Terjerat Utang, Evergrande Tetap Lanjutkan Pembangunan Rumah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta -- China Evergrande Group mengumumkan perkembangan awal pekerjaan konstruksi. Chairman Evergande berjanji untuk memberikan 39 ribu unit properti pada Desember, lebih banyak dari pernyataan sebelumnya yakni 10 ribu unit.

Evergrande merupakan pengembang China paling berutang di dunia. Kewajiban utangnya mencapai USD 300 miliar atau Rp 4.266,1 triliun (estimasi kurs Rp 14.220 per dolar AS).

Tahun ini, pengembang berjuang membayar kembali pemegang obligasi, bank, investor dan mengirimkan rumah kepada pembeli. Situasi ini mengisyaratkan industri properti yang bubble hingga terpukul imbas kampanye deleveraging pemerintah China.

Chairman Evergrande Hui Ka Yan menegaskan ia tidak akan mengizinkan seorang pun di Evergrande “mendatar” pada Minggu, 26 Desember 2021. Dalam sebuah pernyataan, pengembang juga menekankan kepada karyawan untuk bekerja siang dan malam untuk mencapai target penjualan agar bisa melunasi hutang.

"Dengan perusahaan melanjutkan pekerjaan konstruksi dengan kecepatan penuh, grup berencana untuk mengirimkan 115 proyek pada Desember. Lima hari tersisa bulan ini, kami harus berusaha keras guna memastikan perusahan mampu memenuhi target pengiriman 39 ribu unit bulan ini,” ujar Hui, dilansir dari laman CNN, Senin, 27 Desember 2021.

Janji yang Hui diutarakan datang sehari setelah regulator real estate terkemuka China mengatakan kepada kantor berita resmi Xinhua, pemerintah akan tegas mengatasi risiko yang berasal dari pengiriman properti perumahan yang terlambat oleh beberapa pengembang top.

Pada Sabtu, 25 Desember 2021, bank sentral China menyampaikan akan melindungi hak-hak hukum pembeli rumah.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Bermitra dengan Pemasok

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Dalam pernyatakan menuliskan Evergrande melanjutkan kerja sama dengan lebih dari 80 persen perusahaan dekorasi dan pemasok jangka panjang. Kolaborasi ini terwujud usai penandatanganan 6.869 kontrak dengan pemasok material.

Pemerintah China mulai melonggarkan pembiayaan properti demi mencegah sektor properti ini lepas landas dalam berapa bulan terakhir.

Walaupun belum membalikkan pembatasan properti yang dirancang untuk mengurangi leverage dan mencegah spekulasi. Pihak berwenang China sedang meneliti aset Evergrande dan Hui dan tidak berharap terjadi penjualan untuk saat ini.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel