Netizen Maha Kejam Tanggapi Vaksin Palu Arit Fadli Zon

Toto Pribadi
·Bacaan 2 menit

VIVA – Keputusan pemerintah mendatangkan vaksin COVID-19 buatan China masih terus menjadi topik hangat. Termasuk mendapat perhatian dari Fadli Zon yang selama ini memang sangat dikenal doyan mengritik pemerintah.

Dalam cuitan terbarunya di twitter, Fadli Zon mengatakan dirinya lebih memilih vaksin buatan Indonesia dibanding vaksin yang diimpor dari China. Cuitan Fadli Zon ini langsung menjadi viral di media sosial twitter.

"Vaksin Merah Putih Vs Vaksin Palu Arit. Saya pilih vaksin Merah Putih. Jangan ada yang tergesa-gesa impor vaksin dan menjadikan rakyat sebagai bebek percobaan," tulis Fadli Zon dalam cuitannya, Kamis 22 Oktober 2020.

Baca juga: Program Vaksinasi COVID-19 Indonesia Awal November 2020

Kontan cuitan petinggi Partai Gerindra ini langsung viral dan mendapat sambutan dari netizen. Tercatat sejak diunggah, cuitan Fadli Zon ini telah 624 diretweets dan mengoleksi hampir 4 ribu likes.

Namun yang menarik tentu tanggapan dari netizen yang maha kejam menanggapi cuitan Fadli Zon tersebut. Meski tak sedikit yang mendukung, namun hampir semua menyerang orang kepercayaan Prabowo Subianto ini.

“Zon ada beberapa barang yang lu pakai dengan made in palu arit itu zon,” tulis akun @andrianoor82. “Kalau hape palu arit gimana? Kan banyak dipasaran. Jangan-jangan penggunanya?” timpal akun @kurniawanivan27.

“China dikata palu arit aluas komunis, padahal dia sendiri pemuja Karl Mark, dasar oon,” tulis netizen tak kalah kejam.

Dalam beberapa kesempatan, Fadli Zon memang rajin mengritisi keputusan pemerintah untuk mengimpor vaksin COVID-19 dari China. Sebelumnya, Fadli Zon juga meminta pemerintah jangan menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan.

“Vaksin memang bisnis besar, jangan sampai rakyat kita jadi kelinci percobaan vaksin yang belum jelas status dan keampuhannya,” tulis ketua DPP Gerindra tersebut, beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, vaksin dari China ini memang menuai kontroversi. Banyak negara yang menolak menggunakannya karena vaksin ini belum rampung tahap uji coba dan dianggap terlalu berisiko. Salah satu negara yang tegas menolak adalah Brasil meski negara tersebut masuk lima besar negara paling terdampak.