Fame Story: Olvah Alhamid dan Realita Pahit Diskriminasi di Dunia Hiburan

·Bacaan 10 menit

Fimela.com, Jakarta Sekelumit cerita menarik tentang dunia hiburan datang dari Olvah Alhamid. Perempuan yang lahir di Kaimana dan besar di Timika, Papua ini telah meraih berbagai pencapaian mengagumkan di dunia modeling maupun kegiatan-kegiatan humanis.

Mendapat predikat Puteri Indonesia Papua Barat dan masuk 5 besar Puteri Indonesia, Olvah juga menjadi perempuan Papua pertama yang meraih gelar Puteri Indonesia Perdamaian pada 2015. Setahun berselang ia mengambil banyak pengalaman dan pelajaran saat mengikuti Miss Eco Universe 2016 di Kairo, Mesir. Karier modelling Olvah bahkan melambung hingga ke New York, Amerika Serikat sebelum kembali ke negara kelahiran.

Namun di balik kisah indah itu ada luka menganga yang masih dirasakan Olvah hingga sekarang. Ia mengaku kerap menjadi sasaran stereotip dan perlakuan diskriminatif dari pelaku dunia hiburan yang ia geluti. Hatinya teriris karena justru di tanah kelahiran, ia mendapat perkataan yang tidak semestinya.

Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)
Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

"Saya sering ditanya orang di manapun, seperti di jalan atau di supermarket bahkan saat casting, 'Kamu Papua, kok cantik?'. Awal-awal saya cuma senyum tapi lama-lama saya ngerasa itu bukan compliment, menurut saya itu menyinggung. Emang orang Papua tidak ada yang cantik?," cerita Olvah Alhamid dalam wawancara Eksklusif dengan FIMELA belum lama ini.

Kisah yang disampaikan Olvah membuka mata jika stereotip dan diskriminasi masih ada di sekitar kita. Karenanya perempuan 31 tahun ini memberanikan diri untuk bersuara, untuk mewakili saudara maupun saudarinya yang memilih diam karena minder maupun merasa kurang punya wadah untuk didengar.

"Saya pikir ini munafik banget kita memperjuangkan orang lain di luar negeri, Black Lives Matter atau apapun itu, sementara di Indonesia sendiri masih terjadi diskriminasi," tegasnya.

Dalam sesi ini, Olvah Alhamid juga banyak berbagi cerita tentang suka duka dalam meniti kariernya sebagai model, cara menghadapi insecurities dan menguak sebuah mimpi besar. Apakah itu? Simak kutipan wawancara selengkapnya berikut ini.

Diksriminasi di Negeri Sendiri

Perjalanan karier Olvah Alhamid sedari awal ternyata penuh ups and downs. Berasal dari keluarga yang sangat perhatian tentang pendidikan, keinginannya menjadi model tak serta merta direstui keluarga.

Olvah mengenang momen ketika meyakinkan orang tua, sampai akhirnya mendapat restu untuk menekuni dunia yang ia cintai. Namun di tengah jalan ia terhadang oleh diskriminasi dari sesama warga Indonesia sendiri.

Halo, apa kabar Olvah. Bagaimana kabar kamu di tengah pandemi ini?

Alhamdulillah aman, sehat. Hikmah pandemi lebih banyak sih buat saya secara pribadi, karena kemarin pas lockdown di Papua, saya jadinya lebih lama sama keluarga, which is never happened, ngga pernah lagi semenjak saya meninggalkan Papua 2004. Saya paling pulang ke Papua setahun sekali pas Lebaran, paling seminggu dua minggu lah. Trus kemarin pas pulang umroh, jadi sekitar lima setengah bulan di sana.

Untuk pekerjaan, banyak yang harus saya tolak apalagi kaya sekarang banget yang tiba-tiba naik lagi, saya ada empat sampai lima job yang saya bilang maaf, saya tidak bisa. Karena kita merasa jadi orang paling aman, tapi sebenernya nggak aman juga kan.

Seperti apa kehidupan masa kecil kamu sebelum menjadi model?

Saya lahir di Kaimana, tapi kampung halaman saya di Timika. I feel like anak-anak 90an itu anak-anak paling beruntung sedunia karena mengalami transisi, dari nggak punya hape sampai punya hape, sampe yang technologized banget kan. Saya merasakan main gundu, di Papua bilangnya kelereng ya, main gobak sodor, kasti, main tali. Pokoknya kita semua di Papua mengalami segitu banyak kegiatan di daerah, dan itu sangat menyenangkan.

Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)
Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Abah saya itu seseorang yang menurut saya sangat pintar, cerdas. karena beliau tahu jika kita sekolah di Papua, kita nggak akan semaju orang Jawa, orang Jakarta. Kami semua disekolahkan di laur Papua agar bisa bersaing, terbuka wawasannya. Memang papa saya melihat apa yang tidak dilihat orang tua zaman itu. Dan saya beruntung sekali karena pendidikan di kami itu sangat-sangat wajib. Kamu mau ngapain terserah kamu, tapi kasih orang tua kamu S1.

Bagaimana awal mula kamu terjun sebagai model? Ada pertentangan dari orang tua?

Dulu saya lebih suka memfoto, lama-lama kok jadi lebih suka difoto ya, hehe. Trus pas di Belanda cobain photo modeling di sana, pas pulang ke Indonesia adik bungsu saya yang minta saya ikutan Puteri Indonesia. I didn't see myself doing that, nggak pernah punya pandangan bakal jadi Puteri Indonesia.

Saya ini break the rules banget, keluarga saya nggak ada yang pernah jadi model. Keluarga saya tuh doktor, management, Akmil, trus saya tuh anak UI. Orang tua mendambakan saya untuk jadi dosen, karena dari dulu nilai saya selalu bagus.Lalu saya dudukkan orang tua saya, saya bilang 'Abah, Mama kalau saya model dan saya punya penghasilan baik, penghasilannya halal, tidak merugikan orang, apa yang salah?' Setelah itu akhirnya nggak pernah lagi ditanya-tanya lagi.

Seperti apa pengalaman modeling di New York dan di Indonesia, apa perbedaannya?

Waktu di Belanda saya belum profesional ikut agency gitu-gitu, nggak sebesar waktu saya di New York tahun 2018-2019. Selama modeling di luar negeri saya nggak pernah mendapat diskriminasi sama sekali. Apalagi di Belanda, kalau saya tidak salah ingat, rasisme di sana itu dipenjara. Jadi orang tidak ada yang rasis karena takut. Hak asasi manusia sangat diperjuangkan di sana. Di Eropa lain pernah jadi korban rasisme, tapi di Belanda tidak pernah.

Kalau di Amerika malah ditanya orang mana. Saya sering dikira orang Dominican Republic, Brazil atau Barbados. Tidak pernah tindakan rasis sama sekali.

Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)
Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Apa pengalaman pahit yang kamu rasakan saat mencoba berkarier di Indonesia?

Saya tidak bilang semua, tapi saya cukup sering casting untuk film. Saya kan bukan typical yang putih kaya di iklan. Saya kan harusnya masuk tipe Timur atau Papua. Saya sering ditanya orang di manapun, seperti di jalan atau di supermarket bahkan saat casting, 'Kamu Papua, kok cantik?'. Awal-awal saya cuma senyum tapi lama-lama saya ngerasa itu bukan compliment, hal yang sepertinya memuji menurut saya itu menyinggung. Emang orang Papua tidak ada yang cantik?

Ketika casting saya diberi kalimat kaya gini, 'kamu sulit main film di Indonesia karena kamu Papuanya terlalu cantik. Ada yang bilang 'Wah kamu cantik banget Papuanya. Di Indonesia kamu sulit main film di Indonesia, kayanya kamu harus ke luar (negeri). Soalnya kita carinya Papua yang biasa aja.

Saya langsung ngomong, permisi, Papua yang biasa aja tuh gimana? Bapak mainnya kurang jauh nih pak. Ke Papua sekali-sekali, lihat orang Timur, Maluku, NTT, Sulawesi ini cantik-cantik dan ganteng-ganteng banget. Kenapa kok yang biasa-biasa aja yang diangkat. Beliau cuma bisa jawab, 'Ya begitulah entertainment di Indonesia," Makanya saya ingin angkat topik ini, kalau saya nggak masuk di tipe A, nggak masuk tipe B, trus saya masuk ke mana?

Ini kan diskriminasi ya. Itu sih yang saya sangat kecewa, sehingga saya nggak mau casting lagi. Saya nggak tau apa yang akan mereka bilang ke saya, apakah dengan kata-kata seperti ini lagi, atau bagaimana. Dan itu sangat menyakiti perasaan saya karena saya ingin membuktikan kalau Papua itu bisa di industri entertainment, tapi kenapa sih kaya susah banget, saya dipersulit banget. Casting beratus-ratus kali, pengen nangis kalo ngomongin ini, it's so emotional. Saya juga ingin menyampaikan di tahun 2021 ini, hal-hal kaya gini masih terjadi di sekitar kita.

I Won't Stop!

Butuh keberanian yang hebat untuk berani bersuara seperti yang dilakukan Olvah Alhamid. Tentu akan ada suara-suara sumbang maupun cibiran yang ia terima, tapi ia tak merasa gentar, walau sebagai perempuan ia juga punya rasa insecure dalam dirinya.

Unggahannya yang viral ditonton lebih dari 1,5 juta kali membuatnya yakin jika ia bisa membawa angin segar perubahan. Perjuangan ini siap ia bawa ke medan yang lebih luas lagi, dengan rencana yang sudah ia siapkan.

Apa yang membuat kamu berani untuk bersuara tentang isu ini?

Jadi saya pikir kalau tidak ada satu orang bersuara, kalau kita tidak membuat perubahan sekarang, kapan gitu. Orang selalu bilang, Timur itu nanti, belum saatnya. Dari dulu ngomongnya belum saatnya, trus kapan Timur ini bisa diangkat, diberikan kesempatan yang sama. Saya tidak menuntut kita menang setiap ada kompetisi, tapi ketika ada yang potensial dari Timur, jangan hanya fokus pada mayoritas. Kalau saya digituin saya nggak peduli, tapi kan nggak semua orang kaya saya yang bisa nggak peduli.

Ini sudah waktunya, ini tahun 2021 di mana-mana diskriminasi udah nggak ada, ini kok masih ada aja. Saya masih dibilang *maaf* monyet dengan rambut seperti ini di mall loh. Bayangkan betapa munafiknya belain sana-sini, tapi di Indonesia sendiri masih didiskriminasi.

Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)
Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Orang melihat Olvah sebagai sosok yang tegas dan berani, di balik itu apakah kamu punya insecurities?

Orang-orang selalu bilang Olvah ini pede banget di depan umum. No, gue juga grogi cuy. Sebenarnya saya masih demam panggung, cuma saya senyumin jadi akhirnya hilang sendiri. Itu triknya.

Kalau masalah mata saya masih suka nggak mau ngeliatin orang kalo nggak kenal. Setelah saya usia 20an tahun, saya sadar orang yang insecure itu orang yang belum tau how to deal with it. Kalau mau tidak insecue kita harus berani menerima diri kita apa adanya, kekurangan kita apa, kelebihan kita apa, selalu bersyukur dengan apa yang kita punya, itu akan membuat kita lebih pede. Saya tidak bilang orang yang operasi plastik mereka tidak bersyukur dengan hidupnya, tidak. Saya cuman menghimbau bahwa semua orang punya kekurangan kok. Jadi jangan membandingkan diri dengan orang lain. Dan jangan mengikuti beauty standard, karena jika mengikutinya, berati kita mengiyakan bahwa ada beauty standard itu kan.

Dengan semua pengalaman pahit yang kamu lewati, apakah kamu akan berhenti memperjuangkan karier?

Orang-orang yang mendiskriminasi saya, orang-orang yang mencoba menjatuhkan saya, good luck with that. I'm not gonna stop!

Belakangan isu tentang beauty standard kembali jadi bahasan panas di dunia digital, pendapat kamu seperti apa?

Menurut saya gini, punya standar kecantikan pribadi itu wajar-wajar saja. Siapapun berhak mempunyai standar kecantikan. Tapi tidak memberi hak kepada siapapun untuk menghina orang. It's not fair, karena di dunia ini bukan cuma orang yang langsing aja yang hidup. Ada juga yang badannya curvy, petite, tidak terlalu tinggi, jadi kalau seandainya ada beauty standard, kenapa Tuhan menciptakan beragam manusia di muka bumi ini.

Dari tipe rambut, warna kulit, bentuk tubuh ini kan beda-beda banget. Di Indonesia saja beda banget, apalagi di internasional. Apa itu beauty standard? Menurut saya nggak ada beauty standard. Kecantikan itu on the eye of the beholder, karena ini selera kan. Saya bilang ke dia, emang kenapa kalo dia kulit hitam atau gemuk, trus dia nggak boleh meraih mimpinya? Siapapun di dunia ini berhak meraih mimpi.

Kalau kita tidak bisa membantu seseorang untuk meraih mimpinya, setidaknya kita tidak menjadi pembunuh mimpi orang lain.

Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)
Olvah Alhamid untuk Fame Story (Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Apa pesan yang ingin kamu sampaikan kepada masyarakat Indonesia, dan kepada saudara-saudari di Timur?

Siapapun yang berada di lapangan pekerjaan apapun itu, tolong banget ingat bahwa simbol negara kita itu kan Pancasila ya, kita Bhinneka Tunggal Ika, tolong ingat ini baik-baik. Tolong berikan dari Sabang sampai Merauke kesempatan yang sama, karena keberagaman kita itu sangat luar biasa, dan kita harus bangga dengan itu. Jangan membunuh percaya diri orang-orang yang mau coba.

Dan untuk adik-adik Indonesia bagian Timur, coba aja. Jangan berhenti mencoba karena orang bilang kamu nggak bisa. Harus terus coba untuk buktikan bahwa mereka salah.Memang saya paham banget kita merasa tidak dilihat dan diberi kesempatan. Tapi percayalah kesempatan itu akan ada kok suatu saat nanti. Yang penting sekarang kita semua saling dukung untuk bikin gebrakan anti-diskriminasi ini. Terus berjuang, gagal itu biasa kok. Orang yang gagal itu bukan orang yang mencoba dan tidak bisa. Gagal itu orang yang stop mencoba.

Kamu menulis di media sosial tentang keinginan menjadi seorang menteri, apa yang ingin dicapai?

Aamiin. Sebenarnya saya tidak berpikir untuk masuk politik. Saya cuma berpikir bikin perubahan, gebrakan supaya dilihat Indonesia. Cuman teman-teman, sahabat saya sangat mendukung, termasuk keluarga juga. Mereka bilang 'pemikiran kamu ngeliatnya terlalu ke depan, menganalisa, sampai kadang kita nggak nangkep'. Karena banyak banget orang yang dukung, sehingga saya Insyaallah mau coba.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel