Facebook Hapus 20 Juta Lebih Konten Misinformasi, Mayoritas Seputar Covid-19

·Bacaan 2 menit
Ilustrasi Facebook - Media sosial (Foto: Unsplash.com/Con Karampelas)

Liputan6.com, Jakarta- Facebook telah menindaklanjuti temuan misinformasi yang beredar, lebih dari 20 juta konten pun telah dihapus untuk menertibkan informasi salah tersebut.

Kepala kebijakan misinformasi Facebook Asia Pasifik, Alice Budisatrijo mengatakan, lebih dari 20 juta konten misinformasi yang telah dihapus tersebut didominasi seputar Covid-19, obat-obatan Covid-19 hingga tes PCR, Informasi salah tersebut telah mendominasi sejak awal pandemi di Indonesia, yaitu Maret 2020. Tak hanya itu, misinformasi seputar vaksin Covid-19 pun bermunculan setelah vaksin Covid-19 ditemukan.

“Misinformasi tentang vaksin banyak sekali, tentang apakah vaksin aman, sudah dites atau belum, bisa mencegah betulan atau tidak,” ucap Alice, dikutip dari Antara, Sabtu (21/8/2021).

Pihak Facebook Asia Pasifik sendiri telah bekerjasama dengan 80 mitra pemeriksa fakta independen secara global, serta enam mitra dari Indonesia yang bekerja dalam 60 bahasa untuk memberantas misinformasi.

Proses menghapus misinformasi pun memakan waktu yang bervariasi. Misinformasi yang dianggap menyesatkan akan segera dihapus jika telah ditinjau oleh pemeriksa konten.

Selain konten misinformasi yang berbahaya, seperti video manipulasi atau konten menyesatkan, Facebook juga menindaklanjuti konten-konten yang melanggar aturan, kemudian memberikan label pada konten sehingga pengguna dapat menilai apakah informasi tersebut layak dipublikasi dan dilihat oleh masyarakat atau tidak.

Tidak semua konten misinformasi yangf beredar di Facebook langsung dihapus secara otomatis. Alice mengatakan, ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut dan Facebook juga tidak mengatur hanya informasi benar yang boleh dipublikasikan.

“Kami tidak bisa jadi penentu apa yang benar dan yang salah, kalaupun mau menentukan itu, kami harus tahu semua kebenaran di dunia ini dan itu tentu tidak mungkin,” ujar Alice, melansir Antaranews.com.

Warganet diharapkan dapat lebih kritis dan menahan diri untuk menyebarkan informasi yang mencurigakan dan memastikan kebenarannya sebelum melakukan tindakan penyebaran.

(MG/ Amadea Claritta)

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel