Fakta-Fakta Miliarder Indonesia Sukanto Tanoto Beli Bekas Istana Raja Jerman

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sukanto Tanoto, seorang miliarder Indonesia yang mendapat julukan raja sawit ini ternyata memiliki gedung bekas istana Raja Ludwig di München. Tak tanggung-tanggung, harga dari gedung tersebut mencapai Rp 6 triliun.

Selain itu, anak dari Sukanto Tanoto yaitu Andre Tanoto juga membeli satu dari tiga gedung mewah rancangan arsitek kondang Frank O. Gehry di kota pusat perekonomian Düsseldorf, ibukota negara bagian Nordrhein Westfalen (NRW).

Kepemilikan miliarder Indonesia akan properti di luar negeri tersebut tertuang dalam Sebuah laporan dari proyek OpenLux. Proyek ini menyisir data-data yang ada di perbankan Luxembourg yang dicurigai menjadi bagian dari perasi pengemplangan pajak para miliarder dunia.

Hal serupa pernah dilakukan kolaborasi jurnalis yang mengungkap skandal Panama Papers.

Pembelian kompleks Ludwig, yang merupakan kompleks bersejarah di Munich oleh Tanoto pada Juli 2019 terjadi hanya beberapa bulan setelah Komisi Eropa setuju untuk menghentikan penggunaan minyak sawit dalam biofuel di UE, dengan alasan bahwa hal itu menyebabkan kerusakan hutan yang berlebihan di tempat-tempat di mana ia diproduksi secara massal, seperti Indonesia.

Saat ini, gedung empat lantai ini menjadi kantor pusat salah satu perusahaan asuransi ternama, Allianz. Gedung ini, menuut laporan OpenLux dibeliseharga 350 euro atau setara Rp 6 Triliun.

Dibeli Secara Diam-Diam

Anggota Parlemen Uni Eropa dari fraksi Partai Hijau, Sven Giegold mengungkapkan, keluarga Sukanto Tanoto secara diam-diam melakukan pembelian terselubung itu lewat beberapa perusahaan cangkang di Cayman Islands, Singapura dan Luxembourg.

Dia menegaskan, pembelian terselubung biasanya dilakukan untuk pengemplangan pajak atau pencucian uang dan sangat merugikan Jerman, Luxembourg dan Indonesia. Otoritas di Jerman tidak mengetahui bahwa konglomerat sawit asal Indonesia itu yang membeli properti-properti tersebut, kata dia.

Organisasi lingkungan Greenpeace menyebut Sukanto Tanoto sebagai sosok perusak hutan terbesar dunia dan menuduh praktek bisnis minyak sawitnya terlibat berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan berbagai praktik penghindaran pajak.

Sven Giegold menekankan, praktek pengemplangan pajak merugikan tidak hanya Jerman dan Uni Eropa, melainkan juga Indonesia. Di Jerman saja, kerugiannya mencapai lebih 20 miliar euro.

Transparansi di Uni Eropa

Sukanto Tanoto (Indonesia) | via: sukantotanotostories.blogspot.com
Sukanto Tanoto (Indonesia) | via: sukantotanotostories.blogspot.com

Proyek OpenLux digalang oleh OCCRP, platform jurnalisme investigatif untuk mengungkap kasus-kasus kejahatan terorganisir dan korupsi skala besar, yang dalam proyek ini berkolaborasi dengan media Prancis Le Monde dan media Jerman Süddeutsche Zeitung (SZ).

Investigasi untuk pelacakan kepemilikan yang dibeli dengan konstruksi perusahaan cangkang dimungkinkan di Uni Eropa, setelah ditetapkan Aturan Transparansi pada tahun 2018 untuk memerangi korupsi, pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Aturan ini mewajibkan negara-negara anggota Uni Eropa membuat daftar kepemilikan secara transparan yang memuat nama-nama pemilik properti dan usaha maupun pemegang saham.

Investigasi OpenLux mengungkapkan, di Luxembourg saja ada sekitar 55 ribu perusahaan cangkang yang mengelola dana sampai 5 triliun euro.

Sementara itu, di kesempatan terpisah, PT Royal Golden Eagle (RGE) Indonesia membantah terlibat dalam pembelian kompleks gedung bekas istana Raja Ludwig di München, Jerman senilai Rp 6 Triliun oleh Sukanto Tanoto. Sukanto Tanoto sendiri saat ini sebagai Pendiri dan Chairman RGE.

Warisan Kuno

Gedung Ludwigstrasse 21 di Munich, Jerman yang disebut milik pengusaha kelapa sawit asal Indonesia, Sukanto Tanoto. (dok. Instagram @noonji__/https://www.instagram.com/p/ByPSMOxJ8Go/)
Gedung Ludwigstrasse 21 di Munich, Jerman yang disebut milik pengusaha kelapa sawit asal Indonesia, Sukanto Tanoto. (dok. Instagram @noonji__/https://www.instagram.com/p/ByPSMOxJ8Go/)

Saat ini, gedung empat lantai berarsitektur khas properti-properti klasik Eropa tersebut merupakan kantor pusat salah satu perusahaan asuransi, Allianz. Gedung ini, menurut laporan OpenLux, dibeli orang terkaya ke-22 di Indonesia pada 2020 itu seharga 350 euro (Rp6 triliun).

Dikutip dari kanal Lifestyle Liputan6.com yang melansir dari K+P Planungsgesellschaft, tim interdisipliner yang terdiri dari arsitek, perencana kota dan daerah, insinyur bangunan dan sipil, serta desainer interior yang mengerjakan proyek pemugaran gedung tersebut pada 1997--2002, properti ini telah dimodernisasi dengan total belanja modal 47 juta euro.

"Seluruh kompleks terdiri dari bangunan asli di Ludwigstrasse, dibangun Heilmann & Littmann untuk Bayerische Vereinsbank, dan dua sayap ditambahkan pada 1936 dan 1950," kata pihaknya.

"Karena persyaratan sensitif untuk konservasi, proyek ini telah dilaksanakan dengan kerja sama erat bersama departemen regulasi bangunan di Munich, serta departemen pelestarian monumen bersejarah di Munich dan Bavaria," sambung mereka.

Gedung yang kini milik Sukanto Tanoto tersebut, pihaknya menambahkan, telah direnovasi dengan kompleksitas teknis dan kreatif yang tinggi untuk membuatnya jadi lingkungan kerja modern. Di samping itu, renovasi juga disebut memenuhi permintaan pelestarian.

Dua halaman di bagian dalam, dikelilingi kaca, membentuk inti pusat dan penampilan bangunan. Semua elemen bersejarah telah dipulihkan dari aspek pelestarian yang berpadu selaras dengan aksen arsitektur modern.

"Fokus utama dalam konsepsi pekerjaan bangunan kami ini terletak pada warisan arsitektur kuno, namun dalam proyek konstruksi untuk pemulihan BVB Munich, juga memerhatikan aspek fungsional. Tujuan dari 'membuatnya bekerja' adalah tolok ukur yang digunakan untuk mengukur semua intervensi dalam struktur, serta modernisasi teknis dan arsitektural," sambungnya.

Parameter utama dalam pemugarannya adalah melestarikan sebanyak mungkin struktur asli, memulihkan atau merekonstruksi bagian-bagian yang penting bagi integritasnya, dan mengisi sisanya dengan arsitektur kontemporer yang memberi kontras yang pas dengan gaya aslinya.

RGE Bantah Terlibat

Ilustrasi Kelapa Sawit (iStockphoto)
Ilustrasi Kelapa Sawit (iStockphoto)

PT Royal Golden Eagle (RGE) Indonesia membantah terlibat dalam pembelian kompleks gedung bekas istana Raja Ludwig di München, Jerman senilai Rp 6 Triliun oleh Sukanto Tanoto. Sukanto Tanoto sendiri saat ini sebagai Pendiri dan Chairman RGE.

Corporate Communications RGE Indonesia Ignatius Purnomo menjelaskan, pembelian gedung tersebut merupakan kegiatan investasi keluarga Sukanto Tanoto yang dilakukan secara profesional dan telah memenuhi persyaratan dan prosedur yang berlaku di negara tersebut serta sesuai dengan best practices internasional.

"Perlu kami tegaskan bahwa kelompok usaha yang dikelola oleh RGE tidak hanya menjalankan kegiatan operasional di Indonesia , namun juga di beberapa negaraantara lain China, Brasil dan Kanada," tegas dia, seperti ditulis Sabtu (13/2/2021).

"Dalam menjalankan kegiatan usahanya, RGE senantiasa memenuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku di negara-negara tersebut serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip bisnis berkelanjutan," tambahnya.

