Facebook Hapus Unggahan Disinformasi Vaksinasi Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Facebook menyebut, pihaknya menghapus cukup banyak halaman yang menyebarkan informasi salah mengenai vaksin Covid-19.

Hal ini dilakukan setelah pemerintah AS meminta perusahaan media sosial untuk memperketat kontrol pada fakta terkait pandemi yang dibagikan di platform mereka.

Sebelumnya, perusahaan teknologi dan media sosial seperti YouTube, Twitter, dan Google mendapat kecaman dari pemerintah Presiden Joe Biden karena penyebaran disinformasi mengenai vaksinasi yang mengkhawatirkan.

Gara-gara unggahan disinformasi di platform media sosial, pemerintah khawatir target vaksinasi tidak tercapai dan bisa menghambat upaya penanganan Covid-19.

Mengutip Reuters, Kamis (19/8/2021), sebuah laporan baru-baru ini dari Center for Countering Digital Hate (CCDH) menunjukkan 12 akun anti-vaksin menyebarkan hampir dua pertiga disinformasi anti-vaksin secara online.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Dihapus karena Langgar Kebijakan Layanan

Mark Zuckerberg, Founder sekaligus CEO Facebook, banyak disalahkan sebagian pihak karena membiarkan penggunanya membagikan tautan berita hoax di Facebook. (Doc: Wired)
Mark Zuckerberg, Founder sekaligus CEO Facebook, banyak disalahkan sebagian pihak karena membiarkan penggunanya membagikan tautan berita hoax di Facebook. (Doc: Wired)

Facebook pun membantah metodologi di balik laporan tersebut. Namun sebelumnya, Facebook menyebutkan pihaknya sudah menghapus lebih dari tiga luasin halaman, group, dan akun Facebook serta Instagram yang terkait dengan 12 akun anti-vaksin. Penghapusan dilakukan karena pelangganan terhadap kebijakan penggunaan layanan.

"Kami telah menjatuhkan hukuman kepada hampir dua lusin Halaman, group, atau akun tambahan yang ditautkan ke 12 akun ini," kata Facebook dalam unggahan blog berjudul 'Bagaimana Kami Mengambil Tindakan Melawan Superspreader Disinformasi mengenai Vaksin'.

Pemerintah Joe Biden sendiri memerangi disinformasi mengenai Covid-19, termasuk yang menyebut bahwa vaksin Covid-19 tidak efektif, terdapat microchip di dalamnya, hingga bisa menurunkan tingkat kesuburan wanita.

Presiden AS Bilang Facebook Dkk

Joe Biden, calon presiden AS penantang Donald Trump pada pemilu November 2020 mendatang. (AP Photo/Matt Rourke)
Joe Biden, calon presiden AS penantang Donald Trump pada pemilu November 2020 mendatang. (AP Photo/Matt Rourke)

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden terang-terangan mengkritik Facebook dan platform digital lainnya karena mengizinkan beredarnya disinformasi. Biden menyebut, disinformasi menyebabkan peningkatan jumlah kematian selama pandemi.

"Mereka (platform digital) membunuh orang. Satu-satunya pandemi yang kita miliki adalah di antara yang tidak divaksinasi, dan mereka membunuh orang," kata Biden ketika ditanya media tentang platform seperti Facebook.

Mengutip The Verge, Sabtu (17/7/2021), pernyataan orang nomor satu di Amerika Serikat ini diucapkan setelah kampanye terkoordinasi dari Gedung Putih menekan Facebook dan platform digital lain untuk bertindak lebih agresif dalam melawan disinformasi mengenai vaksin Covid-19.

Tak hanya itu, sebuah laporan dari seorang ahli bedah umum meminta platform digital untuk menerapkan hukuman yang keras kepada akun yang membagikan informasi salah.

Ahli Bedah Umum bernama Vivek Murthy itu secara khusus menyebut mesin rekomendasi algoritmik seperti News Feed Facebook turut berkontribusi atas adanya disinformasi.

Murthy menambahkan, algoritme platform seperti Facebook cenderung memberi pengguna lebih banyak dari yang diklik. "Algoritme menarik kita lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam sumur disinformasi," katanya.

(Tin/Isk)

Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman

Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel