mengutip dari laman CNBC, Jumat (22/10/2021).

Evergrande telah melewatkan empat pembayaran kupon lainnya pada September dan Oktober. Raksasa properti China telah berjuang megumpulkan dana. Utang yang ditanggung sebesar USD 300 miliar setara Rp 4.245,7 triliun.

China Securities Times juga melaporkan Evergande berencana tidak telah dalam memenuhi pembayaran bunga pada Sabtu, 23 Oktober 2021. (Ayesha Puri)

Saham Evergrande melonjak lebih dari 4 persen karena berita itu. Pembayaran bunga USD 83,5 juta pada obligasi offshore yang jatuh tempo pada Maret 2022 telah diawasi dengan ketat sejak pengembang properti yang berhutang besar itu memperingatkan dua kali pada September, kalau itu mungkin gagal. Obligasi dolar AS sebagian besar dipegang oleh investor asing.

Laporan the Securities Times mengatakan, Evergrande berencana membayar bunga tepat waktu untuk batas waktu 23 Oktober. Pengembang properti telah kirim USD 83,5 juta melalui Citibank.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Respons Analis

Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Bursa saham Asia turun setelah Korea Utara (Korut) melepaskan rudalnya ke Samudera Pasifik. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Bursa saham Asia turun setelah Korea Utara (Korut) melepaskan rudalnya ke Samudera Pasifik. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Head of Asian Fixed Income AXA Investment Managers, Jim Veneau mengatakan perkembangan terbaru di Evergrande sebagai “kejutan”.

"Ini benar-benar kejutan, tetapi kejutan positif,” ujar Veneau.

Ia menambahkan, pembayaran bunga Evergrande ini menunjukkan komitmen membayar. “Saya tidak akan menyebutkan sebagai game changer. Ini seperti mengubah momentum yang diharapkan,” kata dia.

Ketakutan Penularan Evergrande

Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Kekhawatiran atas utangnya yang besar telah mengguncang pasar global di tengah kekhawatiran tentang potensi limpahan ke seluruh industri dan ekonomi real estate China.

Pasar secara luas memperkirakan Evergrande gagal membayar bunga, karena analis mengatakan investor domestik akan diprioritaskan ketimbang investor asing.

Namun, pekan lalu, bank sentral China mengatakan, perusahaan properti yang telah menerbitkan obligasi di luar negeri harus aktif memenuhi kewajiban pembayaran utangnya.

Akan tetapi, Evergrande mengalami kemunduran pekan ini, ketika kesepakatan untuk menjual sejumlah asetnya dan mendatangkan dana yang sangat dibutuhkan gagal.

Sebelumnya Evergrande telah membicarakan untuk menjual 50,1 persen saham di Evergrande Property Services, unit layanannya kepada saingan lebih kecil, Hopson Development Holdings. Akan tetapi, Hopson mengumumkan kesepakatan senilai USD 2,58 miliar itu gagal.

"Masalah utang di sektor real estate China telah menyebar ke luar Evergrande,” ujar Veneau.

Ia mencontohkan gagal bayar pengembang properti China lainnya yaitu Fantasia dan Modernland.

“Jadi dengan dua peristiwa itu, pasar kemudian memiliki beberapa pertimbangan serius mengenai apakah semua perusahaan yang lemah akan bahkan jika mereka menunjukkan kas tinggi terhadap utang jangka pendek,” ujar dia.

Ia mengatakan, pasar akan mempertanyakan mengenai pembayaran kupon dan tepat waktu. Lebih banyak pengembang menghadapi ancaman gagal bayar dengan lembaga pemeringkat mengeluarkan serangkaian penurunan peringkat pada perusahaan properti di China.

Reporter: Ayesha Puri)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel