Faktor Egaliter Dinilai Bisa Bikin Erick Thohir Gaet Suara Pemilih Milenial

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, dinilai menjadi figur yang disukai kalangan anak muda atau milenial. Menurut Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo, faktor yang melandasinya lantaran berbagai capaian itu didapatkan berkat gaya kepemimpinan konsisten menerapkan nilai-nilai egaliter. Satu hal yang tidak banyak dimiliki oleh figur-figur lainnya.

Dampak itu bahkan turut mampu membuat Erick Thohir mendapat berkah elektoral yang sangat kuat. Di mana di hasil survei, dia digadang sebagai calon wakil presiden (Cawapres) paling kontributif.

"Pemilih milenial kan suka orang tidak birokratis. Sosok egaliter itu ada di Pak Erick," kata Ari dalam keterangannya kepada wartawan, Jakarta, Selasa (22/11).

Di samping itu, Erick Thohir dalam penilaiannya juga terus mencatatkan kinerja mentereng dalam memimpin Kementerian BUMN sampai sekarang. Kerja-kerja besar yang terus ditunjukkan menciptakan banyak manfaat bagi masyarakat.

"Kinerjanya (Erick Thohir) cukup baik," imbuh Ari.

Hal itu semakin terlihat, kata dia, dari berbagai keberhasilan yang diraih pada kepemimpinan Erick Thohir di BUMN. Pengungkapan berbagai kasus korupsi berhasil terbongkar berkat komitmen anti korupsi yang sudah dibangun sejak awal.

Kondisi demikian, tentu menjadi bukti hadirnya kinerja Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) selama ini. "Sekarang target presiden untuk Pak Erick Thohir ini bagaimana mereformasi dan mentransformasi BUMN di samping bersih-bersih," tandas Ari.

Sebelumnya diberitakan, Lembaga Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat pemilihan umum atau Pemilu 2024 mendatang akan didominasi oleh kaum generasi Z dan milenial, yang rentang usianya 17-39 tahun mendekati 60 persen berdasarkan periode survei pada 8-13 Agustus 2022.

"Proposi pemilih muda yang rentang usianya 17-39 tahun ini diprediksi akan mendekati 60 persen," kata Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes saat diskusi publik di Auditorium CSIS, Jakarta, Senin (26/9). Dikutip dari Liputan6.com.

60 persen tersebut berasal dari penduduk Indonesia berusia 17-39 tahun yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Dengan latar belakang mempunyai hak pilih sebesar 688 dari 1.192 sampel Pemilu 2014 dan sebesar 981 dari 1.192 sample telah melakukan Pemilu 2019. [cob]