Famestory Cathy Sharon, Percaya Diri dan Taklukkan Apapun

Famestory Cathy Sharon, Percaya Diri dan Taklukkan Apapun, (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Famestory Cathy Sharon, Percaya Diri dan Taklukkan Apapun, (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Fimela.com, Jakarta Di era yang begitu terbuka di mana informasi sangat mudah didapat, juga terbukanya kesempatan untuk menujukkan diri, banyak yang menyebut jika masa ini adalah sebuah keberuntungan terlebih untuk para perempuan. Ya, jika dibandingkan dengan masa sebelumnya di mana perempuan begitu di batasi, saat ini siapa saja bisa menjadi center of attention dengan potensi dan kesempatan yang dimiliki.

Namun saat menjadi pusat perhatian, tak sedikit orang yang kemudian kehilangan rasa percaya dirinya karena kritik yang berdatangan. Bicara soal kritik, meski tak selamanya buruk menurut Cathy Sharon setiap orang, khususnya perempuan, harus membiasakan diri untuk menerimanya sebagai sesuatu yang positif.

"Kita sebagai perempuan harus bisa melatih otak, kenapa? Karena perempuan pada saat kita bercermin, kita adalah kritik terpedas terhadap diri kita sendiri, kita pada saat bercermin kita nggak pernah loh ngomongin yang positif dulu," ucap Cathy Sharon saat berbincang bersama FIMELA, Rabu (14/9/2022).

"Sebenarnya yang paling jahat itu adalah diri kita sendiri. Perempuan tuh kalau mau julid bisa julid banget, terjulid pada diri sendiri," katanya sambil terkekeh. "Jadi, kita harus bisa melatih otak kita untuk lebih positif, untuk apa? Otak itu adalah otot juga dan kita harus bisa melatih otak kita setiap hari, self affirmation, ngomongin hal yang positif terhadap diri kita sendiri," tutur aktris yang juga seorang entrepreneur.

Hal tersebut tak lain dilakukan dengan tujuan agar seseorang bisa menghadapi suara negatif, ketakutan juga rasa tak percaya diri. "Saat ada suara-suara seperti itu (baiknya) kita melakukan hal yang positif, mau itu baca, melakukan kegiatan sosial, hang out atau kita menghabiskan waktu dengan orang orang yang membangkitkan kita, yang membuat kita lebih banyak belajar, lebih banyak berpikiran positif," tambah Cathy.

BACA JUGA

Famestory Rachel Amanda, Mengenal Diri dan Menikmati Proses Kehidupan Famestory Vira Talisa, Autentik Menjadi Diri Sendiri Famestory Dea Ananda dan Ariel Nidji, Perjuangan Panjang dan Kesabaran yang...

Dari sekian banyak karier yang dijalani, Cathy mengaku menjadi seorang ibu adalah peran yang begitu berkesan untuknya. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Dari sekian banyak karier yang dijalani, Cathy mengaku menjadi seorang ibu adalah peran yang begitu berkesan untuknya. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Pemikiran tersebut pun Cathy tuangkan dalam bisnis kosmetiknya, SADA by Cathy Sharon, yang kini menjadi salah satu brand lokal favorit perempuan Indonesia.

"Dan di SADA makanya kita pakai kata “SADAR” ya, ayo perempuan tuh harus sadar, kamu tuh bisa melakukan apapun yang kamu mau. Pokonya kalau kita punya keinginan itu kita harus kejar dan harus disiplin," ujarnya dengan semangat.

Bicara soal karier Cathy Sharon, perempuan 39 tahun ini tak hanya dikenal sebagai seorang model atau pembawa acara, tetapi juga sebagai aktris, produser, hingga pebisnis. Menariknya, dari berbagai bidang karier yang ditekuni, Cathy justru paling menyukai perannya sebagai seorang ibu.

"Menjadi seorang ibu dong," ucap Cathy. Diakui ibu dua anak ini, ia begitu menikmati perannya meski begitu menantang, menyita waktu, dan tak ada waktu istirahat bahkan hari liburdalam menjalankan perannya.

"Menjadi seorang ibu itu adalah sebuah kebahagiaan terbesar yang ada dalam hidup saya, tapi cahallenging juga. Jadi kalau dibilang yang bener-bener ngena dalam hidup saya ya menjadi seorang ibu. Sampai sekarang dan sampai seterusnya itu adalah role, "topi" yang harus saya kenakan sampai akhir hidup saya," tuturnya.

Kepada FIMELA, Cathy Sharon pun banyak berbagi pandangannya tentang perempuan juga keseruannya membangun brand kosmetik lokal yang begitu digemari pasar. Singkat namun berkesan, berikut ini adalah petikan wawancara FIMELA bersama Cathy Sharon.

Perempuan dan Kebahagiaan

Menggeluti dunia yang dicintai menjadi alasan Cathy Sharon selalu bersenang hati menjalani beragam profesinya. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Menggeluti dunia yang dicintai menjadi alasan Cathy Sharon selalu bersenang hati menjalani beragam profesinya. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Beragam peran dijalani Cathy Sharon dengan senang hati, tak lain hal itu dapat terjadi karena ia melakoni sesuatu yang ia cintai. Di usianya yang kini hampir kepala empat, Cathy pun menjadi sosok panutan, juga leader yang mengajak karyawannya tumbuh dan berkembang bersama di bawah payung SADA.

Kebahagiaan apa yang Cathy dapatkan saat bekerja?

Kebahagiaan yang saya dapat saat bekerja, saya rasa saya bekerja dalam sebuah bidang yang saya cintai, jadi it doesn’t feel like working for me. Kalau misalnya kita mau mencari sebuah pekerjaan we have to love our job. When you love your job, pada saat kita datang pagi-pagi kita tuh ga ngeluh “duh harus kerja”.

Kita harus berhenti mengeluh, that’s the thing. Pada saat kita datang kita happy mau kerja, misalnya saya datang ke kantor saya happy, saya ketemu anak-anak kantor juga saya senang banget, ngomongin pekerjaan, ngomongin konten, ngomongin produk, ngomongin plan untuk kedepan, mimpi-mimpi kita bersama seperti apa, itu yang menjadi kaya bensin untuk hidup saya.

Menurut Cathy, hal apa yang bisa membuat perempuan bangkit di tengah kerasnya kritik dan tuntutan?

Kita sebagai perempuan kita harus bisa melatih otak, kenapa? Karena perempuan pada saat kita bercermin, kita adalah kritik terpedas terhadap diri kita sendiri, kita pada saat bercermin kita nggak pernah loh ngomongin yang positif dulu.Sebenarnya yang paling jahat itu adalah diri kita sendiri. Perempuan tuh kalau mau julid bisa julid banget, terjulid pada diri sendiri. Jadi, kita harus bisa melatih otak kita untuk lebih positif, untuk apa? Otak itu adalah otot juga dan kita harus bisa melatih otak kita setiap hari, self affirmation, ngomongin hal yang positif terhadap diri kita sendiri.

Saat ada suara-suara seperti itu (baiknya) kita melakukan hal yang positif, mau itu baca, melakukan kegiatan sosial, hang out atau kita menghabiskan waktu dengan orang-orang yang membangkitkan kita, yang membuat kita lebih banyak belajar, lebih banyak berpikiran positif.

Dengan cara itu, saya berharap perempuan akan lebih peka dan lebih pintar untuk menggali potensi dia, karena sebenernya musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri, kalau kita bisa melawan diri kita sendiri itu kita breaking barriers.

Untuk mencapai beragam tujuan hidup, menurut Cathy semuanya harus dijalani satu persatu. Tak hanya hasil, proses mencapai goals juga menjadi bagian penting dalam hidup. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Untuk mencapai beragam tujuan hidup, menurut Cathy semuanya harus dijalani satu persatu. Tak hanya hasil, proses mencapai goals juga menjadi bagian penting dalam hidup. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Jika sedang lelah menghadapi diri sendiri, apa yang biasanya dilakukan?

Musik, dari dulu saya menyukai musik. Pada saat saya dan anak-anak bermain piano, rasanya menyenangkan bisa bermain bersama mereka memencet piano, mendengarkan lagu bersama anak-anak dan memilih "yuk kita mau belajar lagu apa biar seru?".

Itu menjadi momen-momen bahagia di dalam rumah saya bersama dengan anak-anak, membuat saya jadi kabur dari pekerjaan, dari hal-hal yang dipikirkan, atau hal-hal yang kadang saya juga suka overthinking, yang akhirnya itu menjadi break sementara bersama anak-anak.

Musik tuh menjadi sebuah pelarian, kayanya bagi semua orang deh. Musik benar-benar bisa membawa kita merasakan kebahagiaan, atau kalau lagi sedih bisa tambah sedih.

Bagaimana cara Cathy ketika menghadapi pergolakan batin dan kritik dari diri sendiri?

Setiap bulan kita (perempuan) pasti mengalami perubahan emosi dan mental yang berbeda, itu yang menjadi sebuah challenge bagi kita untuk menanganinya dengan baik. Jadi kita harus tau nih pada saat ada emosi-emosi di dalam diri kita atau pikiran-pikiran negatif kita juga harus bisa sadar ini kenapa?

Jadi kita harus bisa mengkotakkan apakah kita overthinking atau memang ini saat di bulan di mana kita memang jadi lebih mellow, dimana kita jadi lebih berpikir. Itu ada banyak faktor, menjadi seorang perempuan itu banyak rumus dan kerumitan sendiri dan kita harus bisa mengkotakkan hal-hal itu.

Dengan bertambahnya usia semoga kita juga semakin matang dan bijaksana, dan tahu bagaimana cara untuk menghadapi diri, mulai mendalami, membaca, mengerti, memahami diri sendiri apa sih yang membuat kita bahagia?

Karena pada akhirnya kan kebahagiaan itu hanya dipegang oleh diri kita sendiri, bukan faktor orang-orang di sekitar kita. Kalau kita hanya bisa bahagia pada saat orang lain melakukan sesuatu kepada kita, berarti kita tergantung pada orang lain. Kita seorang perempuan harus bisa independen, independen secara finansial, independen secara kebahagiaan. Apapun itu, kita harus bisa memegang kebahagiaan kita sendiri.

Soal perempuan berdaya, menurut Anda apa hal utama yang harus dimiliki atau diketahui?

Untuk perempuan manapun yang sedang mengalami apapun itu dalam kehidupannya, kalau misalnya ingin memberdayakan dirinya melakukan sesuatu, my advice would be pelan-pelan saja, step by step. Punya goal itu penting, tapi bagaimana cara untuk mencapai goal.

Nggak usah berharap bahwa hal itu akan terjadi secara instan dan jangan berkecil hati pada saat itu tidak terjadi secara instan, justru yang penting itu bukan goal-nya tapi bagaimana caranya, journey-nya, apa yang kita lewati setiap hari untuk mencapai goals itu, kemenangan-kemenangan kecil setiap hari yang kita dapatkan. Jadi benahi hidupnya pelan-pelan, apapun itu aspeknya. Satu-satu saja nggak usah semuanya sekaligus, yang ada kita nanti (mengeluh) “nggak mungkin gue bisa”. Kalau misalnya pelan pelan tapi pasti, saya rasa anybody can do it.”

Meraih Perhatian Pasar

Kecintaan masyarakat terhadap brand lokal  membuat Cathy Sharon merasa berada di jalur bisnis yang tepat. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Kecintaan masyarakat terhadap brand lokal membuat Cathy Sharon merasa berada di jalur bisnis yang tepat. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Menggeluti bisnis kosmetik, hal itu dilakukan Cathy bukan tanpa alasan. Keputusannya untuk membangun sebuah brand kosmetik pun diakui Cathy menjadi hal yang tepat, di mana kini merek lokal mendapatkan perhatian besar di pasar dalam negeri.

Sukses menggeluti karier di indutri hiburan, apa yang kemudian membuat Cathy membangun bisnis?

Alasan utama saya adalah karena saya punya anak, dan saya ingin menghabiskan waktu di rumah dengan jadwal yang lebih flexibel. Jadi saya ingin punya jam yang benar-benar fix di mana pada jam tertentu saya bisa bersama anak anak, saya bisa tidur dengan anak, atau saya bisa sarapan dengan anak, juga mengirim mereka sekolah.

Saya merasa pada saat itu, itu yang menjadi challange buat saya, karena setiap ibu punya goal masing-masing, perjalanan seorang ibu untuk anak-anaknya itu, beda-beda ya. Untuk saya pada saat itu, saya pikir saya ingin punya income yang lebih substainable supaya saya bisa lebih lama di rumah bersama dengan anak anak. Yaudah saya berbisnis aja. Akhirnya saya bikin SADA kemudian bangun tim. Pertama kami di kantor yang lebih kecil dan sekarang SADA sudah berusia 3 tahun, kami sudah pindah ke kantor yang lebih besar, and we're growing, alhamudillah, puji tuhan ya, timnya juga berkembang dan produknya juga makin banyak.

Bagaimana persaan Cathy bisa menjadi salah satu pemain di pasar lokal yang kini banyak digemari orang?

Jujur sih saya senang banget karena pada saat pertama kali saya terjun di dunia beauty saat itu pemainnya belum banyak, termasuk lokal indie brand ya. Makin lama saya melihat teman-teman yang bikin lokal brand dan semuanya tuh keren keren banget. Saya sebagai orang Indonesia, sebagai perempuan tuh bangga dengan produk-produk kita yang bisa bersaing dengan produk-produk luar negri, internasional, bahkan luxury brand pun kita bisa bersaing gitu kan.

Kemudian banyak banget customer SADA yang kadang bilang 'Aduh Cathy thank you banget ya sudah bikin produk ini' gitu. Dia sudah meninggalkan produk yang dulunya dipakai, di mana dia kadang suka mention luxury brand juga. Jadi di situ saya pikir wah fenomena yang sekarang tiba tiba banyak sekali local brand, berarti kan we're doing something right, saya dan teman-teman lain juga enterpreneur di bidang beauty ini we're on the right track, which make me very happy and very proud.

Di usia SADA yang terus bertambah, apa harapan besar yang Anda simpan?

Saya selalu berdoa supaya saya dan SADA bisa menjadi seperti sebuah pohon beringin, di mana banyak (orang) yang bisa berteduh dan berkembang di bawahnya, banyak yang bisa blossom di bawah pohon beringin ini.

Jadi, saya selalu bilang pokoknya di SADA kami masih perusahaan kecil yang berkembang, kami seperti keluarga, kami harus kerja lebih keras lagi karena kami bukan big company, big national brand company, kan. Of course kami pasti kerjanya harus lebih keras lagi, kami harus bisa mengerjakan banyak hal.

Mungkin satu posisi harus bisa jugling beberapa kerjaan, tapi pada akhirnya akan jauh lebih rewarding karena kita ada pada saat awal, pas saat pertama bangun, jatuhnya, bangun laginya, belajar bersama-sama. Saya selalu bilang (ke karyawan), kita belajar bersama, kalau kita salah, kita salah bersama. Kalau kita benar, kita sukses, kita sukses bersama.

Sejauh ini, apa yang membuat SADA bertahan di tengah persaingan pasar kosmetik lokal?

Yang pasti SADA tidak akan berada di posisi ini tanpa teamwork dan orang-orang dibelakang SADA, yang bekerja dengan passion dengan keinginan untuk memberikan produk-produk berkualitas yang aman bagi kulit, juga bisa membuat perempuan lebih percaya diri, dan memang filosofi dibelakang SADA diambil dari kata "SADAR". Jadi kami ingin menyadarkan perempuan akan kecantikan mereka tetapi juga potensi yang ada dalam diri mereka.

Kami di SADA percaya semua perempuan cantik, punya potensi yang sangat amat banyak, tergantung bagaimana cara kita menggalinya, hingga bisa membuat perempuan percaya diri, merasakan yang namanya sukses di semua bidang, mau itu pergaulan, keluarga, profesional ataupun pekerjaan. Kami menginginkan hal itu untuk semua perempuan.

Jadi karena punya filosofi itu, kami tuangkan passion kami, cinta kami terhadap dunia beauty, hingga akhirnya kami bisa membuat produk-produk yang mudah-mudahan diterima dan disukai masyarakat di Indonesia.

Pesan dari Cathy untuk sahabat Fimela yang saat ini merasa kurang percaya diri untuk melangkah maju?

Pesan dari saya untuk sahabat Fimela, saya rasa sahabat Fimela harus lebih percaya terhadap diri sendiri. Karena saya percaya seorang perempuan kalau percaya diri itu bisa menaklukkan dan melakukan apapun dalam hidupnya, mau mimpi setinggi langit juga bisa, tapi kamu harus bisa percaya diri.

Jangan berharap orang lain percaya terhadap diri kamu, baru kamu merasa bisa melakukan sesuatu, you have to believe in yourself, once you believe in yourself then you can do it. And how you wanna do it? Kalau saya pake makeup dan lipstick saya merasa lebih percaya diri, saya merasa vibes saya lebih enak, positif, energinya lebih nyatu, dan kemudian interaksi saya dengan orang-orang juga lebih enak.

Itu buat saya pribadi, but if for you, sahabat Fimela punya cara lain misalnya dengan olahraga atau itu dengan hobi yang lain go for it! But, get that vibe, catch that vibe, believe in yourself, and just do it!