Facebook Perpanjang Larangan Iklan Politik Guna Cegah Penyebaran Hoaks

·Bacaan 1 menit
Ilustrasi Facebook (Foto: New Mobility)
Ilustrasi Facebook (Foto: New Mobility)

Liputan6.com, Jakarta - Facebook memutuskan memperpanjang larangan iklam politik hingga satu bulan ke depan. Keputusan ini mulai berlaku sejak Rabu 11 November 2020.

Langkah ini diambil guna mencegah penyebaran hoaks dan disinformasi saat Pemilihan Senat di Georgia, Amerika Serikat. Facebook mengonfirmasi ekstensi tersebut dalam unggahan di blognya.

"Jeda sementara untuk iklan tentang politik dan masalah sosial di AS terus dilakukan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk melindungi pemilu. Pengiklan dapat mengharapkan ini untuk berlangsung satu bulan lagi, meskipun mungkin ada kesempatan untuk melanjutkan iklan ini lebih cepat," demikian pernyataan Facebook seperti dilansir dari Aljazeera, Kamis (12/11/2020).

Selain Facebook, Google juga masih melarang iklan politik. Dengan perpanjangan larangan iklan politik tersebut berarti dua raksasa media sosial itu, yang bersama-sama mengontrol lebih dari setengah pasar, tidak menerima iklan menjelang pemilihan Senat AS yang diperebutkan di Georgia.

Direktur Manajemen Produk Facebook, Rob Leathern mengatakan pihaknya tidak memiliki "kemampuan teknis dalam jangka pendek untuk mengaktifkan iklan politik menurut negara atau pengiklan".

Sementara, juru bicara Facebook Andy Stone mengatakan, larangan iklain politik itu hanya sementara.

Sebelumnya, Facebook dan TikTok memblokir tagar-tagar yang dipakai untuk menyebarkan disinformasi dan teori konspirasi tentang Pilpres AS.

Tagar-tagar tersebut umumnya berkutat seputar klaim tidak mendasar tentang Demokrat yang mencoba memanipulasi hasil Pilpres untuk mengalahkan Donald Trump.

Mengutip The Verge, Jumat (6/11/2020), di Facebook, tagar yang diblokir antara lain adalah #stopthesteal. Tagar ini dipakai secara luas untuk membuat klaim kecurangan pemilu dilakukan oleh Demokrat.

Selain itu, tagar lainnya yang juga diblokir adalah #sharpiegate. Tagar ini dipakai secara keliru menuduh penggunaan penanda Sharpie yang membuat suara untuk Trump tidak dihitung di Arizona.

Sementara itu, TikTok memblokir tagar #sharpiegate, #stopthesteal, hingga ke #riggedelection.

Simak video pilihan berikut ini: