FAKTA: 40 Tahun Sanksi Embargo AS Tak Bikin Ciut Nyali Iran

Radhitya Andriansyah

VIVA – 40 tahun sudah Iran merasakan sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat sekutunya. Kabarnya, sanksi itu akan berakhir tahun ini meskipun AS dan sekutunya terus mengupayakan perpanjangan embargo terhadap Negeri Mullah.

Iran pertama kali dijatuhi sanksi embargo ekonomi pada November 1979 silam, saat AS berada di bawah kepempimpinan Presiden Jimmy Carter. Krisis Sandera Iran yang terjadi periode 4 November 1979 hingga 20 Januari 1981, menjadi awal pertikaian Iran dengan AS. 

Menurut catatan jurnalis BBC, Baqer Moin, dalam bukunya Khomeini: Life of the Ayatollah Carter yang merupakan Presiden AS ke-39 menetapkan sanksi lewat Perintah Presiden 12170, atau Executive Order 12170. Akibat sanksi tersebut, aset Iran sebesar US$ 12 miliar, atau setara dengan Rp183,4 trilin dalam kurs saat ini, dibekukan.

Sanksi ini sempat dihapus pada 1981 menyusul pembebasan sandera yang masih dalam rangkaian peristiwa Krisis Sandera Iran.

Akan tetapi, sanksi lainnya bertubi-tubi kembali dijatuhkan AS meski presidennya sudah berganti dari Ronald Reagan, Bill Clinton, George Bush Jr, Barrack Obama, hingga Donald Trump saat ini.

Menurut laporan Al-Jazeera, ketegangan antara Iran dan AS sempat melunak di era kepemimpinan Obama. Sebab pada 2015, Iran dan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Rusia, Inggris, China, dan Prancis), sepakat untuk menandatangani penghentian program nuklir, The Joint Compeherensive Plan of Action (JCPOA).

Sayang, saat Donald Trump terpilih menjadi Presiden ke-45 AS, hubungan dengan Iran kembali memanas. Trump yang dikenal kontroversial memutuskan menarik AS dari perjanjian tersebut.

Sanksi ekonomi di era Trump dijatuhkan kepada Iran pada 7 Januari 2020, pasca serangan rudal Iran ke Pangkalan Militer Al-Asad milik AS wilayah Kegubernuran Al Anbar, Iraq, pada 3 Januari 2020 atau empat hari sebelum sanksi.

Sanksi embargo ekonomi yang dijatuhkan AS dan negara-negara sekutunya tak lain untuk membuat Iran menjadi lemah, dan pada akhirnya tunduk dengan regulasi internasional. Tapi pada kenyataannya, Iran tetap saja mampu menciptakan sejumlah sistem persenjataan baru.

Dalam berita sebelumnya, Iran meluncurkan Noor, satelit militer pertama dalam sejarah Negeri Mullah itu. Meski dijelaskan Noor adalah sebuah satelit intelejen, AS dan sekutunya menganggap roket Qassed yang membawa satelit itu memiliki hulu ledak nuklir.

Tak hanya itu, Kementerian Pertahanan Iran baru-baru ini juga bakal memberikan sejumlah Drone Fotros berteknologi canggih, untuk memperkuat pertahanannya. Peluncuran satelit militer Iran itu bahkan sama sekali tak diketahui, bahkan oleh intelijen negara manapun termasuk AS.

"Semua bagian dari satelit, termasuk (roket) pembawa dan satelit, telah diproduksi oleh para ilmuwan Iran meskipun ada sanksi AS," ujar Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami, dikutip Al-Jazeera.

Tak hanya itu, Kementerian Pertahanan Iran baru-baru ini juga bakal memberikan sejumlah Drone Fotros berteknologi canggih, untuk memperkuat pertahanannya. Dua peralatan sistem pertahanan itu adalah bukti bahwa meski sudah empat dasawarsa hidup dalam sanksi embargo, taring Iran sama sekali tak pernah tumpul.