Facebook dan Google gelar kabel untuk hubungkan Asia Tenggara-Amerika

Maria Rosari Dwi Putri
·Bacaan 2 menit

Facebook dan Google berencana membuat proyek menggelar kabel di bawah laut untuk menghubungkan Singapura, Indonesia dan Amerika Utara, untuk menambah kapasitas internet di wilayah tersebut.

"Bernama Echo dan Bifrost, akan menjadi dua kabel tertama yang melewati rute baru yang berbeda, melintasi Laut Jawa. Kabel ini juga akan meningkatkan kapasitas bawah laut di trans-pasifik, sekitar 70 persen," kata Wakil Direktur Investasi Jaringan Facebook, Kevin Salvadori, dikutip dari Reuters, Senin.

Salvadori tidak merinci berapa besar investasi proyek tersebut, namun menyatakan "investasi pokok kami di Asia Tenggara."

Baca juga: FB bekukan halaman Presiden Venezuela Maduro, muat info sesat COVID

Baca juga: Facebook berencana buka kembali Kantor Pusat California pada 10 Mei

Kabel ini akan menguhubungkan langsung Indonesia dengan Amerika Utara, melalui konektivitas ini, akan ada kenaikan kapasitas internet di wilayah Indonesia Tengah dan Timur.

Proyek Echo merupakan kolaborasi Facebook dengan Google dan operator seluler XL Axiata, yang akan selesai pada 2023.

Sementra Bifrost merupakan proyek dengan Telin, anak perusahaan dari Telkomsel, dan Keppel dari Singapura, diperkirakan selesai pada 2024.

Facebook tahun lalu menyatakan akan menggelar kabel serat optik sepanjang 3.000 kilometer di Indonesia, untuk mengadakan Wi-Fi publik.

Penggelaran kabel untuk proyek Echo dan Bifrost masih menunggu persetujuan dari regulator.

Selain proyek di Asia Tenggara, Facebook juga akan menggelar kabel bawah laut di Asia antara lain mellaui Pacific Light Cable Network, yang juga didanai Facebook dan Alphabet Inc, perusahaan induk Google.

"Kami bekerja sama dengan mitra dan regulator untuk mengatasi semua kekhawatiran. Kami menantikan kabel tersebut menjadi kabel trans-pasifik yang bernilai dan produktif di masa mendatang," kata Salvadori.

Sementara itu, Facebook mengurungkan rencana menggelar kabel untuk menghubungkan California dan Hong Kong karena kekhawatiran mengenai hubungan kedua negara.

Baca juga: Regulator India akan selidiki WhatsApp soal kebijakan privasi

Baca juga: Facebook dan Twitter diminta lebih tegas hentikan kaum antivaksin

Baca juga: Facebook kembangkan wristband dukung kacamata augmented reality