Keluarga Sukanto Tanoto sendiri selama ini telah memberikan banyak kontribusi kepada masyarakat Indonesia melalui berbagai program sosial yang dilaksanakan melalui Tanoto Foundation.

Sepanjang 2020, Tanoto Foundation telah menjalankan berbagai program yang meliputi partisipasi dalam penanganan dan pencegahan Covid-19, pencegahan stunting, hingga pendidikan dan pemberian beasiswa.

Dalam rangka pencegahan dan penanganan Covid-19, Tanoto Foundation memberikan donasi sebanyak 1,3 juta masker, 1 juta sarung tangan, 100.000 pakaian pelindung, 3.021 kacamata, serta 10.200 alat tes PCR.

Sementara dalam rangka ikut pencegahan stunting dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia, Tanoto Foundation memperkuat kemitraan dengan berbagai PAUD mitra, memberi pelatihan kepada 107 guru PAUD, serta memberikan bantuan kepada 824 anak-anak penerima manfaat.

Melalui program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran), Tanoto Foundation menggandeng 588 sekolah mitra, 2.228 sekolah diseminasi, serta melibatkan 5.372 pendidik/guru. Setidaknya, 24 ribu mahasiswa calon guru dan 626 ribu siswa menerima manfaat dari program yang dilaksanakan di 20 kabupaten/kota di 5 provinsi ini.

Tanoto Foundation juga berkolaborasi dengan lembaga internasional. Misalnya, melalui hibah USD 2 juta kepada World Bank dalam Multi Donor Trust Fund (MDTF) for Indonesia Human Capital Acceleration (IHCA) yang sebagian digunakan untuk mendukung pelatihan 72.636 Kader Pembangunan Manusia yang direkrut oleh pemerintah.

Hibah USD 200 ribu juga diberikan kepada UNICEF Indonesia untuk menerjemahkan dan mengadaptasi instrument pengukuran Early Childhood Development Instrument (ECDI) dan Caregiver-Reported Early Development Index (CREDI) untuk Indonesia.

Dalam hal pendidikan, keluarga Sukanto Tanoto, melalui Tanoto Foundation telah memberikan beasiswa kepada para mahasiswa di Indonesia. Selama kurun 2005-2020, Tanoto Foundation telah meluluskan 156 mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia.

Profil Sukanto Tanoto

Nama Sukanto Tanoto tidak asing lagi. Bahkan, dia masuk dalam deretan daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes. Melansir dari Forbes, Sukanto memiliki kekayaan sebesar USD 1,4 miliar atau senilai Rp 19,6 Triliun (kurs 14.011 per dolar AS). Dengan nominal kekayaan tersebut, Sukanto berada pada peringkat ke-22 dari daftar 50 orang terkaya di indonesia tahun 2020 dan peringkat 1.730 sebagai miliarder dunia 2020.

Dikutip dari tanotofoundation.org, Sabtu (13/2/2021), Sukanto Tanoto Seorang pengusaha, visioner, dan pelopor di sejumlah industri global, Sukanto memulai bisnis pertamanya pada tahun 1967, kemudian mendirikan Royal Golden Eagle (RGE) yang saat ini mengelola sekelompok perusahaan manufaktur berbasis sumber daya dengan aset melebihi USD 20 Miliar dan lebih dari 60.000 tenaga kerja.

Bisnis ini meliputi empat bidang operasional utama: pulp dan kertas (APRIL - Asia Pacific Resources International Holding Ltd dan Asia Symbol), minyak kelapa sawit (Asian Agri dan Apikal), rayon dan pulp khusus (Sateri International dan APR), dan energi (Pacific Oil & Gas).

Pria yang lahir pada 25 Desember di Medan ini mengawali perjalanan bisnisnya sebagai seorang supplier/kontraktor suku cadang tahun 1967.

Walaupun harus mengakhiri pendidikan formalnya akibat penutupan sekolah dan kondisi ayah yang sakit, ia lanjut membantu menjalankan bisnis keluarga di usia 17 tahun.

Seiring bisnisnya berkembang ke daerah pedalaman, Sukanto Tanoto semakin yakin untuk memberdayakan mereka yang kurang beruntung agar menjadi mandiri dengan fokus meningkatkan kualitas dan akses terhadap pendidikan. Inilah yang menjadi cikal bakal pendirian Tanoto Foundation bersama sang istri, Tinah.

https://kitabisa.com/campaign/bantuandaruratsulbar