Famestory Vira Talisa, Autentik Menjadi Diri Sendiri

Fimela.com, Jakarta Bertambah usia dan menjadi dewasa adalah proses kehidupan yang tak bisa dihindari setiap manusia. Seiring prosesnya, berbagai hal pun akan memengaruhi dan mengubah setiap diri, begitu juga Vira Talisa.

Penyanyi pop retro berusia 28 tahun itu mengaku jika ia tak hanya mengalami perubahan diri, tetapi juga musiknya. "Aku enam tahun yang lalu kan nggak sama dengan aku yang sekarang, dari lingkungan yang berubah, terus pengalaman hidupnya berubah, jadi apa yang masuk di kepalaku, di hatiku tuh beda dan keluarnya pasti beda," katanya saat berbicang dengan Fimela. "Aku merasa perubahan itu pasti dan aku selalu mencoba mengeksplorasi," tambahnya.

Salah satu perubahan yang terlihat dari musik Vira Talisa ada di lagu Mejikuhibiniu yang dirilisnya baru-baru ini. Menggandeng Laze, Vira pun menyebut tak menyangka jika dirinya akan mengajak rapper berkolaborasi dalam lagunya. "Sebenarnya didasarkan dari keinginan untuk membawa sesuatu yang baru," ucap Vira soal alasannya mengajak Laze berkolaborasi dalam lagunya.

BACA JUGA

Famestory Dea Ananda dan Ariel Nidji, Perjuangan Panjang dan Kesabaran yang...

Famestory Fenita Arie dan Arie Untung, Mendekatkan Islam Pada Anak dengan C...

Famestory Marissa Anita, Menantang Stigma dengan Aksi dan Hidup Selaras di...

Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Menariknya, keputusan Vira memasukkan unsur baru ke dalam musiknya itu tak lain karena buah dari refleksi diri yang ia lakukan selama pandemi. Selain membuatnya lebih mengenal diri sendiri, hal lain yang Vira sadari adalah tak mengapa jika dirinya membuat sesuatu yang berbeda.

Ya, pandemi telah membawa diri Vira ke level yang berbeda, meski banyak pengaruh dan perubahan, Vira memastikan jika dirinya akan selalu menjadi diri sendiri, baik untuk pribadi maupun musiknya. "Menurutku kalau kita semakin dalam mengenal diri kita, karakternya akan lebih kuat," ujarnya. "Vira Talisa cuma Vira Talisa, musisi lain mereka punya entitas masing-masing, dan kalau kita meniru yang sudah ada ya sudah gitu aja. Kita kulik diri kita, menurutku itu akan lebih autentik dan orang akan lebih nengok," tuturnya.

Nyaman menjadi diri sendiri, hal menarik lain yang terungkap dari sosok Vira Talisa saat berbincang dengan FIMELA adalah keunikannya dalam menemukan ide.

"Sayangnya waktu nyetir hahaha, waktu nyetir tuh suka dapet ide 'aduh dapet ide lagi' terus melipir. Entah kenapa kalau lagi di jalan atau jogging. Aku kalau jogging sambil dengerin lagu, terus kayak langsung dapat ide. Justru kalau didudukin terus nulis malah nggak keluar," katanya bercerita sambil tertawa.

Dalam kesempatan berbincang dengan FIMELA, Vira Talisa juga menyinggung soal kolabrasinya dengan DJ asal Jepang Tomggg. Ingin tahu lebih banyak tentang Vira Talisa dan keseruannya saat berbincang dengan FIMELA? Simak wawancara lengkapnya berikut ini.

Bermusik dengan Jujur

Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Vira Talisa menjadi salah satu musisi yang menonjol dengan genre pop retronya. Vira yang menggeluti karier di dunia musik sejak tahun 2016 mengaku, jika ia menciptakan musiknya dengan jujur sesuai dengan preferensinya dan melakukannya dengan sepenuh hati.

"Genre tuh luas banget, buat aku payungnya tuh pop dengan sentuhan retro. Preferensi aku dan secara natural mengarahnya ke sana (retro). Sebenarnya bukan karena kesengajaan aku memilih ini, tapi karena preferensi aku kayak gitu jadi keluarnya sejujurnya aja," ujar Vira Talisa.

