Faktor DNA juga mempengaruhi tingkat stres kita, bukan cuma akibat beban kerja

·Bacaan 4 menit
<span class="caption">DNA juga mempengaruhi daya tahan individu menghadapi tekanan sehari-hari. </span> <span class="attribution"><a class="link rapid-noclick-resp" href="https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-in-front-of-macbook-313690/" rel="nofollow noopener" target="_blank" data-ylk="slk:Photo by energepic.com from Pexels">Photo by energepic.com from Pexels</a></span>
DNA juga mempengaruhi daya tahan individu menghadapi tekanan sehari-hari. Photo by energepic.com from Pexels

Di sebuah kelas, dosen memberikan tugas, praktikum, dan ujian yang sama untuk semua mahasiswa. Walau bebannya tidak berbeda dan kelihatannya standar pada kegiatan perkuliahan, rupanya level stres yang dialami para mahasiswa berbeda-beda. Apa penyebabnya?

Riset eksperimental saya di Bandung menunjukkan bahwa faktor genetik merupakan salah satu elemen yang mempengaruhi kemampuan seseorang mengelola stres saat menghadapi tekanan sehari-hari.

Dengan penelusuran varian genotipe dari DNA methyltransferase 3A (DNMT3A) atau enzim yang terlibat dalam proses metilasi DNA – varian gen yang mengatur respons terhadap rangsangan stres– pada 129 subjek sehat, riset ini menunjukkan ada hubungan DNA dan stres kehidupan sehari-hari.

Ke depannya, riset model skrining ini dapat dipakai untuk menganalisis dan membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental yang dirasa berkepanjangan. Sampai sejauh ini, riset ini merupakan yang pertama dari topik korelasi antara variasi genotipe dan tekanan psikologis di Indonesia.

Ini riset pendahuluan

Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan menunjukkan gangguan depresi, salah satu jenis gangguan jiwa, dapat dialami oleh semua kelompok usia. Pada rentang kelompok usia 14-24 tahun, menurut riset tersebut, gangguan depresi terjadi pada 6,2% dari populasi tersebut. Semakin tua, gangguan depresi meningkat, pada kelompok usia 75 tahun ke atas mencapai 8,9%, usia 65-75 sebesar 8%, dan usia 55-64 sebesar 6,5%.

Riset saya menjadi relevan karena tingginya angka gangguan jiwa di Indonesia. Riset pertama ini merupakan riset eksperimental dengan melibatkan 129 subjek sehat di Bandung pada 2017. Mereka berusia di atas 18 tahun, tanpa riwayat gangguan jiwa, tidak sedang dalam pengobatan antipsikotik atau antidepresan, dan tidak sedang menjalani terapi psikologis.

Peneliti mengambil sampel darah subjek dan menguji sampel tersebut dengan tes PCR untuk melihat pola gen. Dari data itu, peneliti mendapatkan informasi distribusi subjek dengan genotipe CC (normal) sebesar 13,95%, CT (heteromutan) 81,4%, dan TT (homomutan) 4,65%. Variasi genetik berpengaruh nyata terhadap kondisi stres kehidupan sehari-hari pada subjek sehat Indonesia. Karakteristik sebagian besar subjek dengan genotipe CT dan TT diklasifikasikan dalam kondisi stres.

Untuk mencari hubungan varian genetik DNMT3A dan stres kehidupan sehari-hari peneliti menggunakan Skala Distress Psikologis Kessler (K10). Skala ini sudah dikenal sebagai kuesioner untuk menentukan tingkat stres kehidupan sehari-hari dan biasanya digunakan dalam survei kesehatan tujuan umum. Semua peserta mengisi kuesioner yang memuat 10 pertanyaan.

Frekuensi dalam kuesioner K10 digambarkan dalam 5 poin dengan tanggapan: 1) sangat sering, 2) sering, 3) kadang-kadang, 4) pernah, dan 5) tidak pernah terjadi. Tanggapan ini diberi skor 4-0 dan dijumlahkan untuk menghasilkan rentang skor 0-40. Skor di bawah 20 menunjukkan tidak stres, 20-24 sebagai stres ringan, 25-29 sebagai stres sedang, dan 30 sebagai stres berat.

Berdasarkan kuesioner ini diketahui bahwa sebagian besar subjek (74,4%) kondisinya stres (ringan, sedang, dan berat). Hasil riset ini berbeda dengan penelitian serupa di Belanda yang menunjukkan bahwa pembawa sifat serupa kurang terpengaruh oleh peristiwa stres sehari-hari.

Kejadian gangguan jiwa meningkat pada usia semakin tua berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, namun dalam penelitian ini subjek adalah usia 18 tahun dengan kejadian stres yang cukup tinggi (74%).

Respons terhadap rangsangan stres dapat dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan, kecenderungan genetik, dan mekanisme epigenetik. Epigenetik adalah studi yang mempelajari perubahan karakter individu yang disebabkan adanya modifikasi selain perubahan genetik, misalnya modifikasi molekul asam nukleat, protein histon yang mengemas DNA, sehingga hal itu dapat memengaruhi jumlah protein yang dihasilkan.

Mekanisme epigenetik mengatur ekspresi beberapa gen yang terlibat di dalam struktur dan fungsional perubahan di otak.

Tingkat reaktivitas emosional terhadap stres kehidupan sehari-hari bergantung pada individu. Tingkat reaktivitas emosional yang lebih tinggi menunjukkan gejala gangguan psikologis.

Meski data riset ini berasal dari populasi yang masih sedikit, namun sudah terlihat bahwa kejadian variasi genetik cukup signifikan mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap stres. Dengan demikian, laporan kejadian gangguan jiwa di Indonesia yang cukup tinggi memang berbasis kejadian variasi genetik.

Manfaat praktis

Riset seperti ini bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Maksudnya, jika secara genetik seseorang tahu bahwa dia memiliki daya tahan kejiwaan yang tidak begitu kuat, dia bisa mengukur beban pekerjaan yang masih mampu diselesaikan dalam waktu tertentu.

Jika merasa berat dengan sebuah tugas, dia bisa memecah tugas itu menjadi bagian yang lebih kecil-kecil atau lebih sedikit dan menambah waktu penyelesaian.

Saran dari hasil penelitian ini untuk riset yang akan datang adalah menambahkan pasien dengan gangguan psikologis sebagai pembanding dengan subjek sehat. Hal ini juga untuk mengkonfirmasi keterlibatan variasi gen DNMT3A dalam kerentanan stres kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan variasi genetik secara individual dapat meningkatkan kesadaran seseorang terhadap pemicu yang dapat menambah stres. Tidak hanya beban pekerjaan, tapi juga pemicu lainnya seperti masalah keluarga. Dengan mengetahui kemampuan diri untuk menghadapi pemicu stres dalam kehidupan sehari-hari, maka hal ini dapat meningkatkan kualitas hidup kita.

Artikel ini terbit atas kerja sama The Conversation Indonesia dan Pusat Keunggulan Iptek Perguruan Tinggi Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, situs berita nirlaba yang menyebarluaskan pengetahuan akademisi dan peneliti.

Baca juga:

Melisa I. Barliana tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel