Faktor Sosial dan Struktural Pengaruhi Kesenjangan Rasial dalam Kematian Covid-19

·Bacaan 1 menit
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Kesenjangan rasial dalam kasus kematian Covid-19 di AS dikaitkan dengan faktor sosial seperti pendapatan, pendidikan dan akses internet. Demikian menurut temuan dari studi dari Rutgers University.

Studi yang terbit di Journal of Racial and Ethnic Health Disparities itu menyoroti perlunya kebijakan kesehatan masyarakat yang membahas rasisme sstruktural.

Para peneliti menyelidiki hubungan antara kasus Covid-19 dan kematian di 2.026 daerah (county) di AS dari Januari hingga Oktober 2020 dan faktor penentu sosial kesehatan, yang dapat meningkatkan risiko infeksi dan kematian.

Selain itu, mereka juga melihat faktor-faktor yang diketahui atau diperkirakan, memengaruhi hasil Covid-19.

Itu termasuk kepadatan populasi daerah, hari-hari sejak kematian pertama Covid-19, dan persen penduduk yang berusia di atas 65 tahun, serta penduduk perokok atau yang memiliki penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, penyakit paru obstruktif kronik atau tekanan darah tinggi.

Menurut studi tersebut, kematian Covid-19 di daerah-daerah itu selama periode waktu pemeriksaan meningkat, ketika ada peningkatan 1 poin persentase dalam 1 persen penduduk kulit hitam, orang dewasa yang tidak diasuransikan, bayi dengan berat lahir rendah, orang dewasa tanpa ijazah sekolah menengah, serta tingkat penahanan dan rumah tangga tanpa internet.

Tingkat kematian di daerah miskin

Lebih lanjut, tingkat kematian Covid-19 di daerah-daerah paling miskin secara sosial ekonomi mengalami peningkatan 67 persen.

Michelle DallaPiazza, penulis utama dan profesor di Rutgers New Jersey Medical School, mengatakan persentase rumah tangga tanpa internet, yang memberikan informasi terbaru tentang pandemi dan memungkinkan kerja dan pembelajaran jarak jauh, dan persentase orang dewasa tanpa ijazah sekolah menengah, merupakan faktor yang paling terkait dengan tingkat kematian Covid-19 di suatu daerah.

"Penemuan ini konsisten dengan sejarah ketidakadilan kesehatan pada populasi terpinggirkan, khususnya orang kulit hitam Amerika," kata DallaPiazza.