Pernah merasa kesulitan kah mengenalkan dan membawakan musik retro untuk pendengar di Indonesia?

Di awal sebenarnya nggak susah banget sih, karena sudah ada White Shoes. Aku main musik itu buat kesenangan pribadi, jadi kalau dipaksain dan aku nggak cocok bakal nggak enjoy juga. Aku kalau bermusik sih berusaha untuk jujur aja sih.

Bermusik sejak tahun 2016, merasa ada perbedaan nggak dalam musik kamu?

Ada, kayak escape aku lah, apa yang aku rasakan keluarinnya lewat musik. Aku enam tahun yang lalu kan nggak sama dengan aku yang sekarang, dari lingkungan yang berubah, terus pengalaman hidupnya berubah, jadi apa yang masuk di kepalaku, di hatiku tuh beda dan keluarnya pasti beda.

Aku merasa ada perubahan itu pasti dan aku selalu mencoba mengeksplorasi, misalkan aku dengar lagu yang aku suka, let say Kpop, aku suka Kpop tapi ini bukan gue, tapi pas aku dengerin, kulik lebih banyak lagi, ada rasa kayak 'ini kayaknya gue bisa deh eksplore ke sini'. Jadi selalu ada perubahan setiap harinya.

 

Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Itu juga yang kamu tuangkan di Mejikuhibiniu?

Kelihatan ya? Hahaha! Yang paling beda obviously karena kehadiran Laze which is seorang rapper yang aku juga dari dulu bikin musik nggak nyangka someday akan ngajak seorang rapper di lagu aku.

Mungkin kalau aku yang diundang lumayan lebih masuk akal gitu. Tapi untuk rapper masuk di lagu aku tuh, aku pun nggak pernah merencanakan sampai akhirnya itu dia sih.

Selama pandemi khususnya, aku jadi lebih reflektif, jadi lebih kenal sama diri sendiri, dan akhirnya waktu nulis Mejikuhibiniu, aku merasa lebih bebas dalam berkarya, kayaknya sah-sah saja kok kalau gue bikin sesuatu yang beda dan sampai akhirnya ngundang Laze sebagai bintang tamu di lagu ini, it's a surprise for me as well.

Sebenarnya aku juga ada tawaran dari DJ asal jepang, namanya Tomggg, terus waktu aku dikasih lagunya aku langsung 'aku bisa nggak ya? Terus itu lumayan mikirnya, lama banget, renungin melodinya tuh lama banget dan itu salah satu karya yang challenging banget buat aku, ternyata oh aku bisa masukin style aku di lagu itu.

Lagu-lagu kamu menjadi bagian dari hidup banyak orang bagaimana, perasaannya?

Lucunya, setiap aku bikin lagu sampai sekarang kayak merasa orang bakal denger nggak ya? Gitu kan. Cuma kemarin waktu aku manggung pertama kali lagi, ternyata pada nyanyi lagu yang aku rilis 2021 which is belum bisa menggung gitu, ternyata mereka denger dan waktu aku nyanyi mereka juga ikut nyanyi dengan kencang, dan aduh terharu banget.

Banyak juga yang nge-DM bilang 'betah bikin skripsi sambil dengerin album kakak', waah terharu. Hal-hal kayak gitu sih yang bikin pas males nulis tuh kayak 'ayo-ayo bikin-bikin, pasti ada yang dengar kok'.

Menjadi Autentik

Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Soal berkarya Vira Talisa menegaskan jika dirinya selalu menjalani dengan jujur dan tak memaksa. Mengenal dan mengulik diri pun disebut Vira akan menjadikan seseorang lebih autentik dan meraih perhatian.

Prinsip Vira Talisa dalam berkarya?

Prinsip dalam berkarya jangan maksa sih sebenernya, karena aku percaya kalau kita nulis, berkarya dengan jujur, nggak maksain, dan semakin mengenal ke dalam diri kita, karakternya akan lebih kuat.

Nggak perlu merasa 'ah gue harus bikin lagu yang serius, yang tentang society' tapi aku merasa nggak menguasai topik tentang itu, aku ngerasainnya hal-hal yang aku suka, yaudah nggak usah dipaksain, just because orang lain bikin hal A, kita nggak harus ngikutin itu.

Kita kan cuma kita, Vira Talisa cuma Vira Talisa, musisi lain ya mereka punya entitas masing-masing, dan kalau kita meniru yang lain kan udah ada gitu. Biarlah mereka satu-satu, kita kulik diri kita, menrut ku itu akan lebih autentik dan orang akan 'lebih nengok'.

Menurutku itu sesuatu yang perlu diingetin terus sih, karena aku merasa hal kayak gitu-gitu tuh mesti ada nggak sih? Cuma perlu diingetin terus menerus dan mencari support system.

Enam tahun menggeluti karier di dunia musik, apa pencaaian tertinggi yang pernah kamu raih?

Sebenarnya kayak manggung di mana terus dapat award itu bonus sih. Tapi bisa kenal sama orang-orangnya kayak 'ih dulu gue nonton dia di TV, sekarang gue bikin lagu bareng' kayak gitu-gitu yang 'lucu ya hidup itu'. Pencapaian yang terbesar sebenernya nggak ada yang mengalahkan saat bisa berkolaborasi dengan idola-idolaku kayak Mocca, om Chandra Darusman, itu kayak 'kok udah samapai situ aja sih'. Itu sih hal-hal yang bikin aku kayak pengen terus bermusik.

Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)
Famestory Vira Talisa. (Foto: Bambang E. Ros, D.I: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

 

Apa yang membuat kamu puas dan ingin kamu capai?

Aku simply ingin berkarier di sini selama-lamanya sih, karena maintain karier di musik itu juga nggak gampang. Orang-orang mungkin liatnya 'oh dia rilis lagu, dia bikin ini itu', cuma nggak banyak yang cerita proses di belakangnya dan aku merasa lumayan sulit untuk sampai di titik sekarang, di mana aku lagi mencoba menulis untuk album kedua.

Aku pengen pas sudah merilis, mau rilis lagi, mau rilis lagi, sebenarnya simple sih, mungkin nggak terdengar ambisius, kan ada yang 'aku pengen manggung di Coachella' karena menurut aku itu bonus sih, kita akan dapat panggung yang sesuai dengan scoop kita. Jadi kalau kita terus bermusik, nanti juga akan dapat kok bonus-bonus itu. Dan mimpi aku, aku bisa bermusik selama-lamanya.

Arti bahagia untuk seorang Vira Talisa?

Bahagia adalah bisa bangun, makan, dan hidup tanpa mikir yang sedih-sedih kali ya. kadang kita tuh suka nggak mensyukuri sehat sih, aku tuh kalau lagi sakit tuh kayak 'aduh gue mau keluar rumah aja nggak bisa'. Aku tuh gampang dihibur orangnya, jadi bisa makan enak, mandi segar tuh udah bersyukur. Sesimple itu. Bahagia adalah mensyukuri hal sekecil apapun.

Terakhir, pesan untuk para perempuan yang saat ini tengah berjuang dengan kariernya.

Aku juga merasa perjalananku masih panjang, menurutku yang paling penting itu kita jangan membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang memiliki formulanya masing-masing.

Misalnya aku mau mencontoh Michelle Obama, dia background keluarganya sudah beda, lokasinya beda, cerita hidupnya beda dan semua prosesnya tuh beda. Dia bisa menjadi dirinya saat ini aku nggak bisa menyamakan diri dengan proses dia, karena mungkin jalanku bukan di situ.

Sayangnya sekarang di social media banyak glorifikasi cerita-cerita sukses yang 'wah dia bisa di umur segini dapat ini itu, gue juga harus'. Mungkin itu bagus untuk dorongan, cuma menurut aku nggak semua orang destined to do what she does dan kita cuma perlu mengulik ke dalam diri agar tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan kesuksesan yang ingin dicapai.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel