Facebook Ambil Sikap Terhadap Kaum Antivaksin

Krisna Wicaksono, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Raksasa media sosial Facebook kembali mengambil sikap, mengenai kesalahan informasi terkait vaksin COVID-19 di platformnya. Larangan tidak hanya berlaku untuk kesalahan informasi vaksin, tapi juga unggahan yang mengklaim bahwa vaksin menyebabkan autisme atau campak tidak dapat membunuh orang.

Facebook juga akan mendorong warga Amerika Serikat (AS) untuk diinokulasi, dan akan memberikan informasi tentang kapan giliran mereka untuk vaksin Covid-19 dan bagaimana menemukan dosis yang tersedia, mengutip dari sitis Vox, Selasa, 9 Februari 2021.

Langkah ini disebut sangat penting karena mereka memiliki hampir 3 miliar pengguna, termasuk media sosial paling berpengaruh di dunia. Belum lagi proses vaksin yang sudah mulai dijalankan, menimbulkan kekhawatiran akan banyaknya informasi yang salah dan bisa menyebabkan keraguan bahkan penolakan.

"Perubahan ini adalah bagian dari apa yang disebut 'kampanye terbesar di seluruh dunia' untuk mempromosikan informasi otoritatif tentang vaksinasi COVID-19. Upaya ini adalah hasil konsultasi dengan otoritas kesehatan, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan lain sebagainya," tulis perusahaan pada unggahan blog.

Kepala Kesehatan Facebook, Kang-Xing Jin mengatakan pandemi telah berlangsung selama satu tahun. Kemudian pada tahun ini mereka akan fokus mendukung para pemimpin kesehatan dan pejabat publik untuk memvaksinasi miliaran orang.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, yang telah berulang kali membela prinsip-prinsip kebebasan berekspresi, kini mengatakan bahwa perusahaan akan memberikan perhatian khusus pada halaman, grup, dan akun di Facebook serta Instagram, yang secara teratur membagikan informasi salah tentang vaksin.

Perusahaan juga akan menyesuaikan algoritma penelusuran untuk mengurangi keunggulan konten antivaksin. Perubahan yang diumumkan terjadi setelah para ahli berulang kali memperingatkan tentang peran Facebook dalam mempromosikan teori konspirasi anti vaksin.

Selama bertahun-tahun, para peneliti menandai Facebook sebagai platform tempat di mana informasi yang salah dan menyesatkan tentang vaksin, termasuk gagasan bahwa vaksin dapat dikaitkan dengan autisme, telah berkembang biak di sana.