FAO: Pertumbuhan produktivitas pangan Indonesia harus atasi stunting

·Bacaan 2 menit

Kepala Perwakilan Badan Pangan Dunia (FAO) untuk Wilayah Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal menyoroti pertumbuhan produktivitas pangan Indonesia semasa pandemi COVID-19 harus bisa mengatasi masalah stunting atau kurang gizi kronis pada anak.

"Sebanyak 27,67 persen anak Indonesia di bawah usia 5 tahun mengalami stunting, atau terlalu pendek untuk usianya, prevalensi ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata untuk kawasan Asia," kata Rajendra dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Selain permasalahan kekurangan gizi, Indonesia juga memiliki PR menangani jumlah orang dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas yang meningkat dua kali lipat selama dua dekade terakhir. Ditambah lagi obesitas pada anak juga meningkat.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan lembaga-lembaga terkait harus membuat pola makan sehat menjadi kenyataan bagi semua melalui pendekatan strategis, terpadu dan inklusif lintas sektor.

Baca juga: Gerakan melawan stunting dalam 2 tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin

"Inovasi, kearifan lokal, pemberdayaan perempuan, peningkatkan keterlibatan anak muda semuanya memiliki peran untuk dimainkan untuk mencapai yang lebih hijau, lebih adil, dan lebih baik untuk semua. Kebijakan dan undang-undang yang lebih baik, investasi, dan tata kelola yang baik dapat membangun sistem pertanian pangan berkelanjutan yang ramah lingkungan, yang lebih inklusif dan tangguh," katanya.

Rajendra menyebut, penyediaan pangan sehat bisa dimulai dari petani dengan memberikan pelatihan inovatif dan penggunaan teknologi dalam praktiknya. Selain itu juga perlu dukungan keuangan, insentif, dan perlindungan sosial agar petani dapat menyediakan pangan sehat dan berkelanjutan untuk semua penduduk.

Selanjutnya di tingkat masyarakat, semua orang harus memilih makanan yang meningkatkan kesehatan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, memilih makanan lokal, musiman, berkelanjutan, dan jangan sampai ada makanan yang terbuang.

Pada Triwulan II 2020 PDB sektor pertanian tumbuh 16,24 persen q-to-q. Sedangkan ada triwulan III dan IV 2020, PDB Pertanian tumbuh masing-masing 2,15 persen dan 2,59 persen y-on-y.

Baca juga: Peneliti: Penyederhanaan hambatan nontarif pangan bantu atasi stunting

Selama Januari-Desember 2020 nilai ekspor produk pertanian mencapai Rp451,8 triliun dan meningkat 15,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp390,2 triliun.

Peningkatan ekspor berlanjut memasuki periode Januari-September 2021, di mana ekspor pertanian mencapai Rp450 triliun dan tumbuh 45,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020, yang nilai ekspornya mencapai Rp309,58 triliun.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel