Fakta-Fakta Tata Niaga Pangan Amburadul, Awal Tahun Banyak Masalah

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta - Di awal 2021 banyak permasalahan di sektor pangan yang bermunculan, diantaranya harga kedelai yang mahal sehingga menyebabkan harga tahu dan tempe melonjak naik. Kemudian harga telur anjlok, pasokan daging sapi yang langka, serta adanya kebocoran beras impor dari Vietnam.

Selain itu juga harga cabai rawit merah yang melambung hingga menyentuh angka Rp 100 ribu per kg.

Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut fakta-fakta terkait masalah tata niaga pangan yang amburadul di awal tahun yang dirangkum oleh Liputan6.com, Minggu (31/1/2021):

1. Harga Telur Anjlok Jadi Rp 16.000-Rp 17.000 per kilogram.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi mencatat saat ini harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional turun drastis menjadi Rp 16.000-Rp 17.000 per kilogram.

Harga tersebut jauh di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp 19.000- Rp 21.000 per kilogram dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen.

"Artinya saat ini kita rugi Rp 3.000per kilogram. Dengan harga antara Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu ini jauh di bawah HET," kata Ki Musbar, pada Kamis 28 Januari 2021.

Menurutnya penyebab anjloknya harga telur ayam. Salah satu penyebab turunnya harga telur ayam tersebut adalah kebijakan pembatasan kegiatan di masyarakat. sehingga serapan di wilayah Jabodetabek dan Bandung turun.

"Yang harus diluruskan terkait anjloknya harga telur ayam ialah akibatnya turunnya serapan di daerah Jabodetabek dan Bandung. Itu pemicunya," tegasnya.

Selama ini Jabodetabek dan Bandung memang daerah penyumbang penjualan telur tertinggi di Indonesia. Porsinya mencapai 60 persen dari produksi telur nasional.

"Kenapa bisa sampai 60 persen. Karena di kedua wilayah itu banyak aktivitas sosial dan ekonomi otomatis konsumsi akan telur akan lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya," jelasnya.

Adapun faktor penyebab turunnya serapan telur di pasar Jabodetabek dan Bandung tak lepas dari berbagai pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial yang dilakukan secara estafet selama pandemi Covid-19 berlangsung. Sehingga membuat pergerakan konsumen menjadi terbatas dan kemampuan daya beli masyarakat tak kunjung pulih.

"Seperti sekarang nih, ada PPKM diperpanjang mulai 26 Januari hingga 8 Februari, setelah sebelumnya PSBB. Ini otomatis ibu-ibu jadi terbatas ke pasar dan membuat daya beli juga terus tertekan," terangnya.

2. Harga Kedelai Mahal

Pekerja menuang kedelai rebus saat proses pembuatan tahu di Jakarta, Senin (4/1/2021). Setelah melakukan mogok produksi selama 1 hingga 3 Januari 2021 akibat naiknya harga kacang kedelei impor, kini para perajin tahu mulai kembali beroperasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja menuang kedelai rebus saat proses pembuatan tahu di Jakarta, Senin (4/1/2021). Setelah melakukan mogok produksi selama 1 hingga 3 Januari 2021 akibat naiknya harga kacang kedelei impor, kini para perajin tahu mulai kembali beroperasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kenaikan ini dipicu lonjakan harga kedelai di pasar internasional. Harga kedelai di Indonesia yang biasanya Rp 7.000 sempat naik menjadi Rp 9.000 hingga Rp 9.300. Pada Desember 2020, harga kedelai dunia tercatat sebesar USD 12,95 per bushels, naik 9 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat USD 11,92 per bushels.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kenaikan harga kedelai disebabkan peningkatan permintaan konsumsi dari China, negara importir kedelai terbesar dunia. Indonesia yang menjadi negara importir kedelai terbesar setelah China pun, merasakan dampak dari kurangnya pasokan komoditas tersebut.

Akibatnya, kenaikan harga kedelai menjadi beban bagi para perajin tahu dan tempe, yang terpaksa meningkatkan harga jualnya.

Indonesia Country Director Consultant to U.S. Soybean Export Council, Ibnu Eddy Wiyono, pada Kamis (14/1/2021) mengatakan kenaikan harga kedelai impor dipengaruhi dua faktor dari sisi supply (pasokan) dan demand (permintaan). Saat ini, Amerika Serikat (AS), Brasil, dan Argentina merupakan produsen kedelai terbesar dunia dengan penguasaan pasar 90 persen.

Pertama, permintaan Tiongkok terhadap kedelai AS meningkat tajam. Salah satunya disebabkan sebagai janji kepada Donald Trump untuk lebih banyak membeli kedelai AS.

Dari sisi pasokan, hanya AS yang sedang panen kedelai dan memiliki cadangan cukup untuk diekspor. Di sisi lain, persediaan kedelai di Brasil dan Argentina menipis sehingga harus memenuhi kebutuhan domestik.

Kementerian Pertanian (Kementan) akhirnya mengunci harga komoditas kedelai dari importir menjadi Rp 8.00 per kilogram (kg). Sehingga para pengrajin tahu, tempe atau olahan kedelai lainnya bisa membeli kedelai dengan harga Rp 8.500 per kg.

"Harga kedelai dikunci Rp 8.000 dari importir, sehingga jatuhnya Rp 8.500 per kilogram untuk para pengrajin," kata Ketua Puskopti DKI Jakarta H. Sutaryo usai menghadiri rapat bersama Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa 5 Januari 2020.

Penguncian harga kedelai ini berlaku selama 3 bulan ke depan. Selain itu akan dilakukan operasi pasar demi menjaga stabilitas harga kedelai di pasaran di tengah tidak stabilnya pasokan kedelai impor.

Mendag Muhammad Lutfi memprediksi harga kacang kedelai dunia masih menguat hingga Mei 2021. Harga kedelai diharapkan kembali normal pada Juni setelah negara importir melanjutkan produksi.

Lutfi mengatakan, harga kedelai saat ini USD 13 per bushel. Ini harga tertinggi dalam enam tahun terakhir.

3. Daging Sapi yang Langka

Seorang pria tidur di los pedagang daging yang kosong akibat aksi mogok pedagang di Pasar Kebayoran, Jakarta, Rabu (20/1/2021). Aksi mogok jualan para pedagang daging sapi sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas tingginya harga daging sapi sejak akhir 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Seorang pria tidur di los pedagang daging yang kosong akibat aksi mogok pedagang di Pasar Kebayoran, Jakarta, Rabu (20/1/2021). Aksi mogok jualan para pedagang daging sapi sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas tingginya harga daging sapi sejak akhir 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) memutuskan menghentikan aktivitas perdagangan daging sapi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek). Imbauan mogok jualan sementara ini berlaku sejak 19 Januari malam hingga 22 Januari 2021.

Mogok jualan tersebut disebabkan gejolak harga daging sapi potong. Pedagang mengeluhkan Harga Pokok Penjualan (HPP) daging sapi di tingkat Rumah Pemotongan Hewan (RPH), dan distributor yang terlampau tinggi. Sehingga keuntungan yang diterima pedagang menjadi sangat tipis.

Harga sapi jenis bakalan pada Juli 2020 sudah mencapai posisi USD 3,6 per 1 kg bobot hidup. Memasuki Januari 2021, harga sapi bakalan per 1 kg bobot hidup mengalami kenaikan USD 0,3, atau menjadi USD 3,9 per 1 kg. Menurut Ketua APDI, Asnawi, kenaikan harga terjadi sejak Juli 2020 sampai Januari 2021 sudah mencapai Rp 13 ribu per kg pembelian sapi bakalan dari Australia.

Menindaki hal tersebut, Kemendag disebutnya melakukan pertemuan dengan pihak importir, dan mendapatkan informasi bahwa harga daging sapi telah naik sejak dari negara asal yakni Australia.

"Dari negara asal di Australia mereka juga mengalami kenaikan, yang 6 bulan lalu masih antara USD 2,8 per kg daging sapi berat hidup, ini harga di kisaran USD 3,78 per kg," kata Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto pada Jumat 22 Januari 2021.

Kemendag mencoba tawarkan solusi jangka pendek dan panjang dalam mengatasi harga daging sapi ini. Dalam jangka pendek, asosiasi pedagang sepakat untuk berjualan lagi mulai Jumat (22/1/2021) dengan harga wajar. Kemendag dan asosiasi mengetahui masih ada satu perusahaan yang menyediakan stok daging sekitar 17 ribu ton.

Dalam jangka panjang, Kemendag berkoordinasi dengan Kementan meningkatkan produktivitas petani untuk mendorong populasi sapi. Selain itu juga mencari sumber-sumber importir baru.

4. Beras impor Vietnam bocor

Seorang kuli angkut menurunkan beras dari atas truk di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Senin (25/9). Pedagang beras Cipinang sudah menerapkan dan menyediakan beras medium dan beras premium sesuai harga eceran tertinggi (HET). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Seorang kuli angkut menurunkan beras dari atas truk di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Senin (25/9). Pedagang beras Cipinang sudah menerapkan dan menyediakan beras medium dan beras premium sesuai harga eceran tertinggi (HET). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Beras Vietnam dilaporkan masuk ke pasar tradisional Indonesia dengan harga Rp 9.000 per kg. Harga beras tersebut lebih murah daripada beras yang diproduksi petani Tanah Air yang dijual rata-rata Rp 12.000 per kg.

Kehadiran berat Vietnam ini dinilai akan berdampak buruk pada petani lokal yang sedang dalam proses masa tanam. Bila dibiarkan maka harga beras saat panen akan jatuh, dan membuat petani rugi besar.

Dirjen Tanaman pangan, Kementan, Suwandi mengakui memang ada laporan dari masyarakat terkait impor beras tersebut. Tim Kementan pun sudah melakukan peninjauan ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC).

Suwandi menegaskan pihaknya tidak menerbitkan rekomendasi beras impor. Sehingga dipastikan impor beras Vietnam itu bukan dilakukan pemerintah.

Ia menegaskan temuan beras impor ini telah diproses Bareskrim Polri untuk ditindaklanjuti. Sampel beras sudah diambil untuk dilakukan pengecekan.

Lebih lanjut, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada pekan lalu menyoroti komoditas bawang putih. Sebab, salah satu bumbu dapur favorit masyarakat Indonesia ini berpeluang besar untuk mengalami kenaikan harga pada awal tahun ini.

Wakil Ketua KPPU, Guntur Saragih, mengatakan potensi terjadinya kenaikan harga bawang putih tersebut tak lepas dari lambatnya proses penerbitan Surat Persetujuan Impor (SPI) oleh Kemendag. Masalah ini berpotensi membuat kelangkaan bawang putih kian besar.

Proses pengurusan impor bawang putih dinilai bisa dilakukan lebih longgar. Sebab, jumlah petani bawang putih di Indonesia masih relatif kecil.

Oleh karena itu, KPPU meminta pemerintah untuk lebih mempermudah proses impor bawang putih. Mengingat percepatan impor sangat diperlukan untuk memastikan supply tetap terjaga di pasaran.

Harga Cabai Rawit Tembus Rp 100 Ribu per Kg

Permintaan yang banyak untuk cabai di awal ramadan membuat harga cabai mengalami kenaikan, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Jumat (19/6/2015). Harga Cabai Rawit naik dari harga Rp16 ribu menjadi Rp20 ribu/kg. (Liputan6.com/Yoppy Renato)
Permintaan yang banyak untuk cabai di awal ramadan membuat harga cabai mengalami kenaikan, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Jumat (19/6/2015). Harga Cabai Rawit naik dari harga Rp16 ribu menjadi Rp20 ribu/kg. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp 100 ribu per kilogram (kg) di awal tahun tahun ini. Wajarnya, harga cabai rawit merah ada di kisaran Rp 40 ribu per gram.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menjelaskan, harga cabai rawit merah sudah mulai merangkak naik sejak akhir Desember 2020.

“Nah cabai rawit merah ini sejak akhir Desember 2020 sudah kami prediksi akan naik harganya pada Januari 2021. Cabai rawit merah merupakan cabai yang di luar dugaan sekarang sudah tembus di angka Rp 100 ribu,” kata Abdullah kepada Liputan6.com, Rabu 6 Januari 2021.

Alasan kenapa harga cabai rawit merah melambung adalah pasokan cabai rawit merah yang minim. Hal ini bisa terjadi karena memang petani tidak produksi. Kenapa petani tidak produksi? Karena 4 bulan lalu harga cabai rawit merah sempat jatuh.

“Biasanya begitu ritme petani, kalau jatuh harganya mereka tidak mau tanam lagi. Disinilah letak bukti bahwa Kementerian tidak aktif dalam melakukan upaya mendorong agar produksi tetap aman,” tegasnya.

Menurutnya yang seharusnya belum memasuki masa panen, tapi cabai rawit muda sudah dipanen dan diperjual belikan. Sehingga inilah yang saat ini menjadi persoalan, padahal masih diperlukan masa tunggu panen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: