Fakta Mengerikan Tragedi Berdarah Idul Fitri di Camp Yarmouk Tripoli

Bayu Adi Wicaksono

VIVA – Lebih dari 60 pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional atau GNA tewas dalam serangan besar-besaran yang dilancarkan pasukan Tentara Nasional Libya atau LNA di Camp Yarmouk, Tripoli.

Tragedi berdarah ini terjadi tepat di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah, Sabtu 24 Mei 2020.

Kondisi pangkalan militer terbesar di Libya itu benar-benar mengerikan, puluhan mayat ditemukan bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan.

LNA menyerang pangkalan militer hanya beberapa jam setelah pasukan GNA berhasil merebutnya. Saat LNA membombardir Camp Yarmouk, pasukan GNA masih sedang merayakan kemenangan atas keberhasilan mereka merebut pangkalan militer itu.

Namun faktanya ternyata serangan itu bukan serangan biasa tapi memang sebuah jebakan. LNA mengklaim memang sengaja menjadikan Camp Yarmouk sebagai lokasi jebakan untuk membantai pasukan GNA. Tak hanya Camp Yarmouk wilayah Hamza juga dijadikan ladang pembantai.

"Angkatan bersenjata menargetkan mengumpulkan kelompok-kelompok GNA di dalam Camp Yarmouk dan Hamza, setelah menempatkan mereka dalam penyergapan ketat dengan memikat mereka di dalam Camp Yarmouk," kata LNA dalam siaran resminya.

Menurut LNA, serangan itu tak hanya menyebabkan puluhan pasukan GNA tewas. Namun, LNA juga menangkap tentara bayaran GNA yang berasal dari Suriah.

"Serangan itu menyebabkan sejumlah besar orang tewas di antara kelompok-kelompok kerumunan, dan unit kami telah menangkap 12 tentara bayaran yang memegang kewarganegaraan Suriah," kata LNA.

Baca: Tragedi Berdarah Idul Fitri, Puluhan Mayat Bergelimpangan di Tripoli