Fakta-Fakta Kasus Penembakan Istri Anggota TNI di Semarang

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota TNI Kopda Muslimin menjadi otak pelaku penembakan istrinya sendiri bernama Rina Wulandari. Muslimin masih diburu polisi. Sedangkan lima tersangka lainnya sudah diringkus. Kasus penembakan yang terjadi di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang ini mendapat perhatian berbagai kalangan.

Korban merupakan keluarga besar Persit atau Persatuan Istri Prajurit. Hal ini juga yang membuat Polri menggandeng TNI dalam pengungkapan.

"Kita membentuk tim gabungan antara Polda Jateng dengan Kodam IV Diponegoro, yang tidak lama bisa kita ungkap dengan metode scientific crime investigation maupun manual," kata Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng) Irjen Pol Ahmad Luthfi di Semarang, Senin (25/7).

Kasus penembakan terjadi pada Senin (18/7). Korban ditembak saat selesai menjemput anak pulang sekolah. Dia dieksekusi di depan rumah. Walaupun dua peluru ditembakkan ke arahnya, beruntung nyawa korban masih terselamatkan.

Kelima tersangka yang diamankan adalah Sugiono alias Babi dan Ponco Aji Nugroho. Keduanya satu tim sebagai eksekutor. Kemudian Supriono dan Agus Santoso yang bertugas sebagai tim pengawas. Dan terakhir Dwi Sulistiono sebagai penyedia senjata api.

Berikut fakta-fakta yang terungkap dalam kasus penembakan tersebut:

Para Tersangka Diupah Rp120 Juta

Dalam menjalankan aksinya, para tersangka diupah oleh Kopda Muslimin sebesar Rp120 Juta. Uang itu diberikan setelah keempat tersangka beraksi.

"Jadi usai melakukan penembakan, para pelaku langsung ketemu Kopda Muslimin. Di sana mereka dapat upah Rp120 juta dan per orang mendapat bagian Rp24 juta. Ada yang langsung dibelikan motor dan emas. Semuannya barang bukti sudah kita sita," kata Luthfi.

Dia menyebut untuk senjata api rakitan yang digunakan pelaku, dibeli Kopda Muslimin dari rekannya. "Senpi itu dibeli seharga Rp3 juta. Dan rencanakan penembakan terhadap istrinya sendiri," jelasnya.

Dugaan Pacar Baru

Kopda Muslimin memerintahkan empat tersangka untuk menembak istri bernama Rina Wulandari. Motif Muslimin diduga karena memiliki pacar lagi. Dari pengungkapan kasus ini, lima tersangka termasuk penyedia senjata api berhasil diringkus tim gabungan TNI Polri.

"Motifnya punya pacar lagi. jadi ada delapan saksi yang kita periksa, di antaranya saksi W, itu pacarnya," kata Luthfi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan W, dia juga dikabarkan sempat diajak kabur oleh Muslimin setelah peristiwa penembakan terjadi. Namun W menolak ajakan tersebut.

"Itu pacarnya, W sudah kita lakukan pengamanan. Bahwa yang bersangkutan lari setelah kegiatan ini, tetapi pacarnya tidak mau," lanjutnya.

Rencana Meracuni hingga Santet Korban

Sugiono alias Babi, salah satu tersangka penembakan Rina Wilandari mengaku sempat beberapa kali diperintahkan untuk melakukan perencanaan pembunuhan kepada korban.

"Suami korban telah memerintahkan saudara Babi tidak hanya melakukan penembakan. Satu bulan yang lalu, dia memerintahkan babi untuk meracun istrinya, mencuri. Jadi pura-pura mencuri, targetnya istrinya mati. Kemudian ketiga dia menggunakan santet," kata Luthfi.

Terkait informasi ini, polisi akan mengkonfirmasinya ketika nanti Muslimin sudah berhasil diringkus.

Sementara terkait perencanaan penembakan, senjata api sebelumnya sudah disiapkan oleh Muslimin. Para pelaku juga sempat melakukan rapat pematangan aksi.

"Jadi mbelani pacare (membela pacarnya), disantet, diracun, pura-pura maling yang akan bunuh (korban) dan terakhir ditembak," pungkas Luthfi.

Upah Menembak Dibayar Muslimin saat Istri Dirawat di RS

Saat menemani sang istri dirawat di rumah sakit, Muslimin menelepon kepada eksekutor untuk penyerahan uang upah. Kemudian Muslimin keluar ke minimarket yang berjarak sekira 300 meter dari rumah sakit.

"Diberikan uang Rp120 juta sebagai bahan kompensasi dan telah dibagi para pelaku," beber Luthfi.

Dari jumlah tersebut, kemudian dibagi-bagi di antara para tersangka. Ada yang dibelikan sepeda motor hingga emas.

Pada hari Kamis (21/7), Supriono dan Agus Santoso berhasil diringkus. Malam harinya gantian Sugiono diringkus. Besoknya Ponco dan Dwi berhasil diringkus.

Motor Ninja Dicat Tosca

Dalam merencanakan penembakan, sepeda motor Ninja yang digunakan tersangka sempat diubah warna. Dari yang sebelumnya hijau dicat menjadi tosca.

"Barang bukti yang diamankan satu pucuk senjata api, dua magazine, empat butir peluru termasuk yang masih tersisa di magazine. Kemudian satu unit Honda Beat kemudian Kawasaki Ninja warna hijau diubah. Jaket, celana jin, topi, sepasang sepatu," sambung Luthfi.

Selain itu, sepeda motor, emas atau pun barang-barang yang berasal dari upah penembakan juga diamankan polisi. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel