Fachmi Idris: Peradaban Indonesia sehat harus ditopang ekosistem kuat

Pakar kesehatan Prof Fachmi Idris menyatakan bahwa untuk menuju peradaban baru Indonesia sehat diperlukan ekosistem kuat yang mampu menunjang segala kebutuhan kesehatan, mulai dari edukasi hingga fasilitas yang mumpuni.

"Kalau ingin dengar burung berkicau tiap pagi, lebih baik menanam pohon rindang di rumah biar burung datang setiap hari. Kalau kita pengin punya burung tapi tidak menyiapkan ekosistemnya tidak akan bisa, makanya peradaban Indonesia sehat tidak akan terjadi kalau enggak ada ekosistemnya," ujar lulusan doktor Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat UI itu dalam diskusi pada Jumat (18/11) malam.

Lebih lanjut, Fachmi mengatakan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang sehat tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, seperti penyediaan fasilitas kesehatan ataupun edukasi.

Menurut Fachmi, masalah kesehatan juga tidak lepas dari lingkungan yang sehat, bersih dan juga kesehatan hewan di sekitar rumah.

"Ini kan kaitannya dengan ekosistem, paradigma sehat yang didukung oleh lingkungan yang kuat. Kalau kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan tidak ada, maka peradaban sehat itu tidak akan terbentuk," katanya.

Fachmi mengatakan pandemi COVID-19 telah membuat sebagian besar masyarakat Indonesia lebih peduli pada masalah kesehatan. Namun, hal ini terjadi secara paksa lantaran ada ancaman yang membuat masyarakat tidak punya pilihan lain selain menerapkan protokol.

Menurut Fachmi, yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana membuat masyarakat tetap menerapkan pola hidup sehat meski pandemi COVID-19 nantinya akan berakhir.

"Ketika COVID-19 ini kan kita kembali pada budaya sehat yang luar biasa, ini kan bukan gradual tapi dipaksa. Pertanyaannya kalau dipaksa, apakah itu akan berjalan terus atau tidak gaya hidup sehatnya," ujar Fachmi.

Sementara itu, sosiolog Hidayat Mualim mengatakan bahwa setiap orang wajib menciptakan dan menjadi kesehatan baik bagi dirinya, orang lain ataupun lingkungan.

Untuk menjaga kesehatan pun harus disesuaikan dengan perkembangan jaman sehingga tercipta peradaban baru. Namun hal ini juga harus didukung oleh pemerintah, pihak swasta, perguruan tinggi, masyarkat dan media.

"Pemerintah perlu menyiapkan regulasi agar semua pihak bisa mengakses fasilitas kesehatan dan obat-obatan dengan mudah, pihak swasta bisa berkolaborasi dengan pemerintah, pihak perguruan tinggi membuat penelitian, mengkaji dan menciptakan teknologi yang cepat guna," kata Hidayat.

"Partisipasi masyarakat akan kesehatan juga harus tinggi, kemauan orang untuk sehat harus diciptakan dan media berperan dalam menyediakan informasi," lanjutnya.

Baca juga: Survei: Masyarakat Indonesia ingin tinggalkan gaya hidup tak sehat

Baca juga: C20 dorong arsitektur kesehatan global yang inklusif

Baca juga: Epidemiolog: Masyarakat jangan abaikan protokol kesehatan