Fadly, Kopilot Nam Air Jadi Korban Kecelakaan Sriwijaya Air

Siti Ruqoyah, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 1 menit

VIVAKopilot Nam Air Fadly Satrianto turut menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu kemarin. Ia menumpang pesawat nahas itu untuk menjalankan tugas menerbangkan Nam Air, anak perusahaan Sriwijaya Air, dari Pontianak ke tujuan lain. Tapi ajal menemuinya sebelum sampai.

Fadly adalah anak ketiga dari Sumarzen Marzuki, warga Perak Utara, Kota Surabaya, Jawa Timur. Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Fadly kemudian mencari lowongan. Ia lantas mencoba peruntungan di dunia penerbangan setelah berkomunikasi dengan temannya yang lebih dahulu menjadi pilot di sebuah maskapai penerbangan lain.

"Fadly ini anak saya yang ketiga yang paling kecil dan dia beroperasi menjadi kopilot sejak tiga tahun yang lalu. Sekolahnya juga di pendidikan Nam Air yang ada di Bangka Belitung," kata Sumarzen kepada wartawan pada Minggu, 10 Januari 2021.

Nah, pada saat kejadian, Fadly bersama lima rekannya satu tim diberi tugas perusahaannya untuk menerbangkan pesawat Nam Air dari Pontianak. Itu sebabnya ia menumpangi SJ 182 nahas tersebut dari Jakarta. "Statusnya anak saya di pesawat itu extra crew," ujar Sumarzen.

Hingga kemudian pada Sabtu kabar duka itu tiba ke keluarga Sumarzen. Fadly termasuk dalam manifest pesawat yang jatuh, SJ 182. Sumarzen terlihat tegar. Karena kondisi COVID-19, ia dan keluarganya tidak datang ke Jakarta untuk melihat dan mengecek secara langsung proses pencarian jasad putranya. Tes DNA untuk proses identifikasi ia lakukan di RS Bhayangkara Surabaya.