Fakta-fakta JK Singgung Habib Rizieq dan Kekosongan Kepemimpinan

Siti Ruqoyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla membuat pernyataan yang menghebohkan. Ini terkait Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. Pernyataan JK diucapkan dalam webinar yang diinisisi oleh DPP PKS bertajuk 'Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Membangun Demokrasi yang Sehat', beberapa waktu lalu.

Dalam webinar tersebut, JK heran dengan kepulangan Habib Rizieq yang malah dianggap hal genting lantaran menurunkan banyak personel TNI dan Polri. Berikut cuplikan pernyataan JK yang dirangkum VIVA :

"Kenapa masalah Habib Rizieq Shihab begitu hebat permasalahannya, sehingga polisi, tentara turun tangan, sepertinya kita menghadapi sesuatu yang guncangnya yang ada. Kenapa itu terjadi, ini menurut saya karena ada kekosongan kepemimpinan yang dapat menyerap aspirasi masyarakat secara luas."

"Adanya kekosongan itu, begitu ada pemimpin yang karismatik, katakanlah karismatik, begitu, atau ada yang berani memberikan alternatif, maka orang mendukungnya. Ini suatu menjadi, suatu masalah, Habib Rizieq itu adalah sesuatu indikator bahwa ada proses yang perlu diperbaiki dalam sistem demokrasi kita."

"Kenapa ratusan ribu orang itu, begitu, kenapa dia tidak percayai DPR untuk berbicara. Kenapa tidak lebih percaya partai-partai terkhusus partai Islam untuk mewakili masyarakat itu. Kenapa masyarakat memilih Habib Rizieq untuk menyuarakan ya punya aspirasi. Itu pertanyaannya yang sangat penting untuk kita evaluasi, jangka waktu khususnya PKS dan partai Islam lainnya, bahwa ada kekosongan sistem atau cara kita berdemokrasi, khususnya dalam ideologi keislaman yang kemudian diisi oleh Habib Rizieq, sehingga kita takut bahwa ini nanti demokrasi kembalikan demokrasi yang katakanlah sistem demo macam-macam, dan juga tentu merusak sistem kita semua,"

"Inilah suatu sistem evaluasi yang kita harus berikan, kita harus pelajari, bahwa kita bicara tentang kegagalan demokrasi zamannya kita pimpin, kegagalan demokrasi dalam demokrasi pancasila, sehingga kembali menjadi miliform itu juga bisa sampai masalah ekonomi. Juga masalah proses yang harus kita perbaiki, sehingga jangan kita kembali lagi ke demokrasi jalanan. Jadi partisipasi masyarakat itu bukan mendukung apa yang dipilihnya. Tapi memilih jalannya sendiri menjadi demokrasi jalanan lagi, seperti yang terjadi pada reformasi ataupun pada tahun 65 66, ini bisa kembali terjadi apabila wakil-wakil yang dipilihnya tidak memperhatikan aspirasi seperti itu. Karena memang mungkin yang dipilihnya itu tidak dipilih secara langsung demokrasi TPS, tapi bukan orang yang tepat karena tidak mempunyai sesuatu kelebihan-kelebihan material sehingga terjadilah seperti ini." (ase)

Baca juga: Pangdam Mau Bubarkan FPI, Habib Rizieq: Saya Enggak Pusing