Fakta-fakta Berdirinya PSS Sleman: 17 Tahun Merana di Kasta Terbawah, Kini Mendunia berkat Suporter

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Sleman - PSS Sleman termasuk klub yang belum terlalu tua di jagat sepak bola Indonesia. Tim kebanggaan masyarakat Kabupaten Sleman itu didirikan pada 20 Mei 1976.

Sedikit flashback ke belakang, PSS baru didirikan jauh sesudah lahirnya tim utama di wilayah Yogyakarta yakni PSIM (Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram). Berada di bawah bayang-bayang PSIM membuat PSS cukup lama berkutat di kasta bawah pada awal masa pembentukan klub.

PSS memulai perjuangannya dalam Kompetisi Divisi II PSSI pada 1979. Di level itu, PSS lebih banyak menghadapi saudara-saudaranya di wilayah DIY, seperti Persiba Bantul, Persikup Kulon Progo, dan Persig Gunung Kidul.

Perlahan namun pasti, PSS merangkak naik ke level regional termasuk bertemu tim-tim Jateng. PSS kerap bersua dengan tim perserikatan yang tidak kalah hebat dari wilayah lain, yakni PSIR Rembang, Persijap Jepara, dan Persibat Batang.

Beberapa kali pula, PSS gagal melaju ke babak berikutnya atau di tingkat nasional. Pencapaian PSS cukup stagnan pada era tersebut. PSS masih kesulitan menembus kompetisi yang lebih tinggi.

PSS Sleman butuh waktu 17 tahun untuk keluar dari kasta terendah. Pada tahun 1996, PSS menjadi juara kompetisi Divisi II wilayah DIY. Berikutnya bergabung dengan perserikatan wilayah Jateng bahkan menjadi juara.

Divisi I

PSS Sleman Logo (Bola.com/Adreanus Titus)
PSS Sleman Logo (Bola.com/Adreanus Titus)

PSS Sleman akhirnya tampil pertama kali di kompetisi Divisi I pada 1997 hingga 1999. Perlahan, PSS mampu bersaing dengan tim-lain untuk terus menguji eksistensinya, lalu menembus level Divisi Utama, hingga sekarang sudah nangkring di Liga 1.

Meski baru berusia 44 tahun, PSS berhasil menjadi deretan klub terbaik di Indonesia. Terbukti, PSS masuk dalam kompetisi kasta tertinggi, Liga 1 sejak 2019.

Satu di antara tokoh pendiri PSS, Sudarsono punya banyak kisah menarik tentang histori klub pujaan Brigata Curva Sud (BCS) dan Slemania itu.

Sudarsono menjadi bintang tamu dalam podcast PSS baru-baru ini, untuk menceritakan bagaimana proses lahirnya PSS.

"Sebelum berdiri, ada beberapa personil atau tokoh di Sleman yang ikut klub internal PSIM Yogyakarta. Di antaranya Suryo Saryono (PS Satria), Subardi (ISSB), Hartadi (PSIM dan Sinar Utara), saya sendiri Sudarsono (PSSO). Kemudian lahir ide dari empat orang ini menginginkan oleh Bupati Sleman, untuk berdirinya PSS Sleman," terang Sudarsono.

Identitas PSS

Satu di antara pendiri PSS Sleman, Sudarsono (kanan) dalam podcast PSS. (YouTube PSS TV)
Satu di antara pendiri PSS Sleman, Sudarsono (kanan) dalam podcast PSS. (YouTube PSS TV)

Untuk menyiapkan pembentukan PSS, Sudarsono bercerita sering menggelar pertemuan di rumahnya.

Rapat-rapat itu mematangkan organsiasi PSS, menghimpun para pemain, hingga sejumlah identitas klub, seperti warna kebesaran, logo tim, dan seragam yang digunakan saat bertanding.

PSS memiliki warna kebesaran hijau, logo yang mirip dengan PSSI, kemudian atribut gambar candi dalam logonya.

Kelahiran PSS ternyata mendapat respons yang sangat positif dari lingkungan PSSI DIY, bahwa perkembangan sepak bola semakin meluas.

"Sering mengadakan pertemuan di rumah saya, Sinduadi, Mlati. Membicarakan kelanjutan PSS Sleman. Kami pun meniru logo PSSI, PSIM, dan PSIS. PSS mengambil logo candi Prambanan dilengkapi kapas dan melati, serta gambar tiga lingkaran," tutur Sudarsono.

"Untuk warna hijau mengambil filosofi wilayah Sleman yang gemah ripah loh jinawi, ijo royo-royo, sehingga pengurus memutuskan hijau sebagai warna kebesaran. Pengurus PSSI DIY mengapresiasi positif karena ada klub perserikatan baru PSS Sleman," tambahnya.

"Dulu tidak ada bantuan untuk klub, bantuannya kendaraan saat tim bermain di luar kandang. Alhamdulillah banyak orang yang peduli dan membantu PSS secara patungan seperti akomodasi bahan bakar kendaraan, sepatu pemain, bola, katering," jelas Sudarsono.

Mendunia karena Suporter

Kolase - BCS PSS (Bola.com/Adreanus Titus)
Kolase - BCS PSS (Bola.com/Adreanus Titus)

PSS Sleman beruntung memiliki suporter dengan jumlah anggota yang besar dan sangat loyal dalam memberikan dukungan. Selain Slemania, ada Brigata Curva Sud (BCS) yang tersohor karena aksi dan kreativitasnya.

Mengadopsi gaya suporter Italia, BCS seperti nyawa bagi PSS. Terutama ketika memberikan teror bagi lawan.

BCS pada awalnya dibentuk oleh lima komunitas suporter PSS Sleman pada 2010, dengan mengadopsi kultur tifosi atau suporter Italia.

Nama Brigata Curva Sud berasal dari bahasa Italia dengan arti pasukan tribune selatan. Penggunaan bahasa itu terispirasi ideologi suporter Ultras Italia. Mereka meneriakkan yel-yel, menyanyi, membuat koreografi, hingga kreativitas lain sepanjang pertandingan.

BCS disebut-sebut sebagai ultras terbaik di Asia versi Copa90, sebuah situs digital pencinta sepak bola dunia.

Video